Jumat, 11 Januari 2019

Sultan Kecil: Sefruit Refleksi Menuju Tua



Kenalkan, si botak ketjil ini namanya Sultan, kelas 1 SD. Foto ini diambil beberapa saat sebelum roket air diluncurkan, yang pada saat bersamaan Sultan lari persis melintang di lintasan roket. Sehingga dengan spontan saya jadi marah-marah, khawatir campur gemash tak tertahankan.

Ujung roket, walaupun hanya mainan, perangkat percobaan, tetaplah runcing dan berbahaya kalau sampai kena mata, atau bagian tubuh lain di kepala. Apalagi dia botak!

Percaya, kan, saya jadi begitu karena khawatir? Sebab memang tipis sekali jaraknya, kawan, sementara tanggung jawab atas monster-monster cilik ini dari pagi hingga petang ada di pundak saya. Kalau hanya menangis sih biasa, kalau terluka? Saya tak bisa membayangkannya.

Sempat saya rem ceramah saya dengan istighfar biar ndak meledak, sehingga yang keluar dari mulut adalah, "Sultan, karena kamu tadi tidak mau dengar Kakak, sekarang Sultan Kakak hukum di pinggir dulu, ya." Sebenarnya belum selesai saya bicara dia sudah merengek, berkaca-kaca sambil meronta, minta dilepaskan tangannya. Alhasil saya justru makin merasa khawatir dan ... bersalah. Yawislah, saya kuwel-kuwel saja botaknya, sambil sekali lagi menegaskan, kalau mau ikut bermain, harus taat atutan. Sultan lalu mengangguk saaangat pelan. Well, stay alhamdulillah.
Di kota dalam kepala. . . . .

Bisa jadi, orangtua kita pun tak mengerti bagaimana cara tunjukkan maksudnya, bagaimana cara ungkapan resahnya, takutnya, cintanya, dalam satu waktu dengan tempo sesingkat-singkatnya. Bahkan, sebelum selesai memikirkan cara, sekejap saja, kita, bisa jadi sudah berpindah tempat.

Mereka menua sebagaimana kita. Lalu apa?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar