Senin, 28 Januari 2019

Petakan Impian!

Saya punya seorang kawan yang tidak bisa membaca peta. Bagi rider seperti saya, keadaan ini sangat tidak menguntungkan saat kami pergi bersama.

*tarik napas, tahan, sabar, jangan ngehujat*

Satu yang menurut saya paling konyol adalah saat hendak menuju rumahnya dari kampus. Saya yang hanya tahu patokan setengah perjalanan mencoba percaya padanya untuk jadi navigator. Ponsel canggih, kuota penuh, baterai aman; saya pun berkendara dengan tenang. Sampai akhirnya arahannya terasa mencurigakan, “Ma, bener ini jalannya? Lu bisa baca maps kan?” dia cuma ketawa. Hhh

Padahal kami pergi menuju rumahnya. R u m a h n y a. Perjalanan yang harusnya bisa ditempuh empat puluh menit seketika alakadabra jadi dua jam. Empat tahun kuliah dan ngekos rupanya bukan jaminan seseorang akan jadi akrab dengan jalan yang dilaluinya *sigh

Lepas dari itu, saya patut bersyukur sebab dititipkan daya spasial yang baik. Ada semacam kepuasan batin saat sampai di lokasi tujuan sesuai arahan peta digital tanpa kebablasan atau salah belok. Berangkat dari sana, saya jadi penasaran dengan navigasi darat, laut, dan udara. Kira-kira bagaimana cara mencobanya? ✌

Saya jadi ingat apa yang gmaps tampilkan saat setelah tiba di lokasi tujuan. Ada tulisan ‘selesai’ dan simbol ceklis di sebelahnya. Saya lalu terpikir, tentang pentingnya menandai posisi kita saat ini, menjajaki kembali penjelajahan yang dilalui, dan menggariskan arah ke titik tujuan. Sebab mimpi yang divisualisasikan biasanya akan menjadi kenyataan, katanya kan?

 
Karena semua pilihan akan selalu terlihat sama baiknya. Semua konsekuensinya akan membutuhkan pengorbanan. Tinggal seberapa jauh kita bertahan, untuk akhirnya tiba di tujuan. Saat itu, kita akan memandang langit dari ketinggian. Menghembuskan nafas lelah dan lega bersamaan. Bahagia, karena telah mewujudkan rencana yang terpetakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar