Sabtu, 26 Januari 2019

Perihal Doa (2)



“Rabbii innii lima anzalta ilayya min khairin faqiir. Duhai Pencipta, Pemelihara, Pemberi rizqi, Pengatur urusan, dan Penguasaku; sesungguhnya aku terhadap apa yang Kauturunkan di antara kebaikan amat membutuhkan.” lirih seorang 'anbiya.

Musa mengajarkan kita tiga hal penting dalam doanya. Pertama, bahwa hanya Allah yang layak disimpuhi kedermawanan-Nya, ditadah karunia-Nya, diharapi balasan-Nya. Melabuhkan harap pada makhluk hanyalah pangkal kekecewaan. Meminta lada makhluk hanyalah kehinaan. Bertumpu pada makhluk hanyalah kenistaan. Apapun hajat kita; besar atau kecil, berat atau ringan, penting atau remeh; hanya Allah muaranya harap, mengadu, memohon diampu.Pelajaran kedua dari doa Musa ialah adab. Bertatakrama dalam doa, pernahkah kita sebelumnya terpikirkan? Para ulama menyepakati kalimat perintah sebagai salah satu syariat berdoa, sebagaimana banyak disebut dalam kalam dan sunnah; benar dan dibolehkan. Namun beberapa Nabi mencontohkan ada yang lebih tinggi daripada boleh dan tidak boleh, melainkan patut tak patut, melainkan indah tak indah; ialah adab.

Kemudian yang ketiga, ialah Allah dengan kesempurnaan ilmu-Nya lebih mengerti apa yang diri perlukan, lebih dibandingkan diri kita sendiri. Musa menunjukkan bahwa berdoa bukanlah memberitahu Allah apa-apa yang kita hajatkan, sebab Dia Maha Tahu. Berdoa adalah seni berbincang dengan Yang Maha Kuasa lagi Bijaksana, agar terridhoi setiap yang Dia limpahkan, ambil, ataupun simpan.

Sesungguhnya aku, kamu, kita, terhadap apa yang Allah turunkan di antara kebaikan, amat memerlukan..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar