Jumat, 25 Januari 2019

Memburu Hikmah



Gambar ini, serta cerita di baliknya, udah lama banget mau dituang, tapi selalu malah dibuang, hehe

Bisa dibilang inilah salah satu episode paling berdarah-darah selama kuliah. Kalian mikirnya gimana sik, prestasi itu? Gimana memaknainya? Saya mah acuh-nggak acuh, nggak hunting, nggak tinggi jiwa kompetitifnya. Tapi malah apa ini? Ahaha

Sebagai mantan extrovert, presentasi depan kelas aja dag dig dug der. Maka ketika sadar bahwa beneran ikut seleksi, rasanya seperti bukan saya. “Kamu teh saha?” suka ditanya gitu sama kaca.

Kalau diminta nerjemahin rasa, nggak bisa. Karena menjadi perwakilan bukanlah hal ‘yaelah’, serasa ada papan nama Prodi di atas kepala yang di bawa kemana-mana. Bisanya dideskripsiin, diceritain.

Misalnya, ketika papasan sama orang terus nyapa begini, “Eh, ada Ma*res, blabla,” atau “Wih, ketemu Ma*res blabla,” atau kalimat lainnya yang tiba-tiba nyapa saya pakai kata ganti. Saat itulah masing-masing dua karung semen seakan mampir di pundak, diikuti penyusutan diri menjadi sekecil liliput.

Kali lain, waktu awal semester killer dengan mata kuliah killer yang diajar dosen killer mulai berjalan, saya ketinggalan. Keteter ngejar materi, sembari nyusun KTI. Di kosan, teman-teman diskusi dan tanya sana-sini gimana caranya ngerjain ini, saya cuma nonton dan mbisiki, “fashbir shabran jamiila,” sembari memperkokoh bendungan di pelupuk mata. Alay! Emang, wkwk

Ada beberapa rahasia dapur yang bombay, tapi ketawan banget payahnya nanti kalau dibagi. Maybe for next. Tapi sampai sini, semua sungguh saya syukuri. Termasuk kepada 2500+ laf yang menyempatkan mampir di poster diri; mendoakan dan memberi dukungan; yang saya nggak bisa nggak nangis karenanya. Maaf pisan karena belum sempat bilang makasih setelah dua tahun ini, aduh. Semoga senantiasa Allah berkahi hela nafas kita. Jazaakumullah khayran katsir 💕

Memburu hikmah amatlah berat, tapi justru di dalamnyalah ada banyak rasa nikmat. Sebab pada hakikatnya, ia terletak di dalam dada dan bersemayam di ruang-ruang rasa, maka wujud lahiriah dari berkah boleh saja beraneka warna.

Terakhir, selamat berjuang adik-adik! Sepahit apapun sekarang, manisnya niscaya di belakang. Insya Allah []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar