Sabtu, 26 Januari 2019

#MalamMingguNyiroh Yunus as: Laki-laki yang Pergi dengan Marah



Laki-laki itu pergi dengan marah.

Betapa berat tugasnya di Ninawa, betapa telah kikis sabarnya atas pembangkangan kaumnya. Malam dan siang, pagi dan petang; diajaknya meninggalkan berhala tak bernyawa dan perbuatan tak bermakna. Didekatinya seorang-seorang pun kumpulan, sepi pun keramaian. Namun yang didapatnya hanya cemooh dan tertawaan, umpatan dan makian, bahkan pengusiran. Maka ia, Yunus ibn Mata, pergi dengan marah.

Pernahkah kita? 🍃

Pergi; sebab ketidaksabaran, ketidakteguhan, ketidaktelatenan. Ia pergi sebelum Allah tetapkan berhenti. Ia menyerah sebelum Allah berkata sudah. Maka sebagai hamba yang disayang-Nya, Allah mengubah cara mendidiknya, dan cara itu adalah musibah.

Kita tahu ringkasnya, Yunus yang menumpang sebuah kapal akhirnya dibuang ke samudera setelah tiga kali muncul namanya dalam undian. Kapal yang ditumpanginya berada dalam badai yang bergulung mengerikan, sehingga ada yang berkeyakinan penguasa lautan tengah meminta persembahan –di samping terasa kelebihan muatan.

Ketetapan Allah berlaku baginya. Seekor ikan membuka mulut menyambutnya. Bahkan menurut sebagai mufassir, ikan yang melahapnya ditelan ikan yang lebih besar, lalu dengan perut terisi menuju ke laut dasar. Demikianlah, Yunus berada dalam gelap bberlapis-lapi; menangisi kelemahannya, menekuri hari-harinya, mengaku telah aniaya.
“Laa ilaaha illaa Anta, subhaanaKa, inni kuntu minazhzhaalimiin. Tiada Ilah sesembahan haq selain Engkau. Maha Suci Engkau; sungguh aku termasuk orang yang berbuat aniaya.” –QS. Al-Anbiyaa` [21] : 87

Doa Yunus, betapa sederhana. Tak ada pinta dikeluarkan segera, rajuk manja, melas iba, apalagi kalimat perintah yang pongah. Doa yang mengandung dua hal saja; merunduk mengakui keagungan-Nya, berlirih mengadukan ketidakberdayaannya.

Bagaimana doa kita? 🍃

Tidak ada komentar:

Posting Komentar