Rabu, 02 Januari 2019

Connecting the Dots

Pada suatu pagi, Steve Jobs berdiri di tengah podium, mengemban amanah untuk menyampaikan pidato kelulusan di hadapan ribuan wisudawan Stanford University. Dalam kesempatan itu, ia mencuplik sepenggal kisah masa lalu yang –mungkin– paling berkesan baginya.

Salah satunya menceritakan tentang apa yang ia sebut sebagai ‘connecting the dots’,

“You can't connect the dots looking forward; you can only connect them looking backwards. So you have to trust that the dots will somehow connect in your future. You have to trust in something —your gut, destiny, life, karma, whatever. This approach has never let me down, and it has made all the difference in my life. Because believing that the dots will connect down the road, will give you confidence to follow your heart. Even when it leads you off the well worn path.


Kalau debar jantungmu berantakan, khawatir, takut, gelisah, harap-harap cemas; akankah terbit semester sepuluh; sama.

Kalau tidurmu tak nyenyak, makanmu tak enak, trauma melihat dan/atau mengingat tanggal; akankah sempat mengejar jadwal; em, sama.

Kalau memupuk kepercayaan bahwa  skenario-Nya pasti happy ending agak gimana gitu rasanya, barangkali kita sedang disapa; eh, kamu kelamaan main-mainnya, cukup yaa, kamu lagi dirindu tu doanya. Kalih ~

Tar malem ‘temuin’, besok pagi merpus dan kerjain. DP hubungin, komunikasi jadwal ngebimb dijalin. Jangan lupa disenyumin, biar moodnya ngenakin.



Tapi wes, sesuk waelah. Saiki ndelok sing ijo-ijo sik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar