Senin, 12 Februari 2018

BPK Kawal Harta Negara: Itu Berat, Kecuali dengan Pendekatan Transparansi dan Akuntabilitas Zaman Now

Rindu itu berat?
Aku tak akan kuat?
Biar kau saja yang rasa?
Eleuh, eleuh. Meuni lebih berat kerja BPK atuh, Dilan.

Bayangkan, sebagai lembaga negara yang independen dan sejajar dengan presiden, Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) sebagai penyelenggara amanah UUD 1945 (pasal 23 E) memiliki tanggung jawab besar sebagai Pengawal Harta Negara.

Negara yang dimaksud adalah dari ujung ke ujung, timur ke barat, selatan ke utara; top-down dan grassroot sekaligus. Semuanya, seluruhnya. Jelas tidak sebanding dengan rindu yang hanya membuat hati cengeng tersedu-sedu. Dilan tahu, nggak, tentang itu?

BPK adalah pemeriksa semua asal-usul dan besarnya penerimaan negara, dari manapun sumbernya. BPK memeriksa semuanya, seluruh keuangan negara; meliputi penerimaan dan pengeluaran negara –baik berupa pajak dan non pajak, seluruh aset dan utang-piutang negara, penempatan kekayaan negara, dan sebagainya.BPK harus mengetahui tempat uang negara itu disimpan dan untuk apa uang negara itu digunakan, agar penggunaannya tepat guna, tepat sasaran. Untuk kemudian apa? Tercipta pemerintahan yang bersih sih sih dan bebas dari korupsi.

Bicara tentang keuangan negara serta upaya pemberantasan korupsi, sudah seyogyanya penyelenggaraan suatu negara melakukan pengelolaan yang transparan dan akuntabel atasnya. Sebab jika tidak, akan banyak kemungkinan terjadinya ketimpangan bahkan penyelewengan pada sektor keuangan, yang dapat mengakibatkan pecahnya krisis kepercayaan di masyarakat dan berujung pada terhambatnya pencapaian tujuan Pertiwi.

Hasil gambar untuk BPK
Gedung BPK RI
Jl. Gatot Subroto Kav. 31, Bendungan Hilir, Tanah Abang, Jakarta Pusat


Dalam rangka mengawal harta negara, BPK RI telah mengupayakan transparansi dan akuntabilitasnya melalui jejaring resminya, yakni; facebook fanspage (@humasbpkri.official), twitter (@bpkri), instagram (@bpkriofficial), dan website (www.bpk.go.id). Di antara yang dapat di akses melalui media-media tersebut antara lain ialah artikel terbaru mengenai lembaga, buku saku "Mengenal Lebih Dekat BPK", gambaran umum lembaga, sejarah pendirian hingga ke tatanan struktural pejabat yang saat ini berwenang, layanan masyarakat termasuk panduan pengaduan, kontak resmi, Hasil Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan, dan seterusnya, dan seterusnya.

Namun begitu, walaupun akses informasi sudah disajikan dengan sedemikian mudah dan rapi, tetap saja dirasa belum optimal menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Hal ini disinyalir lantaran belum ratanya minat masyarakat untuk mengetahui informasi terkait. Sebagaimana yang dilansir para peneliti bahwa minat baca Indonesia masih jauh dari harapan dan jelas perlu ditingkatkan, maka di sinilah letak irisannya, mewujud dampak akan ketidakpedulian yang berangkat dari ketidaktahuan.

Upaya membangun kesadaran ini tak dipungkiri memerlukan perhatian lebih. Dalam kaitan itulah, masyarakat perlu memiliki pemahaman cukup untuk mengenal segenap lembaga yang memiliki kewenangan dan kewajiban untuk menegakkan pemerintahan yang bersih tersebut.

Kelebihan demografis harus dijadikan kekuatan oleh Indonesia, dengan menjadikan momentum energi kebangkitan dalam bentuk-bentuk baru penyampaian informasi di era yang tenar dengan sebutan milenial ini. Hasil survey UNESCO (United Nation Education Society and Cultural Organization) menunjukkan bahwa, minat baca masyarakat Indonesia betul-betul rendah, bahkan paling rendah di Asia. Upaya untuk merangsang masyarakat agar mau membaca sedikit demi sedikit dapat ditingkatkan melalui inovasi penyampaian informasi. Jika kebanyakan orang cenderung merasa bosan jika dihadapkan dengan bacaan yang panjang berparagraf-paragraf, maka solusinya ialah mentransformasikan informasi tertulis menjadi bentuknya yang lain, yakni gambar dan/atau video.

Mengapa dua medium tersebut yang akhirnya muncul sebagai alternatif paling unggul? Tak lain dan tak bukan ialah sebab masyarakat rindu akan hal-hal yang unik dan cenderung baru. Rindu yang sedikit berkelas dan berkualitas, tentu. Melalui kedua medium tersebut, masyarakat dinilai lebih bebas mengaktualisasikan dan mengembangkan diri.

Hasil gambar untuk infografis BPK
Rupa Infografis BPK
Seiring dengan perkembangan zaman yang serba menuntut, penyajian informasi dalam bentuk digital seperti gambar dan/atau video (yang kemudian disebut infografis) lebih laku di pasaran. Di samping karena selera masyarakat menginginkan demikian; serba cepat, serba mudah, serba murah; serba instanlah, juga sebab dinilai lebih efektif dan efisien dalam rangka memperoleh pengetahuan dan informasi, didukung dengan penggunaan akun-akun hits nan kekinian yang populer digunakan, seperti Line dan Instagram. Kecuali bagi para praktisi, mereka jelas membutuhkan lebih dari sekadar poin-poin informasi yang hanya dimuat berpatok limitasi.

Dalam hal ini, peran BPK RI Kawal Harta Negara dapat dibantu oleh masyarakat berlandaskan semangat kebangsaan. Melalui distribusi informasi yang aktif dari BPK RI dalam bentuk infografis, masyarakat dapat turut serta menjadi proaktif dalam memantau kondisi aset dan harta negara. Semakin menarik visualisasi informasi, semakin tinggi pula minat masyarakat untuk mampir melirik, membaca, lalu membagikannya. Sehingga akhirnya hasil-hasil temuan BPK RI dalam mengawal harta negara dapat dinikmati sekaligus ikut diawasi oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa kendala.

Inilah wujud akuntabilitas dan transparansi zaman now yang sedang in trend-nya di kalangan masyarakat kita. Dengan menggunakan pendekatan demikian, –tanpa mengesampingkan prinsip utama BPK RI: integritas, independen, dan profesional– harapannya sinergisasi antara lembaga dengan masyarakat dapat terjalin.





Pustaka:
Buku Saku "Mengenal Lebih Dekat BPK"

9 komentar:

  1. Kerja itu berat, terlebih di BPK, maka dari itu nikmati dan syukuri..hehe

    Negara yang dimaksud adalah dari ujung ke ujung, timur ke barat, selatan ke utara; tak juga aku temukan, oh Tuhan susahnya cari kerjaan. Tah eta galau disaat cari kerja, pas udah dapet berat..hehe

    Dilan mah nggak bakal tahu soal ginian, tahunya rindu itu berat :D
    Masih musim Dilan ieu teh nya? Saya mah baca bukunya belum, apalagi nonton filmnya :D

    Bener, Teh. Masyarat itu rindu akan hal-hal yang unik dan cenderung baru. Nggak melulu rindu apa yang dikatakan Dilan. Saya rasa pemerintah bisa mengabulkannya, nggak berat asalkan mau. Berbeda dengan si Dilan. Belum juga belum udah berat, padahal kan berat itu bisa gotong royong. :D

    Semoga harapnya dapat terwujud, antara masyarakat dan lembaga dapat terjalin. Bener sih saat ini informasi sebenarnya sangat amat mudah ditemukan, terlebih di zaman now yang serta digital ini ya, Teh.

    BalasHapus
  2. Setuju banget dengan postingan ini. Terutama dengan peran BPK

    BalasHapus
  3. Dilan mah gak ngurusin negara kak. Ngurusin diri aja belum bener. :D

    Btw, tulisan yang ada isinya banget nih. BPK emang punya tugas yang berat. Karena lengah dikit aja, negara bisa rugi trilyunan. Ngeri!

    BalasHapus
  4. Kalau menurut saya yang dibenahi individunya, akhlak dan iman, serta punya rasa malu, karena tanpa kesadaran, godaan akan muncul secara tiba-tiba, sehingga orang mudah melanggar

    BalasHapus
  5. Yap,jangan berat berat mulu, kek dilan. Coba aja,siapa tahu bisa. Ya kan?

    Dan yang namanya transparansi, itu harus banget. Nggak harus rinci, namun yang terpenting iniloh segini harta negara itu, jangan biarkan masyarakat tahunya dari web/blog atau tv jaman now yang sudah tersusupi manuver politik..

    BalasHapus
  6. Mantep banget tulisannya, disaat gue lagi nulis-nulis absurd, udah ada blogger lain yang nulis untuk masyarakat melalui tulisannya yang keren.

    Dari awal, saya memang bertujuan untuk masuk hukum atau politik gitu. Jadi, memang tulisan ginian saya anggap keren banget.

    Tugas BPK memang berat, soalnya kan ngurusin uang negara yang banyak itu.
    Saya pernah cari-cari di Youtube soal utang Indonesia yang semkain membengkak, tapi kata Sri Mulyani, pelan-pelan utang Indonesia akan mengecil(intinya begitu).

    BalasHapus
  7. Aaak pengen kerja di BPK juga. Lulusan akuntansi tapi sekarang malah kerja di bidang lain.hahah padahal dulu mimpinya disitu ato gak di pajak.

    BPK juga harus jadi lembaga independen, sayangnya beberapa kali ketuanya masuk berita. Menciderai BPK aja..

    BalasHapus
  8. Hem.... Ternyata kerja di BPK itu, seru juga, ya. Bisa mengendalikan harta negara. Kan keren gitu, rasanya.

    Ngeliat kantornya, keknya tempat ini keren banget. Kapan-kapan bisalah ke kantor ini.

    BalasHapus