Selasa, 02 Januari 2018

Refleksi yang Terlupa

Apa anugerah terindah yang kaumiliki? Harta berlimpah sebagai investasi jariyah di masa yang nanti? Seorang Ibu yang bagai peri? Sahabat sejati yang tak pernah lari barang seinci? Semuanya bisa jadi.
Apa hadiah terindah yang kaupunyai? Kalau aku...


Apa anugerah terindah yang kaumiliki? Harta berlimpah sebagai investasi jariyah di masa yang nanti? Seorang Ibu yang bagai peri? Sahabat sejati yang tak pernah lari barang seinci? Semuanya bisa jadi.
Apa hadiah terindah yang kaupunyai? Kalau aku punya ini. Bendera kuning yang padanya tertera nama lengkapku ini.
Umi Kulsum pernah bertutur bahwa sepintar apapun diri kita, ketika sendirian kita tak berarti. Sekuat apapun diri kita, ketika sendirian kita lemah. Berjama'ah membuat seluruh potensi kebaikan kita melesat. Melejit melampaui batas ekspektasi. Sebab dalam jama'ah ada berkah. Berjama'ah melipatgandakan pahala, memperluas capaian kontribusi perbaikan kita. Sungguh menggugah luar biasa!
Namun pada akhirnya kita semua akan ditinggal sendirian. Mau tak mau, suka tak suka, rela tak rela.

Rasanya bisa jadi seperti angin yang tiba-tiba berganti kemarau gersang. Atau air bah dari yang tiba-tiba pasang. Sekejap saja. Menyapu semuanya.
Hadiah ini menjadi yang paling berkesan bukan karena harganya, bentuknya, proses mendapatkannya, kena cap kekinian, atau instagramable.
Ia istimewa karena kedalaman makna yang dianggitnya. Menyentuhnya terasa magis, seakan tiap helai seratnya sedang mengajak bicara, topiknya tentang jodoh bernama maut bin niscaya.
Kepastian bahwa pada akhirnya kita semua akan telak ditinggal sendirian harusnya mampu menambah keimanan, menjadi katarsis atas pedihnya kesepian, menepuk kalbu dengan hormon penenang; ini belum seberapa. HasbiyAllah. Bersama-Nya, semua akan baik-baik saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar