Senin, 01 Januari 2018

Gayung yang Tak Bersambut

Seorang kawan pernah bertanya, “Pernahkah kamu berpikir, bagaimana jika orang yang selama ini kita anggap sahabat sejati tidak berbalik menganggap demikian?” dan aku hanya bergumam tak jelas.
Tentu saja tidak pernah. Karena selama hidupku, berteman...

Seorang kawan pernah bertanya, “Pernahkah kamu berpikir, bagaimana jika orang yang selama ini kita anggap sahabat sejati tidak berbalik menganggap demikian?” dan aku hanya bergumam tak jelas.
Tentu saja tidak pernah. Karena selama hidupku, berteman ya berteman, tak ada harapan yang pernah kusematkan seperti tertular tenar, pintar, atau—entahlah, aku nihil pengamalan.
Aku akhirnya paham substansi tanya beraroma kekhawatiran itu bulan lalu. Ketika dulu ia bertanya, aku hanya berpikir jika hal semacam itu agaknya lebih banyak terjadi dalam film dan buku-buku, karena serasa-rasaku, tak ada kutemui kasus begitu.
Sebab itu kawanku menuduhku pelaku. Karena kukira bercanda, aku ladeni saja, mana tahu ternyata justru membentang spasi, memercik pertengkaran antara kami.
Hingga tempo hari aku dibuatnya tergugu. Sampai jua masaku merasakan resah itu. Ternyata begitu..

Ternyata begitu rasanya. Pantaslah banyolku kala itu bukannya bersambut malah lahirkan ribut.
Ada seorang kawan yang kuanggap salah satu yang terbaik dari yang kupunya, yang karenanya aku rela berlama-lama di depan layar demi mendesain hadiah ulang tahunnya, yang dengannya aku merasa bisa ceritakan apa saja, tak merasa berat mengutarakan tolong dengan manja, dan merespon apa-apa dengan canda yang jengkelkan dada. Tapi ternyata baginya kami tak cukup dekat untuk melakukan itu semua. Ternyata hanya aku yang begitu, yang merasa begitu. Lalu ngilulah hatiku.
Itukah yang kawanku rasakan dulu? Jika benar begitu aku sungguh—tidak menyesal telah menjadikannya lelucon, ahahah. Karena banyak hal manis sarat makna yang terlewati berdua, yang mengeratkan tali ukhuwah, mendekatkan hati bertuah.
Lalu apa untungnya buatku mengetahui itu? Salah satunya mungkin, memahami nasihat lama tentang cinta dan benci sewajarnya. Aku khidmati sedalam-dalamnya. Sadarku kemudian, barangkali ini teguran atas pengaharapan berlebihku kepada selain-Nya. Aku ternyata menyimpannya: pengharapan atas laku yang sama terhadapku dari ia yang sudah kuanggap karib itu..
Air mata kuseka. Ada banyak kejutan dari-Nya kelak di depan sana. Insyaa Allah. Kini saatnya mengamalkan hasbiyAllah sambil menyelami kedalaman makna. Bismillah...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar