Rabu, 10 Januari 2018

Dare to Inspire and Execute!

DARE TO INSPIRE AND EXECUTE! adalah tema Pemilihan Mahasiswa Berprestasi Fakultas tahun lalu, di mana kala itu saya ikut meramaikan dengan turut bertanding sebagai finalis!
Rasanya luaarrr biasa! Bahkan bisa saya pastikan bahwa itu adalah momen...
credit to: @mawapresfip

DARE TO INSPIRE AND EXECUTE! adalah tema Pemilihan Mahasiswa Berprestasi Fakultas tahun lalu, di mana kala itu saya ikut meramaikan dengan turut bertanding sebagai finalis!
Rasanya luaarrr biasa! Bahkan bisa saya pastikan bahwa itu adalah momen pendewasaan diri terbaik, setelah kegalauan studi pasca SMA.
How can? Because that event almost killin’ me inside. Awal perkuliahan saya tapaki dengan kealfaan diri dalam kelas sebab coaching dan melengkapi administrasi.
Don’t know about you when read it, but I was going frustrated. Ini keteter, itu keteter. Uang kostan, uang kuliah, uang hidup sebulan: ngalirnya ke sana semua; ngeprint ini, ngopi itu, nyetak foto, jilid KTI, beli map-materai-lem-karton-dan segala ATK yang tiba-tiba raib dari tempat pensil dan kamar.
Ya dateline tugas, ya teman kelas, amanah organisasi, tuntutan orang rumah; jadi cabang-cabang yang berdesakan penuhi pikiran —di samping beban mewakili prodi dalam perhelatan. Iya, beban. Karena ada harapan yang tiba-tiba ditimpakan pada bahu yang sempit nan rapuh ini, atas harum mewanginya nama prodi, meningkatnya eksistensi, dan citra kawan juang selatar belakang: aktivis, organisatoris.
Percayakah, tiap berpapasan dengan orang dan sapaan mereka berbunyi, “Eh, ada Mapres,” atau “Maasya Allah, Bu Mapres mau kemana?” rasanya seperti dihujam pukulan telak di ulu hati! Remuknya tak kasat mata. Membuat diri seakan mengecil sekerikil.
Ketika teman-teman sibuk saling tanya tentang pengerjaan tugas dosen-dosen killer kebanggaan, saya meringkuk bertekuk lutut di lahan kosong kamar kosan menghindari kebisingan dan tangkap tangan atas air mata yang mengalir pelan-pelan sebab ketidakmengertian pengerjaan KTI yang disyaratkan, sementara jadwal bimbingan tinggal menghitung menit ke depan.
Hingga hari H pun hadir tanpa bisa diskip barang sedetik. Alhamdulillah, I can stand with a smile, walau hati porak-poranda, haha. Saatnya hitung mundur menuju lega dan bahagia! Masa bodoh sama hasilnya.
Tapi tenyata kegetiran masih ingin menyapa. Sayangnya yang itu rahasia saking sakitnya ;p
Tapi, saya bangga pada diri karena tidak lari, sehingga bisa nikmati manisnya kini :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar