Senin, 24 April 2017

Dari Topeng ke Topeng

Bukan aku
yang kau elu-elu itu
Itu bukan aku
Kau hanya tertipu elok topengku

Sampai di sini yang harusnya paling pertama dan kurapal berulang adalah hamdallah. Syukur alhamdulillah, Allah Maha Baik, masih tutup aibku. 

Usiaku akhinya menginjak angka 21 pada akhir bulan ini. Dan aku sering mengingat bagaimana masa-masa muda madu di kampus kujalani hingga sampai di titik ini. Ada begitu banyak (perih)hal yang kusyukuri, dan tentu saja kusesali. Tapi setidaknya aku kini punya pandangan bahwa; apapun yang sudah terjadi, tidak perlu lagi disesali sepanjang sudah mengikhtiarkannya semaksimal mungkin sampai batas yang kubisa.

Kenyataannya memang demikian. Tidak segala hal yang kita inginkan pada masa-masa life crisis akan terwujud. Dan itu jangan menjadi sesal, caranya tentu dengan memperjuangkannya terlebih dulu sampai di titik batas; mastatho'tum, katanya. Bagaimana kita tahu batasnya? Ya dengan memperjuangkannya! Karena itu tidak bisa diterka, juga tidak ada panduannya. Yang bisa merasakan batas itu adalah diri kita sendiri!

Hari ini, kita berjuang tertatih sambil dipertontonkan kenyataan paling memilukan menurut sebagian besar orang hari ini: feeds instagram. Satu hal yang perlu kita pahami benar, bahwa ukuran kita tidak akan pernah sama dengan ukuran orang lain. Masa lalu, perjuangan, dan tujuan kita pun begitu. 

Perjuangan kita semakin rusak kemurniannya karena terpukau dengan apa yang tertampil di sana. Perjuangan kita semakin meresahkan karena seolah-olah tak pernah sampai, seperti apa yang kita lihat di orang lain. Tujuan kita menjadi tidak lagi murni, karena sejatinya perjuangan itu tidak perlu ditampilkan, apalagi diberitakan ke seluruh penjuru dunia. Hidup kita semakin tidak tenang karena rasa syukur kita semakin hilang, kita sibuk membandingkan dan memercik kagum dengan apa yang dicapai orang lain. Padahal...

"Apakah kalau kita tidak pernah kemana-mana, tidak memiliki kesempatan seluas orang lain, kita tidak bisa menjadi bijaksana dan bahagia? Tidak demikian, kan?" - Kurniawan Gunadi

Ini perkara sebuah perjalanan berpindah. Dari bawah. Tertatih mengidam jannah. Orang-orang menyebutnya hijrah. Sebuah sinonim dari fase hidup yang padanya kita menjelajah. Mencari, meraba, menerka arah. Kepada apakah jangkar dilempar, sauh dilepas, napas dihembus lega.
Adalah hijrah, sebuah sinonim dari fase hidup yang padanya episode payah dan lelah diputar berkali, tanpa bosan, tiada henti. Dan aku masih pakai topeng. Banyak hal di dunia ini yang ternyata mengerikan dan menakutkan. Hatiku bergetar. Harusnya imanku tegar, tapi nyatanya?

Hijrah itu tidak mudah. Susah. Amat-amatlah. Tuntutan berdasar tuntunan yang mengalir di tiap lantunan itu memang indah, tapi prosesnya berdarah-darah.

Allahku Yang Baik, aku sekarang sudah pakai hijab kalau keluar kamar kost dan menerima tamu, sudah cepat-cepat wudhu biar bisa sholat awal waktu, rajin ngelist ini itu biar nggak nyemai bibit korupsi waktu, menebar senyum buat sodara-sodari calon keluarga syurgaku meski seringnya hati justru sedang meringis tersedu, dirundung mega-mega biru, atau kadang kelabu.

Allahku Yang Baik, sampai di sini, hijrahku Kau terimakah?









Jakarta
24 April 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar