Sabtu, 01 Oktober 2016

(Nay's) Mengagumi Aksara

"Kamu tak pernah mengerti bahwa aku sengaja menulis hanya demi kamu membacanya, jadi anggap saja kamu tak pernah benar-benar tahu bahwa ada yang peduli padamu sebegitunya. Dan anggaplah pula, tentangmu--aku tak pernah mau tahu, meski aku selalu gagal melakukan hal itu." - @ajinurafifah


***


Ada satu folder khusus yang kubuat untuk menyimpan aksara. Naya membantuku menjaganya. Membantu mimilihkan mana yang sekiranya kubutuhkan di waktu-waktu tertantu.

Aku mengumpulkannya. Iya, aksara dari pelbagai pena. Milik siapa saja. Mulai dari tokoh-tokoh terkenal hingga orang yang baru saja kukenal. Bahkan pernah pada suatu kesempatan, aku menggulir tombol scroll hingga postingan habis milik orang yang sama sekali tak kukenal. Sebegitunya? Yaa, biasanya karena aku suka..

Bang Tere bilang, yang kita kagumi sebenarnya bukanlah penulisnya, melainkan apa yang dituliskannya. Bisa jadi itu benar, tapi bisa juga tidak. Misalnya, sampai detik ini pun, aku tetap akan degdegan setiap kali kita (Bang Tere-aku) berpapasan. Haha

So, what? Hari ini. Subfolder penyimpan aksara yang dijaga Naya semakin kaya. Itu artinya, semakin banyak pula bacaan menyenangkan yang bisa kubuka kapan saja demi secercah bahagia (?)

Ada yang berisi sepatah dua patah kata saja. Ada pula yang hanya sekalimat, sebait, separagraf, sehalaman, atau bahkan lebih. Mau kubacakan beberapa kesukaan? Aku tak keberatan..


Bebanmu akan berat, jiwamu harus kuat. Tetapi aku percaya langkahmu akan jaya. Kuatkan pribadimu! -Buya Hamka
Work, while they sleep. Learn, while they party. Save, while they spend. Live, like they dream.” -An athlete that I forget the name
Jika kita melihat seorang (wanita) yang begitu tangguh, kuat, dan mandiri, maka jangan lihat dia sekarang berdiri tegak di sana begitu mengagumkan. Tapi tanyakanlah, seberapa banyak hal, orang, peristiwa menyakitkan yang telah dia lewati, yang membuatnya menjadi semakin kuat. -Tere Liye
Bahkan jikalau keringat, air mata dan jiwa mereka bisa mencerahkan peradaban negeri ini maka akan kami antarkan itu semua dengan senyuman yang paling menawan. -Risalah Green Force 
Setiap kehujanan, saya selalu ingat Bapak. Yang semarah apapun, Bapak tidak pernah tidak baik. -Septi Ika Lestari
“Bukannya Allah tak tahu remuknya hati, bukannya Dia tak peduli pedihnya uji. Dia tahu kita mampu hadapi. -Anonim
Kita kesatriya yang diajarkan untuk, Handarbeni semangat geni ati segara. Hanyepengi pitutur sepuh, Becik ketitik ala ketara. Sapa gawe, nganggo. Sapa nandur ngunduh. -Okinohara 
Pulanglah malam ini, jika tak ada rumah untuk kembali. Ke hatiku saja. Bernyanyilah untukku saat ini, jika tak ada suara sekalipun. Aku mendengarmu. Duduklah di sini, jika kau lelah dan payah. Di sampingku saja. Kau boleh menangis seperti apa pun yang kau mau, jika kau sedih. Aku memelukmu. Tertawalah, saat kau bahagia atas kemenanganmu. Aku akan melompat senang, bersamamu. Taruh lenganmu di pundakku, mungkin tak ada orang yang mau menopangmu. Tapi tidak denganku. Aku mau. Katakan. Katakan saja apa gundahmu. Ceritakan. Ceritakan setiap apa yang kau simpan di hatimu. Aku tak akan mengeluh. Aku belum merasa lelah. Aku belum mau meninggalkanmu. Karena hanya aku, yang paling setia. Tinggallah di sini lebih lama lagi. Bersamaku saja. Berbagi kesetiaan.” -Robin Wijaya
Terima kasih telah mengajakku melakukan perjalanan. Meski kau tahu, denganku, langkahmu akan lebih lambat dan kau tidak lagi bebas kemana-mana sesuka hatimu. Sebab kau entah mengapa selalu berusaha menyerasikan langkah, melindungi, dan menjaga. Padahal aku tidak penah memintanya.” -Kurniawan Gunadi
“Rumah bukanlah sekadar tempat berisi kumpulan orang di dalamnya. Jika kamu kembali saat orang-orang itu tak ada lagi, maka itu bukanlah rumah.” -LPJ Faisal Ersha

Bukan yang terbaik meski sebelumnya aku menyebutnya kesukaan. Tidak ada yang terbaik. Semua sama baiknya. Karena kuhimpun hanya untuk memenuhi hasrat hati yang sering sekali berubah suasana, niatnya. Lagi sedih, bacanya yang mana. Lagi senang bacanya yang mana. Beda-beda. Tergantung sukma. Musim apa yang sedang melanda.

Mau tahu apa yang bermusim saat ini? Entahlah, aku sendiri belum berniat mendefinisi. Hanya resah-gelisah yang paling jelas bentuk wajahnya. Beberapa kakak protes mengapa aku begitu galak belakangan. Beberapa teman memastikan kesehatan. Beberapa kenalanya mempertanyakan ketidakhadiran. Beberapa lainnya memutuskan tidak bertanya, menganggap aku baik-baik saja (?)

Maka izinkan aku merilis rindu saja sebagai jawaban atas segala. Bukan dalam artian sebenarnya. Entah bagaimana mendeskripsikannya, tapi, aku hanya rindu, itu saja. Rindu musim yang lebih jelas identitasnya. Musim yang jika bahagia maka aku akan bersyukur atasnya, yang jika berduka maka aku akan tahu apa obatnya. Bukan. Bukan musim yang seperti ini. Lalu apa yang harus kubaca?

If you cloud be here...


Tapi, hei! Setelah menyebut-nyebut folder aksara yang dijaga Naya semakin kaya, belakangan ini aku justru merasa semakin miskin perbendaharaan kata. Baik bahan baca pun sesuatu yang kubuat untuk dibaca. Kalaupun ada, percayalah bahwa sulit sekali menyelesaikannya. Lebih banyak yang terlantar begitu saja.

Dan setelah pelan-pelan kutelisik, aku baru sadar bahwa ternyata aku belum benar-benar membaca. Membaca tak hanya buku, koran, berita online, dan sesuatu yang disusun dari kumpulan huruf yang merangkai kata, kan? Namun juga wajah, gerak tubuh, termasuk alam dan keadaan.

Diam-diam ada yang cemburu, padaku; pada kesibukanku, pada tugas-tugasku, pada waktuku, pada teman-temanku, organisasiku, dan seterusnya, dan seterusnya. Aku baru saja membacanya. Membaca gejalanya. Membaca tanda-tandanya. Membaca kodenya (?)

Melalui sebuah postingan di beranda line, aku ditamparnya. Kecemburuan itu akhirnya kubaca. Katanya,
"Bukan karena waktu kita yang sempit jadi tak sempat membaca. Hanya saja Alquran yang tak lagi ridho dibaca kita."
Na'udzubillahi min dzalik! Aku, menyisihkannya! Aku menyisihkan pesan Ilahi yang dititipkan pada Muhammad SAW. Ternyata kutil. Kurang tilawah. Astaghfirullah. Betapa.. Betapa... Bagaimana bisa? Harusnya... Ah, sudahlah. Melanjutkan ini hanya memupuk duka..

Aku bersyukur masih diberi resah gelisah untuk mengetahui ini. Definisi musim sudah jelas. Seharusnya sih, aku sudah tahu akan melakukan apa. Semoga bisa kulaksanakan segera..

Tapi sebelum kupergi, maukah kamu kembali ke kutipan milik Kak Apik yang membuka tulisan ini? Aku mengutipnya karena aku suka dan tak akan pernah mau menyadurnya. Apalagi terang-terangan menjiplaknya. Semenjak memiliki gudang aksara, aku semakin tegas menghindari duplikasi, memerangi plagiasi. Aku juga tidak berusaha membuat tandingannya untuk menaikkan prestise atau menguarkan citra, haha. Karena menurutku itu sudah sempurna. Mewakili sedikit-banyak yang dirasa sukma.

Hei, kamu, apa kabar? Masihkah tak mengerti? Aku sih, tak pernah berharap akan dapatkan jawaban ya, atau semacamnya darimu. Tetap seperti ini lebih baik. Aku orang di balik layar. Tidak begitu menyukai publikasi.

Jaga dirimu baik-baik. Aku nanana kamu ~

2 komentar: