Jumat, 12 Agustus 2016

Membaca Hujan dan Nasehat-nasehat Terbaik dalam Hidup

Pernahkah kalian merasa menangkap nasehat yang tak sengaja kalian dapatkan? Ibarat sedang berjalan lalu tertimpa sebongkah permata yang entah jatuh dari mana, atau tergelincir ketika sedang berlari sebab menginjak mutiara. Menemukan sesuatu yang berharga tanpa sengaja. Dipertemukan hal-hal menakjubkan tanpa rencana.

Kalau kata Mas Gun,
"Ada begitu banyak cara bagi Tuhan untuk mempertemukan. Terlihat rumit padahal sederhana. Terlihat jauh padahal dekat. Terlihat orang lain padahal kamu. Semoga Allah pertemukan kita dengan orang-orang baik." –Kurniawan Gunadi

Terlihat rumit padahal sederhana. Terlihat jauh padahal dekat. Seringkali kita terlalu sibuk mencari, tidak puas atas apa yang sudah dimiliki. Inginnya yang lebih. Lebih cepat, lebih murah, lebih mudah. Abai akan hal-hal genting yang abu-abu warnanya. Lalai akan kecil yang tak kalah istimewa terlewat jadinya.


Bukan hal yang baru, memang. Tapi kalau boleh jujur, beberapa di antaranya baru benar-benar saya pahami belakangan ini. Lewat hal sederhana yang hampir saya lewatkan.

Pagi menjelang siang. Waktu Insan Beriman. Saya bertemu seorang teman yang punya hobi ngoprek-ngoprek gadget. Kondisinya adalah: saya baru kehilangan ponsel, kemudian memutuskan untuk kembali memperjuangkan kesembuhan ponsel lama yang sedang hibernasi, kemudian saya bertemu dengannya. Kebetulan sekali bukan? Jelas bukan. Itu namanya ketetapan.

Bak dokter, ia bertanya apa saja yang dikeluhkan. Hanya sesi tanya-jawab pendek. Sampai kemudian ia berkata dengan tenangnya, "Sebenarnya belum pernah ngoprek-ngoprek Windows Phone, sih," Yang kurang saya indahkan. Untuk beberapa menit berselang saya melihat icon gear yang berputar di layar ponsel. "Ng. Tao, what did you do with...?"


Meskipun saya sudah tahu jawabannya.....
"Di-restart."
"Di-restart apa di-reset,"
"Di-reset dulu habis itu di-restart, hee,"

Tanpa ada yang mengambil alih komando, kaca-kaca pecah di mata T^T

Ponsel itu baru setengah pulih. Dan sudah sempat saya instal WhatsApp, BBM, Line, supaya tak semakin tertinggal rupa-rupa kabar dan informasi. Sudah sempat saya gunakan untuk mengabadikan momen rihlah bersama adik-adik Rohis SMA. Dan yang terterter adalah... Sudah sempat saya gunakan untuk mem-back-up mutiara dan permata yang saya temukan belakangan. Saya gunakan untuk mencari kekuatan dan penguatan. Saya gunakan sebagai kotak ajaib penyimpan obat-obatan penenang sekunder setelah Alquran. Astaghfirullah. Hilang begitu saja?

Dan fakta bahwa ia melakukannya tanpa izin rasanya seperti gelas yang sengaja dilepas. Lalu pecah setelah terjun bebas bas bas...

"Tao. Apa yang kau lakukan itu.....seperti apa yang dokter Elijah lakukan ke Lail..."

Saya sadar. Saya mengatakannya dengan nada datar. Tapi percayalah, hati saya bergetar. Begitu refleks. Iyap. Bahkan saya baru sadar kemiripannya. Antara apa yang terjadi dengan ponsel saya dan Lail yang meminta Dokter Elijah menghapus ingatannya. Maka sejak saat itu saya namai ponsel saya Lail. Bedanya, saya tak memintanya. Melainkan... Ah, sudahlah.

Terhapusnya seluruh memori Lail membuat saya keteteran. Pupus sudah kesempatan mengejar ketertinggalan. Putus sudah jalan untuk tetap berhubungan dengan rekan seperjuangan.

Yaelah, lebay banget kan masih bisa sms, telepon.
Nggak! Enggak bisa. Karena yang belum sembuh dari Lail adalah ia kehilangan seri IMEI-nya yang nengakibatkan Lail tak bisa ditanami sim card T^T

Belum selesai bersih-bersih pecahan kaca dan gelas, begitu mendadak, saya dapat kabar kalau Mbah Buyut di Jogja masuk Rumah Sakit. Divonis TBC.

Berhubung libur saya masih panjang sementara keluarga di sana rata-rata hampir senja atau punya anak yang masih kecil-kecil, maka turunlah titah untuk menjaga Mbah di sana.

Tapi saya terlambat sampai rumah. Langit sudah sempurna gelap, siap menumpahkan jutaan kubik air ke bumi Parung. Membuat setengah badan ke bawah kuyup dalam basah.

Belum selesai. Sesampainya di PO.....sepi. Menurut abang-abang tukang jamu sekitar, busnya sudah berangkat setengah jam lalu...

Ibu mencak-mencak. Kesal, kenapa ditinggal, blah..blah.., jadwalnya jam berapa berangkatnya jam berapa, blah..blah.., tadi minta nomor hp buat apa, blah blah blah,"

Tapi ndak akan mengubah apa-apa, to? Alhasil ikhtiar untuk nyusul busnya pakai angkot. Emang bisa? Kan udah ditinggal satu jam? Insya Allah. Berdoa aja. Lagi hujan. Angkot pun melaju membelah derasnya hujan. "Kita motong jalan," tukas Abang angkot semangat. Hoho

Belum. Belum selesai. Baik saya, ibu, dan si abang ceritanya kompakan lupa kalau di rute yang biasa sedang ada perbaikan jalan. Pengecoran yang baru setengah jalan memaksa para pengendara masuk dalam sistem one way macam di puncak. Uh, betapa gemasnya ~

Berselimutkan harap dan cemas di sela kemacetan, di atas rusaknya jalan, di bawah guyuran hujan, untuk sepersekian detik rasanya... Astaghfirullah, buruk sekali. Saya kalau lagi sedih memang suka bercabang kemana-mana, sering keinget yang udah-udah, kadang kebawa arus balik. Hati rasa dilanda badai, diihempas bertubi. Halah. Lelah sekali. Setelah ini apa lagi?

Ya Allah. Demi puluhan bulir hujan yang menempel di jendela, hari itu rasanya lelah sekali.

Tapi hei, memandangi mereka lumayan juga. Badai serasa mereda. Sama-sama air dan basah, iya, tapi kali ini sensasinya lain: menyejukkan, menenangkan. Allahu. Mereka seperti menuntun berdzikir. Masya Allah

Tiba-tiba, otomatis saja, kepala seakan memutar sebuah pita kaset dan berhenti di hal-hal sederhana yang kulewatkan mutiara dan permatanya. Astaghfirullah.


Mungkin selama ini saya trelalu sibuk mencari. Terlalu mematok tinggi standarisasi. Sampai yang kecil-kecil tapi manis begini terlewat begitu saja. Sayang sekali...

Mungkin selama ini masih belum adil membagi prioritas diri. Masih meluluk duniawi. Sampai yaa itu tadi. Mudah capek sendiri. Kurang ikhlas, kurang tulus, kurang fokus, kurang lurus (?)

Sibuk berenang dalam kubangan amanah formal sampai alpa menepi, mengeringkan dan menghangatkan diri dengan romantisme yang hanya bisa diperoleh melalui kedekatan dengan Sang Maha.

Akhirnya tak jarang terbesit pertanyaan-pertanyaan nggak mutu dalam qalbu, macam "Saya kan nggak paham bidang ini, "

Padahal sudah bukan lagi saatnya bertanya mengapa, tapi bagaimana. Bagaimana cara supaya amanah tertunaikan dengan baik, musibah terlewati tanpa menyisakan hati tercabik, anugerah diterima dengan penuh kesyukuran dan penuh hikmah terpetik.

"Belajar adalah kunci perubahan, keluar dari kenyamanan. Belajar berati tidak mau kompromi dengan kemalasan dan tak bersekutu dengan penundaan amal yang harus ditunaikan. Belajar berarti tidak selingkuh dengan rasa gengsi, kesombongan dan kepalsuan. Belajar berarti menggunakan segala yang ada untuk meraih prestasi, tidak mengorupsi waktu dengan kebodohan dan memubazirkan potensi dengan kesia-siaan. Belajar berarti tidak berkolusi dengan ketakutan." –Chat WhatsApp lupa siapa
Posisi tersebut mungkin memang bukan yang terburuk dalam sejarah hidup saya, tapi yaa itu tadi, justru itulah mutiara yang terlewatkan. Lewat semua hal melow yang terjadi hari itu, banyak yang bisa dipetik. Banyak banget. Manis-manis pula.

Barangkali Allah sedang mengajari kita beberapa hal sekaligus. Pertanyaannya, kita mau nggak nih, diajar langsung oleh Allah? Diperhatiin Allah. Dideketin Allah?

Rumus semuanya adalah kedekatan kita ke Allah. Maka libatkan Allah di tiap langkahnya. Karena kita harusnya paham, ini amanah nggak bisa jalan dengan baik kalau Allah nggak ngajarin apa-apa yang nggak ngerti tentang sesuatu. Jadi lewat sesuatu itulah kadang-kadang kedekatan dengan Rabb kita muncul.

Di samping itu juga jangan lupa buka mata! Buka telinga! Buka selebar-lebarnya, seluas-luasnya. Jeli melihat segala, jangan silau sama mentari. Berkilau sih, tapi tak terjangkau. Nggak perlu muluk-muluk. Cukup yang ada aja, yang dekat aja, yang sederhana aja.


Capek? Allah ciptakan malam untuk istirahatmu.
Sedih? Merasa sendirian? Laa tahzaan. Innallaha ma'anaa. YNWA. You never walk alone. Ada Allah. Ada Allah.
Butuh motivasi? Buka mushafnya. Jangan dibiarkan tenggelam dalam debu dan cemburu.

Bangun dan tampar pipi keras-keras. Jangan aleman. Belajar asertif. Jangan jadi followers. But driver. Jangan ketergantungan sama orang lain. Orang bisa berubah. Jangan. Pokoknya jangan.

Ngomong emang gampang. ngetik juga gampang. Prakteknya yang susah, kan? Maka dari itu jangan jalan sendirian! Cari teman. Gandeng saudaranya. Diajak. Belajar bareng. Insya Allah akan lebih manis lagi nanti rasanya. Nggak percaya? Cobain aja ^^v









Tidak ada komentar:

Posting Komentar