Minggu, 19 Juni 2016

Pelatihan Kepemimpinan, Masih Zaman?

Jakarta (19/06) - BEM Universitas Negeri Jakarta berhasil mengumpulkan ratusan pemuda pilihan dengan daya juang tinggi di Kampus B FMIPA UNJ, Rawamangun, Jakarta Timur. Terbukti dari sekitar 300 pendaftar, hanya 204 orang lolos seleksi berkas dan berhak melanjutkan ke rangkaian acara Pelatihan Kepemimpinan Mahasiswa Universitas (PKMU) selanjutnya.

PKMU yang tahun ini mengusung tema "Pemuda yang Dirindukan Bangsa" dilaksanakan dalam beberapa rangkaian, yang sudah terlaksana sekitar 25-30%. Alhamdulillah, PKMU I yang dibagi menjadi tiga jilid ini berjalan lancar. PKMU I Jilid 1 dilaksanakan di Aula Kampus E PGSD, Setiabudi, Jakarta Selatan. Disahkan pembukaannya dengan sambutan dari Ketua BEM UNJ, Bagus Tito Wibisono dan dipandu oleh Andri Sutomo, Kadept. Sospol Fakultas Teknik UNJ.

Materi yang disampaikan mulai pukul 13.30 WIB (Waktu Insan Beriman) pada Jumat, 17 Juni 2016 oleh M. Tri Andika, Ketua BEM UI periode 2007-2008 ialah tentang "Manajemen Isu dan Opini Publik." Beliau membuka ruang diskusi dengan membandingkan gerakan mahasiswa hari ini yang dinilai tak selincah gerakan mahasiswa hari itu. Kemudian dilanjut dengan paparan akan pentingnya isu dan opini publik sehingga perlu ada manajemen dalam pengelolaannya, menyangkut karakter isu beserta tahap pengembangannya dan apa sejatinya opini publik itu, apa bedanya dengan massa, elemen-elemen apa saja yang menyusunnya, maraknya hiperealitas, hingga dampak apa saja yang ditimbulkan.

Menurut Locke Law,
"Hukum yang dipercaya oleh publik adalah opini."
Opini seringkali dijadikan patokan oleh masyarakat untuk menilai benar atau salah terhadap akan suatu hal, di mana saat ini persepsi lebih penting dibandingkan hukum itu sendiri. Opini atau persepsi menjadi faktor strategis untuk mencapai suatu kepentingan, bahwasanya hari ini, persepsi lebih valid dari fakta.



suasana kumpul kelompok
PKMU I Jilid 1 @PGSD UNJ
masih PKMU I Jilid 1 @PGSD UNJ

Keesokan harinya, pada Sabtu, 18 Juni 2016, PKMU I Jilid 2 digelar di Aula Daksinapati Lt. 1 FIP, Kampus A UNJ dengan mengundang the fenomenal Jonru Ginting untuk membawakan materi Rekayasa Sosial. Beliau mengerucutkannya pada keterkaitan yang erat rekayasa sosial dengan perubahan. Rekayasa sosial sah-sah saja dilakukan selama pengaruh yang dibawanya bernilai positif, yakni pada kondisi-kondisi ketika suatu kondisi tampak sudah tidak bisa lagi diubah. Dalam praktiknya, rekayasa sosial memerlukan power dari jabatan, uang, ilmu, karya, informasi, inovasi, keahlian, pemikiran, teknologi, prestasi, pengabdian, dan terkahir kharisma serta senjata berupa jabatan, keahlian public speaking, tulisan-tulisan, ide-ide inovasi, dan kekuasaan. Materi ini berkaitan erat dengan materi di hari sebelumnya. Keduanya saling memberikan pengaruh. Di mana manajemen isu dan opini publik merupakan bahan baku dari rekayasa sosial.

PKMU I Jilid 2 @FMIPA UNJ

Keesokan harinya lagi, yakni pada Minggu, 19 Juni 2016 pukul 08.30 PKMU I Jilid 3 dimulai dengan menonton cuplikan film Pearl Harbour yang diputar oleh pemateri sendiri, yakni Mosses Caesar Assa, S.Pd, M.Sc dari bidang Pertahanan dan Intelejen Komisi I DPR RI. Mengapa Pearl Harbour? Karena sebagian dari scene dalam film tersebut mengandung materi yang akan beliau sampaikan. Mulai dari apa itu counter intelligent, open source intelligent, there is man behind the gun, triangle of future, future studies, bela negara, peta konflik masa kini dan masa depan, serta kupasan terkait hal-hal berbau the unpredictable intelligent lain yang begitu menarik untuk terus-terusan dikulik.


PKMU I Jilid 3 @FMIPA UNJ
masih PKMU I Jilid 3 @FMIPA UNJ
Mosses Caesar Assa, S.Pd, M.Sc

Ketiga materi yang dirampungkan dalam kurun waktu tiga hari itu nampaknya menuai kepuasan di wajah dan hati peserta. Materi begitu menarik, diskusi begitu hidup, teman baru begitu banyak, dan pengalaman-pengalaman seru yang menanti disapa. Inilah seni mencerna ilmu yang asyik. Pelatihan kepemimpinan tahun ini dibungkus dengan bungkusan yang berbeda dari tahun sebelumnya. Di akhir setiap sesi terdapat post-test untuk menguji ketajaman ingatan peserta, seberapa jauh pemahaman terkait materi, dan keseriusan saat pemapar menyampaikan suplemen materinya.

Pertanyaannya, di era MEA ini, apa pelatihan kepemimpinan masih relevan diselenggarakan? Apa tidak ketinggalan zaman? Dengan datangnya para pemateri luar biasa dan konsep super rapi panitia, rasanya siapa pun akan setuju jika jawaban yang tepat ialah masih. Pelatihan yang sudah sampai tingkat paling atas ini tentunya bukan sekadar diikuti untuk menggenapi diri dalam berproses. Bukan tempat untuk membentuk, melainkan mengasah dan mempertajam. Ditambah realita yang terjadi di lapangan, tentang bagaimana fungsi pemuda tengah mengalami degradasi. Semoga publik masih cukup peka untuk membedakan mana realita, dan mana rekayasa.

Maka dari itu, PKMU hadir sebagai solusi sekaligus upaya preventif menengahi problematika yang ada. Meruncingkan peran-peran mahasiswa sebagai agent of change, iron stock, social control, dan moral force.

Sungguh. Bangsa ini benar merindukanmu, kawan..









Karya jurnalistik ini ditulis sebagai tugas Pelatihan Kepemimpinan Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta.
Nur Aini Nilam Sari
Manajemen Pendidikan 2014
Kelompok 7

3 komentar:

  1. Bagus tulisannya, materinya keren ada evaluasi training level 2. Tinggal applicable atau gak materi sm realitanya, kereb keren!!! 😁😀😉😕

    BalasHapus
    Balasan
    1. matur nuwun, komandan serdadu kumbang. insya Allah, doakan sajo, yoo, hoho. yang hari ketiga tuh, palingn seru, kak ~

      Hapus
  2. Betul. Masih dong, pastinya.

    Lebih bagusnya sih, pelatihan kepemimpinan dilakukan sejak SMP. Itu berpengaruh banget buat kepribadian dan watak.

    BalasHapus