Jumat, 04 Maret 2016

Memeluk Naya

Dulu,
Aku sering merobek pagi untuk disimpan dalam saku
Di dalamnya kutulis rapi sederet nama
Kilahku, supaya mudah menemukan obat rindu

Halah

Kini, hanya dengan menatap langit yang penuh dengan pupuran bintang saja sudah lebih dari cukup
Hanya dengan menatap saga memercik mega
Hanya dengan menelusur liuk hujan yang jatuh di jendela, menempelkan ujung jari padanya: ikut merayakan cinta bersama semesta
Lebih dari cukup
Alhamdulillah

Aku selalu menemukan wajah menyebalkan kalian di sana
Saling tertawa mereguk manisnya jarak memisahkan kita
Tak ada pura-pura

Kita duduk berjajar di atas rerumputan sambil terus menyanyikan doa
Meronce manik-manik keakraban yang berkilauan diterpa cahaya
Hangatnya sapa mewujud angin yang mengibarkan kain bendera
Menyulut komando untuk sama-sama tersenyum melihatnya

Kebersamaan kita begitu magis. Tidakkah kalian juga rasa?
Aku takjub melihat kenangan demi kenangan yang kita lalui bersama berkelindan rapi di dada
Bahagia mengutip pelangi selepas hujan reda
Melukis indah biasnya: pereda isak, pengukir senyum, dan perona pipi alami yang terampil memekarkan bungah
Mengulum rindu di atas cakrawala senja

Tapi, kadang-kadang aku memeluk Naya. Supaya aku bisa memeluk kalian berenam sekaligus saat itu juga. Jangan tanya kenapa Naya. Kalian tahu persis jawabannya. Iya, masih sama. Karena di sana kuletakkan foto keluarga kita, di wajahnya.








Pemuda,
3/4 Maret 2016

1 komentar: