Jumat, 25 Desember 2015

Media Sosial dalam Media Center

"Handphoneku mana, Yah? Biar sambil dicharge,"
"Nanti, kan bisa nanti,"
"Aaa, sekarang aja, Yah,"
"Nanti tho, Fal."
"Oh, jadi kamu tuh mau jauh dari Bunda (baca: nginep) biar bisa main handphone, bukan main sama Mas Fahmi. Kalau gitu ngak jadi Bunda izinin deh,"

Meanwhile, gue langsung buru-buru ngunci layar and put my phone down. Memastikan tangan bersih dari gadget ._.


Keren! Selalu kagum sama cara keluarga yang satu itu 'menjaga' keluarganya. Salah satunya yaa, itu tadi. Tegas masalah penggunaan gadget. Ada waktunya, ada batasnya, nggak perlu pakai marah-marah, tapi ampuh!


"Emang enak, Mas Naufal, wlee" sindir Dika, adiknya.


Dan disebabkan beberapa faktor lain, akhirnya anak-anak itu (Naufal, Dika, dan Adel) nggak jadi nginep.


Cuplikannya simpel aja. Tentang larangan main gadget di tengah kumpul keluarga. Iya, keluarga. Mereka itu kerabat yang lagi bertamu. Punya anak tiga, kecil-kecil dan lucu. Dududu :3


Pernah dengar slogan slang tentang media sosial? Yang kurang lebih begini bunyinya, 'Mendekatkan yang jauh. Menjauhkan yang dekat.' What do you think 'bout?



what a happy family

Media yang kita sebut sosial ini on the way mewujud kebutuhan primer, atau sudah? Banyak yang nggak sadar, ketika kita membuka komputer kita, saat itulah kita justru menutup pintu kita.


Semua teknologi ini cuma ilusi, gengs. Komunitas, persahabatan, kebersamaan. Dari mana kebersamaan kalau pas kumpul semua sibuk sama ponsel masing-masing? Dari mana persahabatan kalau mata cuma bisa natap layar tanpa tahu ekspresi asli lawan bicara kita?


Haha hehe aja palsu. Berapa banyak yang benar-benar mewakili tawa asli di wajahnya? Waspada, gengs. Dunia maya itu penuh kepentingan pribadi, pencitraan, promosi diri..


Sering kita merasa jadi orang yang paling bahagia ketika berbagi pengalaman. Share moment on Path. Tweet what just happened on Twitter. Upload something to Instagram. Apa yang sebenarnya kita cari? Kebanggaan? Pujian? Pengakuan?


Kita pura-pura nggk sadar kalau sebenarnya kita justru terasing secara sosial. Sibuk merangkai kata, sampai-sampai hidup kita kayaknya indah banget gitu. Padahal, siapa yang benar-benar peduli?


Maka wajar kalau kita sering ngerasa kesepian di tengah keramaian. Wajar! Karena sejatinya, bersosial di dunia maya yaa, maya. Nggak nyata. Bahkan cenderung anti-sosial. Macam robot.


Hari ini, nggak sedikit ungkapan kecewa orang-orang berseliweran tentang betapa identiknya anak-anak dengan gadget. Taman, jalan-jalan, dan halaman sepi. Terbangnya layangan, berserakannya kapur, kayuhan sepeda, apalagi tawa mereka menjadi pemandangan yang langka.


Waktu kita terbatas, gengs. Disayang-sayanglah. Ponsel pintar, sih, oke. Tapi yang punya ponsel?


Woho! Ini sih, sekalian nampar diri sendiri. Kadang, capek juga sih, sama notif chat yang nggak berhenti-berhenti ._. Hayati lelah, Bang...



***


"Itu kumpulnya gimana dah? Itu, belakang," kata Davin.

I turn my head back, and...
"Megang hp semua,"
"Haha," I laugh spontantly. Itu mah namanya buang waktu. Buang uang. Kasian..

Nggak lama kemudian, "Best! Tau nggak sih, ini lagi ngapain? Simpen dulu, simpen, simpen,"


Itu Kak Mori, yang ngomel gegara Kak Best masih sibuk sama gadget di tengah kumpul keluarga. Keluarga? Iya, keluarga. Orang-orang sih, nyebut kami *betulin kerudung* Media Center.


Sore itu, Media Center ada agenda kumpul keluarga. Jangan ditanya agendanya ngapain aja, ya. Jelas dong, apa yang sebuah keluarga lakukan ketika kumpul?


Dan Mama Mori setali tiga uang sama Bunda Nisa (kerabat yang gue ceritain di awal). Tegas, melarang keras penggunaan gadget pas quality time keluarga. Ah, betapa gue suka ngulang-ngulang kata itu sebagai kata ganti MC: keluarga 


Kak Mori, secara nggak langsung lagi membentuk kami jadi Media Center profesional. Nggak mentang-mentang anak media, lantas sebentar-sebentar mainan media. Nggak! Enggak, enggak, enggak.


Eh tapi bukan sama sekali nggak boleh, semua ada waktunya. Upload foto di Ig, share moment di Path tetep jalan, kok. Tapi cuma sesekali di sela-sela, dan atas sepengetahuan seluruh anggota keluarga. Biar nggak salah paham. Apalagi kalau berkaitan sama MC, ada semacam dispensasi gitu, mhehe :D


Dokumentasi kumpul keluarga kami aja terbatas. Iyalah, wong foto-fotonya di ujung doang. Itu pun nggak banyak, secukupnya aja. Foto full team + kado (hasil tukeran) yang kami dapat.





Hello, here we are Media Center


this is happiness


tak pernah separuh, selalu penuh

dari kami untuk kami
(whiteboard gulung, notebook, glow in the dark doll, penguat sinyal, foto keluarga pop up 3D, flashdisk, korek api simbolis dari Eki)

Hika! Hika! Hika! Sayang banget sama keluarga yang satu itu. Sayang, dengan kata-kata yang nggak bisa diungkapkan. Nggak bisa dideskripsikan. Yang sesebel-sebelnya sama mereka, background dekstop nggak pernah ganti, nggak pernah beranjak dari foto bareng mereka (kecuali untuk keperluan acara dan pernah ngambek sekali). Nyebelin, tapi ngangenin ~

Dan kalau boleh pamer, slogan keluarga kami jauh lebih baik, "Mendekatkan yang jauh. Merapatkan yang dekat."


Mungkin nggak dibungkus dengan pilihan kata yang terlalu bagus, tapi kami tahu dan mampu menerapkan slogan yang kami buat sendiri itu :)

5 komentar:

  1. yang cerita awal-awal kayanya gue pernah baca dah di satu video apaaa gitu. wkwk
    overall keren nih (gara-gara ada nama guenya). hueheuehuehheheuehuehe, emm. serius nyentuh. ane aja punya hp banyak tp jarang make. :|

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwk, kalok mirip banget berarti terbukti emang daya inget nilam bagus *moles idung
      iya deh, yang punya fans club :)) ahahah

      Hapus
  2. Nice. Such a beautiful writing to express your feeling :-) ditunggu reuni keluarga besarnya ya

    BalasHapus