Jumat, 25 September 2015

Sakit



Halo! Apa kabar? Semoga kau lebih baik dariku.
Kau tahu, sepertinya aku sakit. Iya, sakit. Aku belum menemukan tanda-tanda sembuh dari homesick yang melandaku sejak awal semester ini, beberapa minggu lalu. Sekalipun rumah sudah kukunjungi tiap sempat berkali. Aku senewen.

Organisasi? Apalagi. Aku kabur-kaburan. Semangatku terperosok ke lubang kuburan. Aku sering dengan sengaja membuat diriku tak kasat mata di suatu keadaan. Seperti lagu yang sering mereka dendangkan, antara ada dan tiada. Jasadku memang hadir, hanya saja orang-orang nyaris tak bisa melihatku karena dalam gerak dan kata aku begitu kikir. Dedikasiku penuh pada berpangku tangan dan ongkang-ongkang kaki saja. Untuk ukuran orang yang gila berorganisasi (katamu), bukankah aku sakit sekali?

Terus terang, agaknya aku iri melihatmu merebut posisiku sebagai yang tersibuk di antara kita. Aku cemburu. Iya. Tentu bukan padamu, melainkan kesibukanmu. Tidak. Seperetinya aku cemburu pada kesibukan setiap orang. Tidak, tidak, tidak! Bukan! Sama sekali bukan. Sepertinya aku cemburu terhadap setiap hembus cinta yang kalian sisipi pada kesibukan yang sedang kalian geluti.

Cinta.

Cinta membuat kalian begitu hidup.

Lalu apakah yang salah denganku? Apakah hidup yang tak hidup ini bersumber dari kosongnya stok cintaku? Aku kemanakan saja mereka? Bagaimana harus mengisi ulangnya? Kepada siapa aku harus bertanya?

Argh. Aku sedang benci pertanyaan yang jawabannya tak instan.

Hatiku jerih. Pucuk-pucuk pikiran yang bercabang dalam kepalaku meliuk-liuk, saling melilitkan diri. Berkelindan tak rapi. Menyekat ruang-ruang berpikir jernih. Seketika perutku perih. Mataku pedih. Kudengar dari luar, sayup-sayup kumandang adzan subuh bersahutan dari langgar-langgar di sekitar.

Aku kikuk. Lekas-lekas bangun dan terduduk. Bulir-bulir keringat sembul-menyembul di dahiku. Naik turun dadaku satu tempo dengan sengal nafasku. Kupandangi jarum yang mendetakkan waktu di dinding kamarku. Genap sudah dua hari tak kuistirahatkan mataku!

Sebersit penyesalan tiba-tiba datang mengukungku. Apa yang aku lakukan? Menghambur-hamburkan waktu yang begitu mahal dengan hanya melamunkan keresahan tak terang?

But, hey, you can't undo what's been done. It's done! 

Aku mendengarnya jelas. Adzan itu. Dadaku sesak. Aku tahu. Aku dengar. aku sungguh tahu. Tuhan Yang Tak Pernah Tidur sedang memanggilku menemui-Nya, bercerita pada-Nya, tersungkur di haribaan-Nya Yang Maha.

Inikah jawaban pertanyaanku? Bahwa bukannya aku tak lagi miliki cinta, melainkan karena orientasiku yang ternyata disabotase dunia. Entah! Diri ini sungguh lelah.

I just released, that love hurts when it isn't for Allah.

Kita tak akan selalu benar dalam melakukan segala hal. Salah adalah hal yang wajar, bukan? Itulah yang membuatku ingin sekali membawa luka ini ke pusara dan meletakkan karangan kembang di atasnya. Melimpahcurahkan doa-doa dan menuangkan air mawar. Lantas berdiri, berbalik, membuka tudung hitam kepala tanda duka cita, dan berteriak sekencang-kencangnya bahwa aku telah baik saja.

Aku ingin. Sungguh ingin.
Sediakah kau mengaminkannya?
Aku akan sangat berterimakasih jika kau anggukan kepalamu.
Namun jika kudapati gelengan? Aku rasa aku akan tetap berterimakasih. Setidaknya yaa, karena telah berlapang dalam berkorban waktu(mu yang berharga) untuk mendengarkan.



Semoga senantiasa dalam lindungan.
Aamiin.


Satu lagi. Aku ingat kau pernah berkata, bahwa Sayyidina Ali bin Abi Thalib berkata,
"Tak perlu kau jelaskan tentang dirimu pada siapapun. Karena yang menyayangimu tak butuh itu dan yang membencimu tak percaya itu,"

Kau tahu, aku harap kau mengingatnya dengan jelas. Karena aku rasa aku membutuhkannya; diam dan tak menjelaskan apa-apa pada dunia.



Sekali lagi, sincerely,
yang dilanda kesakitan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar