Rabu, 15 Juli 2015

Lurus dan Rapat?



Beberapa waktu lalu, karena nggak lagi di rumah, ibadah sholat tarawih akhirnya kulaksanakan di langgar terdekat. Jama’ahnya lumayan, pikirku. Awalnya semua berjalan normal sampai suara bentangan sajadahku yang agak berisik terdengar untuk kemudian mendarat dengan khusyuk di ubin langgar, baris paling belakang. Calon  (sebutlah) tetangga sholatku ragu-ragu menoleh, aku menangkapnya dengan ujung mataku. Mungkin sedang menebak-nebak aku ini anaknya fulana siapa yang baru pulang merantau entah dari mana. Who knows?

Selesai ‘mematenkan’ area, aku lantas duduk menunggu adzan isya selesai berkumandang. Ketika jama’ah serentak berdiri untuk menunaikan rawatib, ibu-ibu di sampingku tadi justru meringkuk seperti gerakan ruku’ sambil, you know what, menarik tepian sajadahnya yang tertiban sajadahku. Hei, apa ini? Aku agak tersinggung sekaligus degdegan. Apa ibu di sebelahku ini menganggap aku…? Eh, tapi ngomong-ngomong, semua jama’ah perempuan di langgar ini also did the same! Iya, jama’ah perempuan, cuma jama’ah perempuan. Jama’ah laki-laki kulihat, ah, waktu itu sejujurnya belum kelihatan rapat atau renggangnya, belum begitu banyak yang datang, ditambah lagi karena baru rawatib, mereka memilih tempat yang terpisah-pisah dengan jarak yang jauh-jauh. Ditambah lagi jama’ah laki-laki mah pada nggak bawa sajadah. Aku masih bingung sebetulnya, tapi tetap mencoba rileks dengan mengucap maaf –dengan pelan sekali, karena suaraku sedang hilang diculik batuk, huhuhu—kepada tetangga sholatku itu.

Seselesainya, aku benar-benar tak sabar menanti apa yang terjadi setelah ini –seharusnya sih, aku pakai redaksi ‘itu’ karena menunjukkan kejadian lampau—, baik yang terjadi dengan sajadah-sajadah ini, formasi sholat, jama’ah laki-laki, dan instruksi yang biasa imam beri sebelum sholat. But can you guess what? Nihil. There’s nothing happen. Imam menggema takbir dan makmum membebek selang sepersekian detik kemudian. Imamnya kok nggak bilang, “rapatkan dan luruskan shafnya,” seperti yang biasa kudengar, ya? Biar begitu, jama’ah laki-lakinya sih, aku lihat pada geser-geser saling merapatkan kaki. Lha, tapi kok jama’ah perempuannya enggak, ya? Aku pikir bakal seperti waktu aku kecil di Jakarta dulu, gelar sajadah di mana, sholatnya di mana –karena kami geser-geser terus biar shafnya rapat. Tapi kali itu mah enggak, gaes. Kenapa aku heran dan merasa ganjil yaa, nggak lain karena aku nggak biasa longgar-longgar gini –seharusnya sih, aku pakai redaksi ‘gitu’ karena menunjukkan kejadian lampau.

Aku juga agak-agak gemes gimanaa gitu waktu menghitung berapa orang lagi yang bisa mengisi ‘kekosongan’ shaf yang renggang itu. Habis selain nggak mau ditiban, sajadah yang dipakai ibu-ibu di situ rata-rata yang lebar-lebar, yang satu lembarnya muat berdua. Tapi tenang, aku nggak sampai nggak jadi sholat, kok. Aku tetap bisa stay calm bin cool selama raka’at demi raka’at didirikan.

Aku jadi ingat-ingat lagi,  selama ini aku kalau sholat jama’ah kayak gimana, tiap imam yang kumakmumi apakah menginstruksikan shaf sholat harus bagaimana, dan hal-hal lain yang terkait. Penasaran, sepulangnya dari sana aku ajak temanku berdiskusi soal ini. Karena setahuku kalau sholat tuh yaa, shafnya rapat .-.

And here it is, menurut artikel yang kubaca, shaf yang benar ialah shaf yang lurus kemudian rapat antara bahu kita dengan bahu orang di sebelah kita, dan kaki kita dengan kaki orang di sebalah kita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Luruskanlah shaf-shaf kalian, karena meluruskan shaf termasuk kesempurnaan shalat!” (HR. Al-Bukhori, dalam Fathul Bari’ no. 723).
sumber

Luruskan shaf kalian, jadikan setentang di antara bahu-bahu, dan tutuplah celah-celah yang kosong, lunaklah terhadap tangan saudara kalian dan jangan kalian meninggalkan celah-celah bagi syaithon. Barangsiapa menyambung shaf maka Allah menyambungkannya, dan barangsiapa yang memutuskan shaf maka Allah akan memutuskannya.” (HR. Bukhori, Abu Dawud no. 666, dishohihkan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih Sunan Abu Dawud).

Jika shaf shalat renggang dan tidak lurus, maka syetan pun akan dengan mudahnya masuk ke celah-celah shaf yang kosong dan mengganggu kita dalam sholat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda,



“Rapatkanlah shaf-shaf kalian, saling dekatkan, dan luruskan dengan leher-leher kalian. Demi Yang jiwaku ada di tangan-Nya, sesungguhnya aku melihat syaithan masuk ke celah shaf seperti seekor anak domba.” (HR. Abu Dawud, An-Nasa’i, Ibnu Hibban, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).

Supaya lebih yakin, aku juga tanya ke temanku yang lain tentang hal ini. Jawabannya kurang lebih sama, Baik shaf laki-laki dan perempuan, keduanya sama, rapat (antarmakmum). Kalau kurang rapat yaa, kurang afdhol aja, nggak sampai membatalkan. Soal imam, barangkali imamnya emang nggak biasa mengingatkan, atau lupa. Dan itu nggak masalah. Yang baik gimana, ya diingatkan.


Dia juga nambahin, Nah, itu bagianmu buat gimana itu berubah jadi rapat. Jangan jangan udah kebiasaan nggak rapat. Bisa jadi medium dakwah, kan? Bisa letakkin buku tentang shaf yang bener disitu, tinggal aja. Atau kamu bikin tulisan sendiri tentang shof, tinggalin deh disitu.


Nah, itu jadi bagianku, katanya! Huhuhu PR besar :'D Tapi dikasih bonus ide, sih. Solutif sekali ^^

Ah, bahagianya aku dikaruniai sahabat-sahabat seperti mereka :')
Semoga Allah meridhoi persahabatan ini yang terus saling menasihati dalam kebaikan. Allahumma aamiin...

12 komentar:

  1. Pernah waktu lagi ujian sholat berjamaah, temenku jadi imam. Habis iqomah dia nggak bilang "rapatkan dan luruskan shafnya" pas ditanya guru jawabnya "biarin pak udah gede pasti tau" Jadi kemungkinan imam nggak bilang begitu antara dia lupa atau kayak temenku tadi.

    Aku masih bingung maksud dari redaksi di tulisan ini, redaksi berita kah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. hmmm, bisa jadi, bisa jadi. tapi kalau ternyata kita tumbuh di lingkungan yang menganggap kalimat tersebut tidak perlu diucapkan karena sudah biasa, mungkin saja kita tidak akan tahu bagaimana saf sholat kita sebaiknya. bukannya gitu? cmiiw

      ng, nein, nein, maksudnya itu hmm, lebih ke pemilihan kata, mhehe
      sebelas dua belas sama diksi ._.

      Hapus
  2. Btw, Nilam gak kenal sama tetangga2nya ya :D
    Kalo kenal mau ngomong kan jadi gampang ya.. hehe

    Masalah shaf yg nggak rapat, imam mushola di tempat gue.juga nggak ngingetin dulu sih...

    Mungkin emang mikirnya udah pada ngerti sendiri, dan masalah renggang itu sebenernya karena faktor.sajadah yg terlalu lebar, Nilam.jangan ikut2an pake sajadah gituan haha

    Tinggal PRnya dikerjain tuh, tapi tarawih udah kelar :D

    Btw, gue juga bingung masalah redaksi2 itu -_-

    BalasHapus
  3. Saya minta maaf dulu ni sebelumnya
    saya non muslim saya ga tau sama sekali tentang sholat. tpi semoga postingan ini bsa bermanfaat bagi yang lainnya. btw selamat lebaran yaa wlaupun besok tpi ga apa2kn di ucapin skrng

    BalasHapus
  4. Saya minta maaf dulu ni sebelumnya
    saya non muslim saya ga tau sama sekali tentang sholat. tpi semoga postingan ini bsa bermanfaat bagi yang lainnya. btw selamat lebaran yaa wlaupun besok tpi ga apa2kn di ucapin skrng

    BalasHapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  6. Kadang tuh udah ngerapiin dan ngerapatin shaf saat shalat, pas lagi shalat datang aja tuh orang yang mau shalat juga, tapi shafnya gak lurus gitu, kan jadinya risih juga -_-

    BalasHapus
  7. Ada yang bahas masalah ini juga ternyata. Btw, salam kenal dulu :D

    Kalau aku pribadi nih, aku nggak suka kaki aku nempel dengan orang di sebelah aku. Walaupun rapat, tapi aku tetep enggak suka. Alesannya karena aku orangnya enggak nyamanan, dan ngerasa geli kalau ada sesuatu yang nempel di jari kaki bagian paling pinggir itu.

    Yah, aku lebih nyaman kalau kakiku nggak nempel. Karena selama aku sholat berjamaah, kalau kakiku nempel, aku selalu nggak fokus sholatnya, dan akhirnya nyoba geser kaki, itu pun kalau yang disampingnya berhenti dan nggak nempelin lagi. Kadang ada yang nyoba terus nempelin dan akhirnya aku nggak fokus buat sholat.

    Yah, sepertinya memang aku salah. Tapi aku memilih buat fokus sholat daripada harus risih karena kaki aku nempel dan ngerasa geli. Hehehehe...

    BalasHapus
  8. Imam ditempatku masih sering gitu kok
    kadang suka lihat ke kiri dan kanannya sambilang gitu. Jadi kita langsung ikut ngelurusin shaf
    bahkan kalau masih longgar beberapa jemaah malah sengaja manggil orang yang dibelakangnya untuk menuhin shaf di tempat dia. Ya walau kadang ada aja orang yang nggak mau maju ke depan karena mikir kepraktisan, coz biasanya habis shalat banyak yang langsung pergi keluar gitu.

    BalasHapus
  9. Syaf mohon lurus dan dirapatkan :D

    BalasHapus
  10. Klo sholat dgn shaf sprti di gambar itu sih kyaknya aku blm prnah deh, agak risih jg kyaknya klo sholat rapet2an kaki gtuu..

    Imam di mesjid dket rmh aku sih kdang klo lg inget ya suka ngingetin "rapatkan dan luruskan shafnya" kdang jg gpernah diingetin jg..

    Tp mgkin skrg2 ini yg jd pnyebab shaf pada renggang tuh karna pada pake sajadah yg gede kyaknya sih ya?

    Oh ya, btw, salam kenal kak! Baru prtama main ksni. Minal aidin walfaidzin ya:)

    BalasHapus
  11. Di tempatku jg banyak kejadian kyk gt ..
    Kalo udah waktunya sholat para makmum laki2 pasti merapatkan barisan. Klo yg perempuan biasanya enggak. Aduuuh
    Ini tugas kita mengingatkan sodara muslim spy bisa meluruskan barisan saat shlt. Ya you know lah soy syaitan ga ganggu

    BalasHapus