Sabtu, 02 Mei 2015

Happy Birthday, Me

thanks a lot, everybody :)

I
Saturday, April 25th

Rain started drizzling on as I read some messages on my cellphone in that dawn. About 750 amsl in Mt. Bunder. What a cold season.  I could hear my own teeth crash each other.

I moved down from the bed and flipped my body sleepily on the wood floor. The windshield wipers moved back and forth rhythmically as the rain continued to fall. I quickly took my hand and tried to warmth it. But didn’t work…

I could see the warm light glowing beside me. It was my cellphone. The light was dimmed low as its battery. I reached it, and read the messages one more time. No, I mean, much more than.

Suddenly I felt like warmth flew down my chick. The pulpy fell fast to my navy skirt. Yap, it was tears!

The messages said so much late happy birthday. The messages said so much late prays. It must be because of the high of this place where there’s no signal. But I was still glad. I did. I realized that they remember me. They remember me…

Then a medicine team came –I could see their dark blue uniforms. They sounded curious with asking me what happened, why I had cried, etc. I said I’m okay. But they disbelief and asked me am I sure. I kept in silent and nodded. She did not hover for waiting me looking up. I guessed that she already knew that I am crying.

“Are you sick?”

I put down my phone and shakes one's head.

“It’s okay to you to cry. But if you do, just call me, okay?”

I nodded. I felt a soft hand lay on my knee intimately. I should thank her, but all my phrases were melted on my tongue. The melancholic inside of me awoke. I was drowning in a blue atmosphere.

And on that night, I read them a poet.



II
Sunday, April 26th

Masih dalam suasana haru lepas sertijab komandan baru Green Force. Saya diam saja ketika mendengar nama saya disebut MC. Mungkin karena kaget. Siapa sangka, esai yang baru dibuat di hari pengumpulan, sepanjang jalan, sembari berdiri dalam angkutan, bermodal bolpoin dan papan ujian milik adik, ternyata keluar sebagai peraih predikat, hmm, terbaik (?)

Saya masih celingak-celinguk kebingungan ketika banyak mata tersenyum pada saya. Tepuk tangan dan suit-suit riuh meramaikan senja. Mengiringi pindahnya sebuah bingkisan ke tangan saya. Tapi bukan itu yang membuat mekar bunga di dada, melainkan rasa berhasil melampaui diri sendiri. Ternyata saya bisa!



III
Thursday, April 30th

Jarak kurang lebih dua puluh menit saya tempuh demi menghadiri Dialog Publik –dalam rangka peringatan 53 tahun kembalinya Irian Jaya ke pelukan NKRI— yang diselenggarakan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) dengan berjalan kaki. Tidak jauh. Tapi tidak juga dekat mengingat jarak yang biasa ditempuh kaki selama satu semester belakangan hanya sebatas kost dan kampus.

Berangkat dari dimajukannya jadwal kuliah Pancasila menjadi Kamis sore di sekretariat KNPI. Awalnya saya merasa amat malas dan enggan lantaran harus merelakan dua agenda terlewatkan demi selamat dari ancaman absen mata kuliah, lantaran dosen saya hari itu bertugas menjadi moderator acara.

Tapi rasa malas dan enggan saya diusir jauh-jauh oleh para pembicara yang hadir. Mereka membantu saya membuka mata akan eksistensi dan integrasi Papua di Indonesia. Akan kecerdasan penduduknya, akan keindahan serta kekayaan alamnya, dari pantai hingga gunung es semua ada. Namun sayang, (maaf) masih tuna perhatian.

Di ujung sesi, saya memberanikan diri mengacungkan tangan untuk melontar pertanyaan yang saya fokuskan kepada Ibu Ani selaku perwakilan dari Kemendagri. Saya penasaran terkait program Anak Didik Menengah (ADEM) dan Anak Didik Tinggi (ADIT) yang digalakkan pemerintah untuk putra-putri Papua.

Selain sebab terjawabnya pertanyaan –serta iming-iming bingkisan, haha—, ada hal lain yang membuat saya bungah bukan main. Setibanya Ibu Ani di ujung jawaban, beliau berujar bahwa saran yang saya selipkan dalam pertanyaan bagus dan akan coba diajukan ke pemerintah untuk ditindaklanjut (wow!).

Sebagai bagian dari tim aksi mahasiswa, saya tentunya senang, bisa membuktikan bahwa aksi kami tidak hanya sekedar turun ke jalan sambil meneriakkan tuntutan demi tuntutan. Kamis itu, saya buktikan bahwa tim aksi juga mampu menjajakan pemikiran tanpa harus turun ke jalan.



IV
Friday, May 1st

Today is May. April was gone. I just release that I am now was not I am yesterday. Now I brave enough to fight my own fright. I can prove my existence. I can decrease my trauma at my born month. I am nineteen years old now. Happy Papua’s Integrity Days! Happy National Education Days! Happy Birthday, Rumbel Ceria! And Happy Birthday, Me! :)




5 komentar: