Jumat, 03 April 2015

(Lagi Bener) Filosofi Juru Parkir

sumber

NISAN
                        untuk nenekanda
Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
dan duka maha tuan bertakhta.
                   Oktober 1942



Nisan. Dalam puisinya, Anwar mengingatkan. Satu-satunya tanda pengenal kita di komplek tinggal masa depan, kelak. Nisan. Maka benarlah peribahasa itu, Harimau mati meninggalkan belang, Gajah mati meninggalkan gading, Manusia mati meninggalkan nama –serta tanggal kedatangan dan kepergiannya, dalam hal ini.

Tiga bulan berselang, 2015 telah meninggalkan banyak nama dalam kenangan. Langit mendung mengukung berulang. Mata air mata, tak henti melata. Meneriakkan luka. Dikoyak duka.

Di kursi prioritas Trans Jakarta, duduk mahasiswa. Tangannya asyik memijat smartphone, gendang telinganya berisik ditabuh earphone.

Di pusat perbelanjaan terbesar Yogyakarta, muda-mudinya menebar tawa. Jalan sini, jalan sana. Mengisi perut dengan fast food. Melepeh gudeg dari mulut.

Di tepi Paris van Java, seorang kakek kepala lima menyisir perak rambutnya. Sepoi angin menguap keringat seribu bulir di balik seragam birunya, tepat ketika sebungkus kosong rokok terbang dari jendela mobil yang terbuka. Mendarat tepat di samping sapu lidinya.

Aduhai, betapa hidup yang fana ini adalah titipan. Apa yang sekiranya patut diri banggakan? Lihatlah juru parkir itu, titipannya tak terbilang rupiah. Segala macam merek motor dan mobil terkunci dalam pengawasan dan pengamanan. Bahkan tak sedetik pun mereka bersolek; membanggakan, memamerkan. Karena mereka tahu semua hanya titipan. Mereka tahu akan ada saatnya semua dikembalikan.

Lantas apa yang akan kita bawa pulang?

Lapang! (dan uang).

2 komentar: