Jumat, 06 Februari 2015

In Memoriam


Duhai, bagaimana cara melakukan ini? Membuka tulisan beraroma kenangan. Paragraf yang bagaimanakah, kiranya? Saya sungguh bukan pemain yang baik..

Teman-teman, apa kabar? Semoga kalian sehat dan baik. Jangan lupa sedia payung dan jas hujan, yaa. Alam tengah menebar bibit demam dan flu di wajahnya. Hati-hati, jaga kesehatan kalian. Jangan sampai terlambat makan.

Huf. Ini berat sekali. Tapi, baiklah..

Apa yang terbesit dalam benak ketika mendengar kata In Memoriam? Kenangan? Ingatan? Sesuatu yang beruhubungan dengan, ehm, kematian?

Selasa, 3 Februari 2015 lalu, saya melakukan rutinitas sebagai relawan pengajar seperti biasa. Di salah satu kawasan kumuh pinggiran Ibu Kota, seperti biasa. Berjalan kaki melewati rute yang sama, seperti biasa. Membantu adik-adik asuh memahami pekerjaan rumah mereka, mengajar membaca, bertutur ria mengenai sains dan sosial, melakukan rutinitas mengajar yang biasa. Sampai akhirnya ketika kelas selesai, ketika kami –saya dan Alvyn— bergegas pulang melewati komplek makam, saya mulai merasakan sebongkah batu mengganjal di hatiku. Tapi apa?

“Pemilihan Kepala Sekolah TEKO jadinya tanggal tujuh atau delapan, Vyn?”
“Kak Siti minta tanggal tujuh, Lam. Tapi Kak Gilang tanggal delapan,”
“Delapan itu Minggu, ya? Kenapa harus Minggu, sih? Kan jadwal—,”
“Soalnya—“
“Eh, tunggu! Sekarang tanggal berapa?”
“Tiga. Kenapa—“
“Tiga.., empat.., lima.., enam... Tiga,”
“Kenapa, sih, Lam? Sakit?”
Astaghfirullah. Tiga hari lagi, Vyn,”
“Apa? Kenapa? Apanya yang tiga hari lagi?”
“Tepat setahun dia pergi…”

Dan wush! Ingatan tentang dia yang pergi berkelebat begitu saja. Satu per satu, kembali. Terputar di layar memori. Tentang titahnya, teriaknya, amanah-amanahnya, leluconnya, ide-ide, komunitas, rutinitas... Semuanya.

Kami memanggilnya Sidik. Salah satu umat terbaik yang pernah dimiliki Kecamatan kecil ini. Si hitam jangkung mantan ketua OSIS SMP dan SMA sealmamater. Mantan komandan pasukan khusus ketika bersetelan putih-biru. Ketua Ikatan Remaja Masjid dan Rohis putih-abu, seumur hidup. Tidak ada yang tidak kenal dia.

Kami memanggilnya Sidik. Seorang adik kelas yang ingin menjadi Presiden. Yang pergi, tepat setahun lalu. Sakit, kabarnya.

Tulisan ini berat. Juga emosional, sebetulnya..
Terlalu banyak, kenangan…
Terlalu banyak, kebaikan…
Budi-budi nan luhur, sanjungan atasnya dia tinggikan…

Sekarang, bagaimana melanjutkan tulisan ini? Paragraf seperti apakah? Hhh…

Saya nyaris menitikkan air mata sore itu. Di kanan dan kiri terhampar ratusan gundukan tanah yang nantinya akan menandai terbaringnya jasad ini. Saya takut sekali. Saya belum siap. Saya bahkan belum merasa sudah menyiapkan seteguk air, bekal yang bisa saya bawa di hari kemudian. Kepergian Sidik terus terang membuat saya, iri…

Enam Februari setahun yang lalu adalah hari Kamis, teman. Malam Jumat. Waktu yang istimewa. Siangnya Sidik masih beraktivitas seperti biasa. Bangun pagi, sarapan, mencium tangan sang ibu sebelum pamit menuntut ilmu. Seperti biasa. Memantau kelancaran Kajian Jumat Anak Rohis (Kajian JUARA), berlari tanpa alas kaki mengejar teman yang meledeknya, seperti biasa. Menjajak jejak Sang Rasul untuk menahan hawa nafsu sejak fajar hingga terbenam matahari, seperti biasa. Mendirikan salat maghrib dan isya berjama’ah di masjid komplek, seperti biasa. Namun siapa sangka, dalam kurun waktu beberapa belas menit ke depan, nyawanya, akan tiada…

KBM keesokan hari tidak sengaja terhenti. Baik murid, guru, sampai satpam dan staf tata usaha sekolah (baik jenjang biru maupun abu) berbondong-bondong menuju kediamannya. Sebagian mengendarai motor, namun lebih besar bagian berjalan kaki. Membuat lalu lintas agak terhambat dan begitu biru.

Pernah lihat rombongan besan sebuah acara pernikahan? Saya sangat yakin jika diadu, rombongan itu akan kalah dengan rombongan pelayat laki-laki pelayan umat yang satu ini. Bagaimana tidak? Rombongan istimewa ini terdiri dari seluruh warga sekolah.

Sosok yang selalu ditemukan siswa yang piket kelas setiap pagi sedang mengepel lantai masjid. Sosok bersuara berat nan bertenaga, penyandang gelar komandan pasukan. Sosok berpembawaan serius yang sebetulnya supel lagi jenaka, rajin lagi cerdas, dermawan, rendah hati… Telah pergi… Bagaimana tidak?

Saya bahkan baru benar-benar percaya, menerima, ketika jasadnya dikebumikan ba’da salat Jumat –yang jama’ahnya membludak. Ketika datang giliran saya untuk melihatnya terakhir kali –perlu usaha ekstra untuk melakukannya, karena antrian begitu panjang—, terbaring di ruang tengah, berselimutkan kain batik, berwajah pucat, dengan kening yang sedang dielus-elus lembut sang ibu, saya masih berpikir bahwa semua itu hanya bohong. Sebentar lagi ketika saya dan yang lain mulai lelah menangis, Sidik akan bangun dan tersenyum jahil seperti biasa, tanda berhasil mengerjai kami yang ada di sana.

Saya merasa bodoh mengingat hal tersebut. Macam sinetron saja. Namun memang begitu adanya. Dada saya merasa paling sesak justru ketika berdiri di tanah merah area makam. Ketika pelayat benar-benar pergi hingga tersisa beberapa orang yang saya kenali sebagai teman sekelasnya, saya mendekat. Tentu saja, luas tanah yang tersedia untuk dipijak dalam suatu area pemakaman tidaklah luas. Saya tidak melihat prosesinya, saya mengantri jauh di belakang. Dan itu membuat dada saya semakin sesak.

sumber

Innalillahi wa innailaihi raji’un. Bukankah Sang Maha telah berfirman, bahwa setiap yang hidup akan mengalami mati? Tidak mesti sakit, tidak mesti tua, tidak mesti celaka, tidak sama sekali. Kematian itu bisa datang kapan saja, di mana saja, bukan?

Duhai, tulisan ini bukan bermaksud ceramah, menggurui, atau semacamnya. Bukan, sama sekali bukan. Tulisan ini hanya sekelumit cerita yang penulisnya ingin dunia tahu, pernah ada sosok sekeren itu di hidup penulis. Ingin berbagi kenangan biru lagi kelabu yang tengah bersemu dalam kalbu. Jika pun dirasa ada hikmah yang bisa dipetik, sejatinya itu berasal dari pribadi alm. Sidik. Bukan saya selaku penulis, saya hanya media.

 
yang paling kanan

yang paling kiri


Kabaikan Sidik tidak akan cukup dimuat dalam tulisan ini. Banyak sekali hal-hal kecil yang seringkali orang anggap sepele, Sidik lakukan dengan istiqomah. Pulang sekolah tepat waktu, misalnya. Tidak membantah perintah orang tua, jarang mengeluh, mencucikan sarung dan mukena masjid, menyervis kipas dan memperbaiki lemari masjid, mengantar rekan pulang, dan lain-lain, dan lain-lain.

Dengan itu semua, siapa pula yang tidak iri? Yang keluar dari bibir-bibir pelayat senantiasa ihsan. Yang terlukis dari wajah-wajah pelayat senantiasa luka kehilangan. Paling lebar milik sang ibu, tentu saja. Si bungsu yang sulung perginya…

Dik, kata ibu kakak, kamu ganteng. Kakak sependapat, tapi nggak sebatas jasmani, melainkan juga rohani. Semoga tenang dan damai di sisi Rabb…
Alfatihah.




30 komentar:

  1. Hampir nangis bacanya.. berkaca-kaca. Walaupun blm pernah bertemu langsung dengan alm, tapi kisah hidup dan akhlaknya selalu manis diucapkan oleh rekan-rekan seperjuangan alm.


    semoga tenang disana adik-ku yg shaleh. Insya Alloh kita semua berkumpul lagi di surgaNya kelak. Aamiin..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Allahumma aamiin. Makasih udah menyempatkan baca, teh :)
      cerita tentang alm. sebetulnya nggak akan habis :')
      selalu manis, kayak yang teteh bilang..

      Hapus
  2. Kembali meleleh di blog ini setelah blog sebelumnya tadi. Gue nggak bisa berkata apa-apa. Gue cuma bisa berdoa semoga amal dan iadahnya diterima di sisi-Nya. Amin. :')

    BalasHapus
  3. Awalnya buka blog dengan isi yang tercacah buana. "Apalah, itu."

    Tiba2 mampir dengan kabar duka. Jujur, gue cuma bisa bilang Semoga Amal dan Ibadahnya diterima di sisi ALLAH yang Maha KUASA. Aminnn. :'(

    BalasHapus
  4. hacyuu, saya flu mbak, ditambah baca blog si mbak, makin netes nih :D

    BalasHapus
  5. Ah. Memang bener ya kalo orang yang semasa hidupnya baik begitu waktu perginya bakalan dikangeni banyak orang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga kita termasuk dalam kategori "orang yang semasa hidupnya baik"

      Hapus
  6. adduuh ikut nyesek bacanya,,
    jadi mikir apa nanti jika saya pergi adakah yang mengenang saya? :(
    semoga tenang disisi-Nya. Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Allahumma aamiin :)
      insya Allah ada. semopga bisa jadi motivasi untuk terus berbuat baik :)

      Hapus
  7. Aduh, mbak. Saya gak kuat baca ini. Semoga amal ibadahnya diterima di sisiNya :'(

    BalasHapus
  8. awal bw, ceritanya ada yang motivasi terus turun ke yang agak comedia. dan yang terakhir nyampai disini. ceitanya, merasuk banget lam :(
    sedih memang kalau ditinggal pergi sama orang yang menurut kita baik.
    cuma yaaa gitu seperti yang nilam bilang, memang nggak ada yang nggak mati karena semuanya pasti mati sesuai dengan jadwalnya masing -masing. hanya menunggu saja ..
    :( semoga almarhum ditempatkan ditempat yang indah disana yaa lam..

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, kak vina, semoga kita masih dikasih waktu untuk memperbaiki diri sebelum saatnya pergi :"
      aamiin ya Rabbal alaamiin :')

      Hapus
  9. Subhanallah, ternyata masih ada orang baik dan tulus di sekitar kita ya. walaupun gak kenal sama alm. tapi an bisa merasakan kehadiran sosoknya dan karakternya dalam tulisan ini. semoga alm. diberikan tempat yang terbaik di sisi-Nya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. yaa, begitulah alm. peranganinya yang mulia membuat orang-orang yang nggak kenal pun merasa dekat. wa iyyaka, Hean. Allahumma aamiin

      Hapus
  10. baca ceritanya ikutn sedih mbak :(
    semoga amal ibadah alm diterima dan di tempatkan di sisi-Nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. waah, terima kasih sudah menyempatkan berkunjung dan mendoakan :)
      aamiin Allaumma aamiin :)

      Hapus
  11. Innalillahiwainnailaihiroji'un.. sedih sekali baca tulisannya mbak. saya juga pernah ngerasain hal yang sama. ketika sosok yang baik, jenaka dan penuh inspirasi harus dikebumikan dengan segera. merasa kehilangan hanya akan ada jika kau merasa selalu memilikinya. sampai sekarangpun saya masih selalu merasakan hal yang sama. yaitu kehilangan :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. biasa saja, mungkin karena sama-sama pernah mengalaminya jadi terasa "lain" hehe

      Hapus
  12. Innalillahi wainailaihi rajiun...
    Subhanallah, kagum bgt sama kepribadian Sidik yg aktif tapi ttp rendah hati:) Orangnya baik bgt ya pasti? Kenapa orang baik diambil duluan yha sama Allah?:( Selayaknya kita mengambil bunga di taman, bunga mana yang akan kita ambil lebih dulu?:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eleuh, alih-alih jawab pertanyaan, saya malah dilanda kangen :" apalagi temen-temen terdekatnya, hmm...

      Hapus
  13. Nilam.. :'(
    Sepenggal kisah nyata yg sangat dekat.. Sungguh mempesona.. Membuat hati ini iri.. Sungguh tidak ada apa apanya aku ini.. Tulisan nilam sangat berarti.. Terima kasih nilam.. :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe, sama-sama, ris. nilam juga banyak belajar dari beliau :')
      kalau diinget suka nggak percaya aja ada kisah yangkayak begitu di dekat kita, ya :'D semoga kita bisa terus mengambil dan merawat hikmahnya, ya :')

      Hapus
  14. Nilam.. :'(
    Sepenggal kisah nyata yg sangat dekat.. Sungguh mempesona.. Membuat hati ini iri.. Sungguh tidak ada apa apanya aku ini.. Tulisan nilam sangat berarti.. Terima kasih nilam.. :')

    BalasHapus
  15. Subhanallah. Semoga bisa jadi motivasi buat kita untuk selalu berbuat baik. Sosok yang menginspirasi. Semoga selaluselalu diberikan tampat yang tebaik disisi-Nya

    BalasHapus
  16. kaaaak nilam hikkz:(((((((( jadi kangen almarhum

    BalasHapus