Sabtu, 13 Desember 2014

Mini Nilam

Tuan putrinya terlalu sibuk. Sampai-sampai memberi makan ruhnya sendiri −yang sekarang terbaring lemah akibat kurang gizi− pun ia lupa.

Pagi ini, bibirnya kaku menyebut nama-Mu. Suku-suku bangsa resah datang berduyun, memaksa bertamu. Mendobrak pintu-pintu. Menggedor kaca-kaca jendela kalbu. Mini Nilam duduk menjeplak di lantai. Bahunya naik turun. Napasnya satu-satu. Lelah. Tuan puterinya tidak kunjung tegas memilih peta penunjuk arah. Mini Nilam pasrah. Safir yang ia jaga kini sempurna merah. Mini Nilam rubuh, urung bergemuruh.

sumber

7 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha. Aku bersyukur karena baru baca komentar ini sekarang. Di masa-masa sulit, katamu.
      Semoga masih ada dan bisa ketemu yang serupa setelah ini :')

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  3. klo ada mini nilam ada mini aji ga? :p

    BalasHapus