Rabu, 22 Oktober 2014

(Nay's) Tiga Cangkir Teh di Sebuah Kafe di Kota Hujan

Nayla mengundang Zera untuk mengunjunginya di sebuah kafe di kota hujan begitu dia tiba di kota itu. Tiga cangkir berbentuk kuntum tulip berisi teh hangat dengan cawan serasi menanti di meja berpola kayu di hadapannya.

Ketika Zera tiba, mereka bertukar sapaan hangat. Nayla menanyakan tentang perjalanan Zera sebelum mereka membicarakan kota dan kafe, termasuk suhu udara di ruang mereka duduk.

“Masih lebih dingin kota kembang,” kata Zera, berpura-pura menggigil dan merapatkan cardigan.

“Ah, kapan aku dapat undangan tur ke sana?” kata Nayla. “Shila sangat menantikannya, aku yakin.”

“Musim liburan semester depan! Bagaimana?” kata Zera. “Tiga sampai empat hari cukup?”

“Sempurna!” seru Nayla, raut ceria membayangi wajahnya.

“Apakah pembicaraan seputar musim semi itu akan kita mulai tanpa Shila?” tanya Zera dengan mata berbinar.

“Tepat sekali! Aku sudah di sini,” potong gadis lain yang tiba-tiba sudah berdiri di antara kursi-kursi mereka.

“Tunggu sebentar,” ucapnya sembari mengajukan kedua telapaknya ke depan, lalu menarik sebuah kursi untuk diduduki dengan posisi menghadap kepada dua gadis yang entah disengaja atau tidak, berhijab masing-masing biru langit dan biru laut. 

“Nah. Begini lebih baik. Ayo, Nay. Silakan,” pinta gadis yang baru datang itu, tangannya terlipat rapi di atas meja dengan kedua ujung bibirnya terangkat, tersenyum jahil penuh arti.

Cengkeraman Nayla ke cangkir berisi Earl Greynya melonggar, meluruskan badan, membetulkan posisi duduk dengan helaan napas pelan.

“Mau mulai dari mana? Rinduku bercabang. Mereka berlomba merebut perhatian agar kuceritakan duluan,” jawabnya bersama senyum tipis.

“Aku menduga saat ini MiniNayla dalam otakmu sedang berlarian antar laci yang satu ke laci yang lain, memilah mana yang paling kau rindu, Nay,” kata Zera.

Nayla mengangguk, meletakkan cangkirnya di atas cawan.

“Kapan terakhir kita duduk bertiga seperti ini?” tanya Zera.

Shila mengangkat bahu dan cangkirnya, menyesap teh yang masih mengepulkan uap tipis.

“...bertukar cerita, kabar masing-masing kelas, buku-buku dan book fair, seminar-seminar gratis, membicarakan hal-hal konyol, nostalgia...” sambung Nayla.

“Aku merindukan semuanya,” ujar Shila lembut, menekuri pola kayu di meja.

“Aku pun,” kata Zera, ikut menekuri pola kayu di meja.

Nayla melempar pandangan ke luar jendela. Mengamati mobil-mobil hijau dengan plat kuning berlalu lalang. Berhenti sembarangan. Membuat semrawut pemandangan. Lalu tertawa tiba-tiba. “Semanggi. Kalian ingat itu?” tanya Nayla kemudian.

“Tentu! Saat hendak ke Pasar Anyar, bukan? Obrolan super panjang kita yang terus-terusan mengalir, hampir tanpa jeda,” jawab Zera, mata mungilnya terbuka lebih lebar. “Saat itu macet, lalu aku menyebut semanggi yang kulihat di tepi jalan dengan antusias..”

“..sangat antusias,” tambah Nayla.

“..sangat antusias, sampai-sampai penumpang lain mengekor secara terang-terangan ke arah telunjukku berujung di luar pintu angkutan,” sambung Zera, matanya mulai berair.

“Itu menggelikan,” kata Shila. “Dipikirnya Semanggi itu nama orang, mungkin, ya?”

“Bisa jadi,” Zera tertawa. “Bagaimana dengan acara terakhir kita ke toko buku bilangan Depok itu? Waktu sedang di bawah label sastra, kompak sekali menunjuk ke arah yang sama saat sadar bahwa buku yang kita cari ternyata bertengger dengan manis di sana,” lanjutnya.

“Buku Bang Tere,” ujar Nayla.

“Dikatakan atau Tidak Dikatakan, Itu Tetap Cinta,” tambah Shila.

“Padahal sudah bermenit-menit kita di sana,” kata Zera. “Tapi baru sadar justru saat ingin meninggalkannya.”

“Lagi-lagi kita mencuri perhatian pengunjung,” kata Nayla.

“Dan yang paling penting, jangan lupa,” kata Shila.

“Tas hijau tua ramah lingkungan yang kita perebutkan karena mengira tinggal tersisa satu?” tebak Zera.

“Ahaha, itu juga. Tapi bukan itu yang kumaksud,” jawab Shila, hidungnya naik-turun saat tertawa. Terlihat seperti sedang push-up.

“Lalu?” tanya Nayla, memiringkan kepalanya.

“Momennya, sahabatku. Hari itu harimu. Tak ingatkah?” seru Shila.

“Ah, ya, benar! Hari di mana kita bertiga akhirnya lengkap dimiliki Perguruan Tinggi,” seru Zera. “Di warung bakso kita berisik sekali, menarik perhatian, lagi-lagi,”

“Yang Abang tukang baksonya kita ubah jadi Abang tukang foto cabutan,” ujar Shila.

“Kita memang menarik,” kata Nayla, memoles hidungnya dengan jempol.

“Tapi, hari itu, aku, serius, aku amat sangat bahagia. Sungguh,” pohon mata Nayla basah. “Dan kalian ada. Selalu,” disusul dengan basah serupa di pohon mata Shila dan Zera. “Bersyukur saja rasanya tak cukup, sebagai ungkapan terima kasih kepada yang membuat tali-tali antara kita terjalin erat-erat.”

“Sekarang, justru Perguruan Tinggi itu yang memisahkan kita..” ucap Zera lirih.

“Kita tak benar-benar berpisah. Kan ada rabithah,” jawab Shila, mengelap dengan tisu air yang agak menggenang di balik bingkai kacamatanya.

“Tidak ada kenangan yang bagus, lebih bagus, atau paling bagus. Semuanya sama buatku,” kata Nayla. “Selagi ada kalian, tentu..”

“Setuju,” kata Zera.

“Sepakat,” kata Shila.

“Ngomong-ngomong, apa kita repot-repot ke kafe hanya untuk minum teh?” tanya Zera, meraih cangkir terdekat, menyeruputnya.

“Tadi kan masih turun hujan, Zer,” sanggah Shila. “Aku harus menerobosnya susah payah demi reuni kecil-kecilan ini.”

“Halo! Rumahmu hanya berjarak dua blok dari sini, Shil,” Nayla menyipitkan mata.

"Hei, ini Genmaicha Green," seru Zera.

"Itu cangkir Shila, Zer. Ini yang milikmu, yang sudah setengah," jawab Nayla.

“Baiklah,” Nayla memutar bola matanya. “Aaaaaku mau acar alpukat! Tidak boleh ada plagiat!”

“Hei! Curang, kau, Nay! Aku juga mau pesan itu,”kata Shila, tidak mau kalah.



sumber

8 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Nilam aku luluh sama kata-kata kamu~

    BalasHapus
  3. cerita-ceritanya Nayla ini seru-seru, ya. :"

    BalasHapus
    Balasan
    1. nggak juga kok, kak. kebetulan aja kali ini mah, hehe

      Hapus
  4. wah, lama nggak main ke sini dan dibikin sirik sama Nilam. masih sempet bikin cerita dan ngurus blog ya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. mana tulisan ikaa :P
      nggak juga kok, ka, kalau lagi kebelet aja, hehe

      Hapus