Rabu, 10 September 2014

(Nay's) Tak Pernah Tahu

Pagi. Derai lembut udara bertiup pelan ke dalam ruang tidur Nayla. Harum tanah bekas hujan dini tadi membingkai potret mentari. Dunia masih sepi. Dunia masih tidur. Hidup belum dimulai.

Namun Nayla terjaga lebih awal dari biasanya. Ia terbangun tepat pada detik pergantian hari, ketika hujan turun ke muka bumi. Ketika pelan-pelan ia menyadari semuanya, dan bantalnya mendadak basah menyentuh wajahnya. Wajah yang juga dijatuhi hujan pelan, nyaris tanpa suara, sementara tubuhnya menggigil oleh kedinginan dan rasa lain yang tak dapat ia ungkapkan. Nayla, untuk sebuah alasan yang tak pernah ia sangka, menangis lama di kesunyian pagi ini.


Namun kini matahari telah datang. Hidup sudah dimulai. Apa yang sudah kita lakukan kemarin, kita tetap harus melanjutkan hari di kalender. Nayla masih berada di awang-awang ketika momen itu datang, di mana segala yang ia rasakan begitu sureal, begitu ilusi. Membuatnya merasa kosong. Hampa. Melihat hidup dalam sudut pandang berbeda.

Nayla tak pernah tahu, sebelumnya, tak pernah dengar, bahwa ternyata rindu bisa terasa seperih ini. Nayla baru saja tahu, bahwa ternyata rindu bisa membunuhnya sewaktu-waktu. Sayang sekali, Nayla terlambat tahu.



sumber inspirasi dan ilustrasi

5 komentar:

  1. Indah sekali penggalan demi penggalan dalam tulisan ini. Saya kurang paham apakah ini bait bait PUISI? Susunan kaa katanya indah, dan memiliki makna yang dalam. Sayang sekali saya kurang bisa menangkap maksud PUISI atau artikel ini. Ada apakah gerangan dengan Nayla?

    BalasHapus
    Balasan
    1. sengaja dibuat (agak) menggantung, memang :)
      ini bukan puisi, hanya fiksi mini :)

      Hapus
    2. ah ya, sampai lupa. terima kasih (ter)pesonanya =))

      Hapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus