Senin, 11 Agustus 2014

(Lagi Bener) Renungan...

Beberapa waktu lalu saya mendapat tiga kabar duka sekaligus. Innalillahi wa inna ilaihi raji’uun. Yang pertama datang dari ayah adik kelas saya. Lalu adik teman sekolah saya. Dan terakhir, adik dari kakak tingkat saya. Dua di antaranya pergi lantaran sakit. Satu karena kecelakaan. Teman saya dan ibunya sempat kritis dan tak sadarkan diri selama beberapa hari.

Sorenya, saya menemukan salah satu pihak yang berduka sedang on di seberang sana. Saya yang belum mengucapkan bela sungkawa memutuskan menyapa. Tidak banyak yang bisa diketik jemari dalam ruang chat itu. Hanya helai demi helai hela napas panjang yang mampu saya hasilkan. Membaca lamat-lamat kronologi dari sebuah akhir perjalanan duniawi. Menatap lewat layar, memandangi kedip kursor dengan nanar. Saya juga punya adik dan tidak bisa membayangkan betapa pedihnya kehilangan si kecil (walau sekarang sudah tidak kecil) menghirup udara terakhirnya tepat di depan mata..




Setelah menjawab barang satu dua pertanyaan, kakak tingkat saya yang terkenal tegar itu mengungkapkan keresahannya, “Stok hari untuk tinggal di dunia kian tipis, sudahkah kita bermanfaat?” Dan kakak yang katanya koleris itu tiba-tiba jadi melankolis, hehe..




Tidak sedikit orang yang mengeluhkan betapa tidak sukanya mereka dimanfaatkan. Padahal, bukankah sebaik-baik insan adalah yang bermanfaat bagi sesamanya? Bagi sekitarnya? Hidup ini terlalu luas untuk kita nikmati sendiri. Maka berbagi adalah (salah satu) jalan. Bukan begitu?

Saya teringat mention seorang karib di twitter. Ia meng-upload sebuah sampul buku antologi puisi dan mengatakan bahwa saya menularinya rasa suka terhadap sastra. Yah, walaupun sastra tidak sebatas pada puisi, tapi puisi tetaplah buah dari sastra. Aduh, takut salah, cukup deh bahas-bahas sastra (-“-)v



Satu lagi. Entah hanya perasaan saya atau memang begitu adanya, saya merasa telah menularkan rasa suka saya terhadap hujan kepada beberapa orang di sekitar. Awalnya mereka hanya bertanya latar belakang suka. Tapi kelamaan, hampir setiap hujan turun mereka rajin sekali menginfokan kepada saya, hahaha. Lalu seringkali membawa serta hujan dalam status media sosialnya :P

Saya sempat bertanya-tanya, kenapa yang saya tularkan bukan hal-hal keren seperti rajin tilawah, hobi sedekah, penghargaan besar terhadap waktu, dan lain sebagainya. Tapi yaa saya sih, sadar diri. Saya masih bermasalah dalam melakukan hal-hal tersebut. Masih dalam proses, masih belajar. Lalu pertanyaan saya selanjutnya, apakah yang saya tularkan itu membawa manfaat bagi mereka? Saya tidak tahu dan enggan menghakimi. I absolutely hope that the answer is, absolutely yes. And I really pray for it. I swear (-“-)v

Seperti halnya latar belakang tulisan ini di samping curhat. Adalah keinginan berbagi. Siapa yang menjamin lusa kita masih di sini? Siapa yang menjamin sempat-tidaknya kita menatap wajah ayah atau ibu kita esok hari? Bahkan malam nanti, siapa yang jamin saat kita menunda barang satu atau dua jam sembahyang kita, kewajiban itu masih bisa kita penuhi? Selain uang, waktu juga mewujud pedang, kawan. Jangan biarkan kita lalai terbuai..

Sekarang mari tengok halaman media sosial kita. Apa saja sih, yang kita sebar di sana? Baca lagi apa yang kita bagi terakhir kali. Bayangkan jika itu adalah sebuah keluhan. Bayangkan jika itu berisi sebuah kegalauan, atau bahkan makian (?) Maukah peninggalan terakhir kita berwujud seperti itu? Indahkah esensinya? Banggakah rasanya?

Tidak sama sekali bermaksud menghakimi. Saya sendiri pun masih saaangat jauh dari sempurna. Tapi saling mengingatkan dalam kebaikan juga merupakan kewajiban, bukan? Maka dengan ini saya harap ada sedikit manfaat yang kawan dapat. Kalau saya salah, ingatkan yaa :’D Dan karena tagnya curhat, jadi agak panjang harap maklum, yaa. Semoga nggak capek bacanya, hehe ^^v

4 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu udah banyak, kok, hud :)
      makasih ya, mau main jam segini hoho
      dan menggandakan pesan di halaman yang ini :D

      Hapus
  2. inalilahi, semoga kuat ya buat temen nya.

    eniwei, gue pertama kali mampir kesini, kemaren sih sempet mampir dan follow doang.
    suasananya enak, kayak hujan-hujan gitu, eh berbagi ilmu ya, kalo bahasa jepangnya hujan itu "Ame". udah itu aja yang gue tau hehe. salam kenal ya! gue kayaknya sering mampir kesini deh! see you later!

    BalasHapus
  3. anehnya manusia, memikirkan hal-hal yang belum pasti terjadi, tapi malah melupakan hal yang pasti terjadi: kematian

    BalasHapus