Kamis, 03 Juli 2014

Tiga Purnama



Awalnya bahkan hendak kutuntut tiga puluh purnama. Tiga puluh enam tepatnya. Tapi hatiku sendiri tak yakin akan bisa bertahan sebegitu lama. Maka kuputuskan memangkas putusan.

Kemudian kususut jadi dua belas. Menyederhanakan bilangan, membaginya dengan tiga. Selusin purnama. Kedengaran mantap sekali di telinga. Bukan jangka yang lama. Sungguh niat yang mantap sekali.

Namun, sebuah tapi sebesar Pangrango yang dipangkatkan tiba-tiba saja datang mengukung hati, menelikung sepi. Mempertontonkan hari yang berdarah-darah ketika punggung itu pergi. Tanpa janji akan kembali.. Menjadikan sangsi atas sanksi.

Maka untuk kali ketiga, kupangkas lagi masa menjadi lebih sederhana. Berbilang ganjil. Tiga purnama saja meskipun angka faforitku sembilan, aku enggan memaksakan. Kali ini aku benar mantap memutus putusan. Kali ini aku benar yakin menunggu sendirian.

Hanya saja, aku cemaskan kesepian. Sedikit, sih. Maka baiklah, sepersekian detik kemudian niat kembali kubulatkan. Merajut jarak yang terlipat. Memupuk kecintaan dan rasa hormat yang lebih kentara atas janji-janji sua. Maka tiga purnama, kurasa tak akan lama.




Juni, 30


Tertanda,
Ketilang

6 komentar: