Rabu, 09 Juli 2014

Jangan Injak Halaman Hamba

Kenapa Tuan datang lagi? Bukankah hamba sudah meminta Tuan pergi? Bukankah kita sudah sepakat? Tidak ada sua hingga purnama ketiga? Kenapa?

Kenapa Tuan datang lagi? Haruskah hamba menjadi jahat, Tuan? Menebar paku di halaman dan ranjau di beranda? Supaya tak hanya kaki Tuan yang luka, melainkan juga sukma. Supaya terbakar ingin dan angan Tuan mendekat. Supaya jera. Supaya letih. Supaya perjuangan Tuan terasa perih. Supaya niatm Tuan terkoyak dan mati.. Haruskah?

Tolong, Tuan.. Jangan injak halaman hamba. Tidakkah Tuan lihat hamba sedang merapikannya? Membersihkannya dari gulma-gulma, memangkas rumput liar, mencangkul ranah, menanaminya dengan bunga-bunga; bakung, melati dan sansiviera; hamba pupuk dan sirami. Dan, yah, tentu saja tidak ada mawar. Hamba tahu Tuan tahu hamba tidak suka mawar. Tidakkah Tuan lihat?


Hamba mohon, Tuan.. Jangan injak halaman hamba. Hamba tahu Tuan tahu hamba luka saat ujung sepatu Tuan menjejakkan sebuah tapak di muka halaman. Tuan tahu, hamba tahu Tuan masih belum benar membersihkan garam dari telapak yang kasar itu. Sedang luka ini masih jelas terbuka. Jelas sangsi hamba menyila Tuan masuk dan mengobati.

Apalah hamba ini? Hanya sahaya yang miskin dan papa. Maka mohon maafkan, Tuan. Tapi hamba ingin Tuan pergi dulu. Sungguh, maafkan...



6 komentar:

  1. Aku suka lam postingan kamu yang ini. Heee kalau boleh sok tahu, ada pesan di dalamnya hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waah, terima kasih, kak an ;D
      Nggak sok tahu, kok, emang ada :p mhehe

      Hapus
    2. kukuh pendirianmu Lam, tetap tak membiarkan tuanmu itu datang lalu bersama merapihkan dan membersihkannya dari gulma-gulma?

      Hapus
    3. ....actually, not as easy as it seems..

      Hapus
  2. yang punya icon baru....

    selalu kalem dan ngena...
    kamu di anugerahi otak sastra keren...tapi masih keren aku #fitnah

    BalasHapus