Senin, 26 Mei 2014

Sebuah Paket

Hai, kamu. Selamat siang! :)
Sudahkah perutmu yang kecil itu kauisikan sumber energi?
Ah, ya. Aku seharusnya tahu, pertanyaan itu terlalu untuk membuka percakapan denganmu. Kamu. Iya, kamu..

Baikalah kalau begitu, langsung saja. “Bagaimana kabar?” Adakah yang sudah lebih dulu mengalamatkan kalimat itu padamu? Aku hanya, rindu. Rindu menjadi orang itu. Rindu memancingmu melayani diskusiku. Rindu meretas rindu. Rindu. Rindu. Rindu. Aku rindu!

Hmm, begini, tadinya aku ingin menjadikan ini sebagai kejutan kecil untukmu. Tapi seperti biasa, aku tak pernah punya cukup daya untuk menahan terjadinya kebocoran.

Aku tak ingin mengganggu, maka singkat saja. Jika kamu tak sedang sibuk, tolong cek kotak pos elektronikmu, ya. Aku baru saja meminta Pak Pos menaruh sebuah paket di sana. Aku mengemasnya sendiri, khusus untukmu. Aku harap kamu suka :)





Salam,
Pelangi.

6 komentar:

  1. Gaya bahasanya seperti fiksi...tapi perasaan buat curhat juga ada...paduan istimewa ini mah,,,,penulis profesional

    BalasHapus
  2. Waah, aamiin, terima kasih :D
    Saya masih belajar kok :)

    BalasHapus
  3. setiap tulisan nilam emang keren :)

    BalasHapus
  4. ehem ehem..
    aku mau dong d krmin pketnya dgn bhasa yg apik kyk gini :)

    BalasHapus