Senin, 03 Februari 2014

Mumpuni


"Maaf, tapi sepertinya kamu tidak Mumpuni." Pria itu melipat map-map dan memasukkannya ke dalam tas.
"Maaf, tidak Mumpuni? Maksudnya?" Alis gadis berambut coklat itu bertemu, meminta penjelasan.


"Ya, kamu tidak Mumpuni."


"Tunggu, tunggu. Tapi, bukankah...?"


"Maaf, saya memotong, tapi posisi yang Anda tuju sudah ada yang mengisi."


"Tapi Mumpuni..." Gadis itu menghentikan kalimatnya. Matanya kian redup. Bahunya kian turun. Kecewa.

"Lagi pula berdasarkan kriteria yang ada, Anda tidak Mumpuni." Astaga! Jadi kerelaanku menembus hujan yang paling menyebalkan ini hanya dihadiahi bertemu dengan pria es yang sedari tadi mengacuhkanku?!


"Tak bisakah, ini...?" Tak menyerah, kali ini diambilnya sebuah map plastik biru, kemudian dibukanya. "Ini semua, masih tak cukupkah?" Lanjutnya, sembari menjaga agar si pria es, sang lawan bicara tak dapat mendengar desah tak teraturnya.


"Maaf, Nona. Tapi perusahaan ini beserta karyawannya terlalu sibuk untuk melirik Anda."


"Begitukah? Angkuh sekali..." Ucapnya terbata.


"Maka bercerminlah, Nona."


"Nona..."


"Sepertinya sesi ini sudah selesai."


"Selesai..?" Matanya membeliak. Tubuhnya seakan tersihir. Tertusuk jarum-jarum super dingin pembeku saraf yang berasal dari sepasang mata, di hadapnya. Tatapan pertama yang benar-benar menuju padanya. Tatapan yang memotong pembuluh asanya.


"Pintunya tepat di belakang Nona." Serunya mengingatkan. Di luar, petir menyambar-nyambar, memekakan.


"Kau yang memintaku kembali, bukan? Sekarang aku di sini, dan..., kau..., kau..."


"Mumpuni selalu tepat waktu."


"Arya..."


"Mumpuni tak pernah lupa membawa aura cerahnya."


Puni tertohok. "Aku membawanya! Aku selalu..."


"Maaf, tapi saya ada janji dengan klien..."


"Mata Mumpuni penuh binar dan tawa. Bisa tunjukkan, milik Anda?"


"Arya..., aku..."


"Lelah?"


Fiuhh.. Yes, I am.


"Pun denganku, Puni. Aku tak pernah bohong saat kukatakan padamu aku rindu. Tapi sayangnya kau terlalu sibuk dengan duniamu. Kau terlalu sibuk dengan teman-temanmu yang perlahan menggeser tempatku. Dengan kebahagiaan demi kebahagiaan yang enggan kau bagi denganku. Kau terlalu sibuk dan senang sekali menganggap remeh banyak hal. Aku yakin kau tak punya cukup waktu untuk melihatku tergeletak semakin tersisih di tepi hati, hingga kau tak sadar aku telah memilih jatuh sekalian kemudian mati, dari pada berjuang seorang diri.."


Ada jeda dengan benang-benang bening di sana. Namun tak lama, hanya sampai Arya menguasai kembali emosinya.


"Dan demi profesionalisme, yang juga tercantum dalam peraturan perusahaan agar tidak mencampuradukkan urusan pribadi dengan pekerjaan, aku, maksudku saya, harus segera bergegas, permisi..."





Arya pun meninggalkan Puni, sendirian. Berteman secangkir kopi yang baru saja pramusaji antarkan. Di meja kafe nomor sembilan. Dekat pintu menuju taman.


Sendirian? Ah, tidak juga. Ada selaksa belati yang tak lupa Arya tinggalkan. Tepat di dada, serong kiri dari belahan.


http://www.flickr.com/photos/frank-dang/4488742659/


26 komentar:

  1. Wah, ketemu sama agen pengagum hujan juga nih hehe

    ini cerpen?

    Jadi, mumpuni itu nama orang? :/

    BalasHapus
  2. aku kira dia lagi melamar pekerjaan terus gak diterima karna telat kehujanan gitu..
    ehh ternyata.....
    sayang sekali si mumpuni tak mampu mencairkan hati si pria es.... :)

    BalasHapus
  3. Mumpuni itu nama orang toh, kirain ungkapan "mumpuni".

    Aku gak tau gimana cara ngenilai cerpen. Hehe... Tapi kalo baca cerpen yg terlalu banyak ungkapannya agak gimana gituu...seperti "aku berdiri terdiam, terpaku, tertusuk duri di dalam hatiku" #halah hahahaha xD itu contoh doang :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Allahu rabbi kak er, nilam nggak paham kalimat yang di dalem kutip xD wkwk

      Hapus
  4. ini Arya antara memang sifatnya yang cool atau memang dia gak mau mencampur adukkan urusan pribadi dengan pekerjaan.
    seperti profesionalisme pekerjaan gitu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ceritanya dia kecewa kak, nggak mau lagi ketemu puni krn satu dan lain hal :))

      Hapus
  5. wah pengen juga nih, bisa menulis fiksi

    BalasHapus
  6. Ahaha pantesan dari awal agak aneh kok mumpuninya pakai kapital, ternyata nama orang. Baguuus Nilam :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku bingung tapi, ka, biar nggak cepet ketebak. susah benerr >.<
      jadi kurang greget gitu deh :'D

      Hapus
  7. Problemnya sama sama yang lagi, awalnya ketipu sama nama mumpuni, dikira kata eh ternyata nama orang. Sukses bikin maksa beberapa kali. Keren

    BalasHapus
  8. seperti yg lainnya, ternyata mumpuni itu nama orang toh kirain ungkapan apa gitu -_- agak bingung sih sama ceritanya, jadi ini ceritanya si Mumpuni ngelamar kerja di tempat kerja mantannya bukan sih? maaf kalo salah hehe

    BalasHapus
  9. sedih banget si puni..
    hahahaa..iya, kirain mumpuni itu kata sifat gitu...ternyata orang-,-"
    bagus, menohok gitu jahatnyaaa

    BalasHapus
  10. hahaha sama seperti komentar2 sebelumnya, aku tertipu pada namanya.. tak kira ungkapan, Lam. ternyata nama si tokoh cewek...
    suka sama cerpennya... (y)

    BalasHapus
  11. jadi, mumpuni itu nama orang ya...
    lebih mirip flashfiction nih...agak susah dipahami...dan emang aku-nya yang kurang paham sama yang berbau sastra..hikkssss

    but..ini cerita semacam bikin nyesek...jadi sedih... hikss lagi,,

    BalasHapus
  12. Pantes kok Mumpuni pake huruf kapital, ternyata bener nama orang :)) jadi, si arya ngeles aja nih pake alasan profesionalisme padahal sakit ati? .__.

    BalasHapus
  13. oh mumpuni itu nama orang, ahahaha.
    pria es dan hujan adalah perpaduan yang tepat untuk mematikan bara asmara *apa deh gw* >.<

    BalasHapus
  14. Nilam, maaf ya, saya gagal paham dengan cerita di atas.

    Kalau Mumpuni nama orang, kenapa ada kalimat ‘Kamu tidak Mumpuni.”=> artinya bisa ambigu tuh antara nama orang dan kemampuan.

    Mungkin bisa, nanti kita belajar bareng ya, bagaimana membuat alur dan plot yang bagus. Ingat juga, kuatkan karakter setiap tokohnya

    Semangat nulis terus.^^


    *Adalah kebenaran yang harus kita temukan dengan melintasi banyak kesalahan^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi kak lin, maksud kata-kata itu: dia nggak mumpuni banget. Bukan mumpuni banget, gitu kak :D
      nilam juga bingung harus digimanain pas bikin x))

      Hapus
  15. cerpen yang mumpuni! *apa coba*

    ternyata yang namanya Mumpuni itu sudah ngga mumpuni karena dia itu seorang mumpuni yg terlibat perasaan dengan si cowo es...

    BalasHapus
  16. Ceritanya yang berat ato otak ku yang gak nyampe? Yaa sepertinya otak ku gak nyampe.
    Mikir keras kak -_- aku kira ini semacam cerpen yang awalnya sedih gitu, galau, trus ending nya humor lantaran lagi lamaran kerja.
    Tau nyaaaa....nyes. Lagi tragedi patah hati.

    Nama mumpuni keren juga yaaa. Ntar di panggilnya Desi ._.

    BalasHapus
  17. bagus cerpenny baguss, bisa nggeser makna juga..dikiranya begini ternyata itu nama..ah, Arya mah suka gitu udah lupain ajah..@.@

    BalasHapus
  18. huaaaa Mumpuni itu aku kira "kompeten" tak taunya ahaaaaa
    tapi jujur kok aku agak gak paham ya ceritanya
    apa sebenarnya itu lagi nglamar kerja trs ditolak? atau memang mau balikan trs ditolak juga?
    aduuuh aku bingung, apa aku aja ya yg ga paham hehehe
    but, bagus cerpennya

    BalasHapus
  19. jadi mumpuni ini wanita muda yang enerjik dan pasti cantik tapi jutek ya....andai bisa mengenal lebih dalam dengan si mumpuni, pasti bakal seruh deh ih.

    BalasHapus