Jumat, 13 September 2013

Hilang



Di hari ketujuh itu, aku belajar kalau warna hitam adalah warna yang paling dominan. Yang bisa menutupi warna-warna pastel yang biasa kupuja. Juga bahwa doa kadang hanya rangkaian kata tanpa makna. Dan, fakta bahwa manusia tidak lebih istimewa dibandingkan bola.
Bahwa hati bisa saja berhenti berfungsi, tetapi tetap nyeri.
Jantung bisa saja meledak, tetapi ternyata tetap berdetak.
Bahwa ternyata kita bisa mati walau tetap hidup.
Dan, bahwa Sinar hanya sekadar nama yang nggak membawa cahaya.
Dan, Narendra adalah sebuah kenangan, maka aku adalah sebuah lubang hitam besar yang menganga.
Dan, bahwa di antara semua, hanya Adith―dan suara tipis serak Bob Dylan―yang masih ada.



Di mana aku? Siapa aku? Kenapa semua gelap? Kenapa dadaku sesak? Kenapa aku terisak? Aku ringsak.
Kepalaku pusing, masih dikitari bayang-bayang bening. Tentang sepi yang masih enggan bergeming. Terlalu bening. Pening. Sukmaku berteriak nyaring, tenggorokan kering. Pening.
Semua pergi. Semuanya pergi. Meninggalkan tubuh ringkuh ini sendiri. Tega. Meninggalkan jiwa rapuh ini berdiri tanpa pondasi. Tega!
Aku tak bisa bergerak. maju pun mundur aku menabrak. Ada perih di sana, di setiap tempat yang kupijak. Rupanya beling, tak kasat mata, bening, bebas teserak.
Rupanya kaca. Aku ada dalam sebuah kubikel kaca. Kubikel yang kusebut sukma. Sukma yang lara. Lara samsara.
Kupejamkan mata, namun tak terjadi apa-apa. aku ingin kembali. Aku tak ingin begini. Aku ingin pergi. Aku ingin menghilang. Aku ingin menghilang!




And if you close the door,
the night could last forever.
Leave the sunshine out,
and say hello to never.

16 komentar:

  1. Aku coba baca ini berkali-kali dan nggak nangkep maksudnya. Terlalu puitis buat logikaku. Tapi kata-katanya bagus. Nice... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu caraku mbak, sengaja biar orang nggak gampang nebak :p hehehe

      Hapus
  2. kalo nggak salah nangkap, ini maksudnya dia lagi sedih, kesepian, nggak tau mau gimana, mau kemana.

    kayaknya jawabannya cuma satu :COME ON TO MOVE ON..!!

    just it :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. bukan nggak tau kakak, cuma tiap mau ngelangkah, selalu ketemu luka..
      jadi kayak raisa deh, serba salah -_-

      Hapus
  3. Maaf mbak boleh kasih saran kan. Terkadang puisi itu indah ketika pesan bisa tersampaikan. Tapi ketika saya baca saya masih bingung tentang apa yg dimaksud. Sebab mbak masih menggu akan emosi untuk setiap ketikan. Jadi lebih baik ketika galau didiemin dl. Baru nulis ketika emosi reda dan mengisahkan galau itu lewat puisi. Sebab mbak bakal lebih teliti memilih kata. Dan bakal terbaca alur. Seba inti aluanan puisi kan tetep. Pembukaa , konflik, klimak, penyelesaian. Di cek lagi ya. N aku tunggu puisi berikutnya dg gema yg sama.

    BalasHapus
    Balasan
    1. setuju neh sama bang rinem, jujur gue juga kurang paham sama maksudnya.
      tpi orng yg bisa nulis puisi itu menurut gue keren loh, seolah-olah gimanaaa gitu. susah gue ngungkapinnya.
      yah, kan msih dalam proses pembbelajaran, yg pnting ttep smngat aje dah. eheheh

      Hapus
    2. aku tahu, tapi itu sengaja..
      habisnya, bingung mau numpahin ke mana kak ._.

      Hapus
  4. uuuuuh jago berpuisi ternyata, hebat!
    etapi kata-katanya banyak yang aku ngga paham (kebanyakan baca dongeng sih!)
    tapi bagus kok, tetap menulis ya :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku masih ngajak 'emosi' di dalamnya..
      Jadi, gini deh :p

      Hapus
  5. artinya apa ya? :D

    BalasHapus
  6. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  7. indah banget diksi katanya, memberikan pemahaman dan pelajaran hidup melalui serat-serta makna di balik tulisanmu. sungguh, suatu hal yang sangat mengasyikkan dengan makna yang tersembunyi di balik apa yang tersurat..

    BalasHapus