Sabtu, 10 Agustus 2013

Auriga



"Kamu, udah pikirin baik―baik?"
"Bahkan sebelum kamu minta."
"Kamu yakin?"
"Kamu ragu?"
"Huh, aku nggak tau. Mungkin, ya."
"Kenapa?"
"Aku rasa kamu baru mendengungkan nada ragu."
"Enggak kok. Aku cuma tanya, kenapa?"
"Coba tatap aku."
"Mmh.."
"Liat aku, Ri. Liat mata aku!"
"Dan?"
"Nggak ada dan, Ri. Let me see the truth."
"What else, Rayan? Did you find something wrong? Just take this, our―"
"Yours. Not our."
"Rayan, aku―"
"Sachdevi Auriga. Listen to me, please..."
"No. Rayan Iskandar. But you, listen to me... Kamu nggak bisa seenaknya maksain keinginan kamu. Jangan egois...."
"Aku capek, Ri, berantem terus kayak gini."
"Dan aku capek, Ray, mengalah terus selama ini."
"Ngalah?"
"Ya, dan aku tau, kamu pasti nggak sadar itu, kan? Aku sengaja kalah dari kamu karena aku sayang, Ray. Tapi kamu nggak pernah ngerti itu. Kamu nggak pernah berubah. Kamu nggak pernah membuat garis ini jelas, Ray. Justru kamu sengaja membuatnya buntu. Kamu gantung gitu aja. Kamu tarik kalau kamu perlu, dan kamu ulur kalau udah merasa posisiku aman. Hey! Aku bukan mainan, Ray. Aku bukan layangan! Aku ini manusia dengan perasaan. Kamu tuh, sadar nggak sih?!"


"Auri,"
"Aku yang capek, Rayan! Aku―"
"Auri, aku―"
"Rayan, kali ini yang aku butuh bukan lagi sekedar istirahat. Aku mau pensiun, istirahat selamanya dari dunia yang ada kamu di dalamnya. Aku mau mulai lembar lain yang selama ini aku tahan demi kamu. Bibit yang aku tanam dulu gak bisa aku petik, Rayan. Daunnya kuning, tangkai dan batangnya susut, buahnya busuk, berulat. Siapa yang mau menikmatinya? Dilirik aja aku yakin gak ada. Coba―"
"Auri, kamu bisa nggak, dengerin aku dulu?"
"Dan kamu bisa nggak, nggak motong penjelasan aku? Biar aku selesai dulu, Ray. Please.."
"Mmh, silakan."
"Sayangnya aku lupa apa lagi yang tadi mau aku muntahin."
"Auri, aku minta maaf.."
"Iya, aku maafin. Aku pasti maafin kok, Ray. Tapi maaf, aku nggak semudah itu ngelupain. Aku pergi untuk berdamai, Ray, bukan melupakan. Aku pergi untuk mengubah kebiasaan."
"Kebiasaan?"
“Ya, kebiasaan.”
“Kebiasaan apa?”
"Melupakan. Itu nggak manjur sama sekali. Suatu saat pasti lukanya menyembul lagi. Terus, aku, perih lagi, pedih lagi, sakit lagi. Aku capek, Ray. Aku nggak bisa lagi lari ngejar kamu. Kamu minta aku untuk tetap, tapi kamu juga yang buat sekat. Yes, between us. Can you see it?"
"Auri―"
"Aku harus, Ray. Maaf."
"Tapi aku sayang kamu, Ri."
"Juga dia."
"Auri, cuma kamu!"
"Aku pamit, Ray. Semoga kamu bahagia"
"Aku sayang kamu, Ri..."
"Selamat tinggal, Ray."


*****


Apa aku tak salah lihat? Ada bening kristal di sudut matanya. Memantulkan surya, memantulkan hangat surya. Apakah Rayan menangis?

Ah, masa bodoh. Kau tak boleh jatuh lagi, Auri! Jangan menoleh. Teruslah berjalan pergi. Toh, dia tidak berusaha menahanmu, memanggil, mengejar, atau tindakan apa pun yang menunjukkan keinginannya bertahan. Nihil! Apa kau lupa jeratnya yang selama ini menggantung lehermu? Kedekatannya dengan sahabatmu, panggilan-panggilan mereka, kemesraan mereka? Apa kau lupa? Hah?

Kau sudah memikirkan ini baik-baik. Kau tak boleh gagal lagi. Tidak kali ini, atau pun nanti! Tidak boleh, Auri. Tidak boleh!

11 komentar:

  1. terus rayan nya masih ada hubungan nggak sama sahabatnya itu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Entahlah. Auri nggak tahu dan memutuskan untuk gak usah tahu. Terlalu menyakitkan, katanya :)

      Hapus
  2. ini tentang korban PHP ya??bagus ceritanya, terharu karna pernah ngalamin mwehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. I ye a ya, iya! :3
      It was inspired by my friend :D true story :p

      Hapus
  3. tunggu dulu ini apasih??
    ini perdebatan dua pasang kekasih yang sudah sering berantem terus putus gitu?
    aku sih nangkapnya gitu..
    #emmm

    BalasHapus
  4. Aduh, kenapa namanya Iskandar sih? Sama kayak nama... Ah, sudah lah. Hahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. nama apa nis? mantan yah haha
      apa nama toko sebelah :D

      ini ceritanya si ray ini PHP yah ckckc kurang ajar nih cowo.

      Hapus
  5. PHP itu nyesek banget ya, belum pernah saya. Hehee. Semoga bisa segera mup on^^

    BalasHapus
  6. bingung waktu baca percakapanya gak ada keterangan siapa yang bicara hehe, tapi bagus kok ceritanya juga endingnya :)

    BalasHapus
  7. ya udah lah nggak papa daripada bertengkar mulu khan mending putus. nangis juga bentaran doang, ya syudah nggak papa.. @.@

    BalasHapus