Minggu, 14 Juli 2013

(Tak Jadi) Menjual Kenangan



"Iya, maaf. Tapi Mbak, laki-laki itu selalu ingin membuatku jengkel. Seenaknya saja namaku diganti."
"Memangnya dia memanggilmu apa?"
"Elle."
Ifa terbahak mendengar jawabanku.
"Kamu marah cuma karena itu? Priska diganti menjadi Elle kan, masih enak didengar."
Aku menatapnya dengan kesal. "Yang adikmu itu aku atau dia, Mbak? Semula, dia menyebutku Prisma. Dia cuma mau membuatku marah."
Kakakku makin kencang tawanya.
"Kenapa kamu jadi sewot begitu, sih? Sudah sana, pacarmu kasihan. Kelamaan menunggu. Kurasa, Leon cuma ingin jadi istimewa."
Aku segera teringat Wima lagi. Tanpa diingatkan dua kali, aku bergegas menyebrangi halaman. Tapi, kalimat terakhir kakakku, menghentikan langkahku. Menjadi istimewa? Untuk apa?
"Maksud, Mbak?" keningku berkerut.
"Diat tidak mau memanggil namamu dengan nama yang biasa digunakan orang lain. Dia memberi nama yang berbeda. Pasti karena dia ingin kamu mengingatnya tidak sama seperti yang lain."




Hmm...
Merasa istimewa...
Panggilan yang berbeda...

Apa yang kubaca barusan mengingatkanku pada sesuatu...
Flo. Begitulah ia memanggil namaku..

Aku tidak percaya sudah tak lagi mendengarnya. Mendengar 'Flo' terlontar dari sepasang bibirnya. Ia. Hanya ia..
Hanya ia yang memanggilku begitu. Jangan tanyakan padaku apa sebabnya. Tanyakan saja padanya.

Aku tidak percaya, aku hampir melupakan ini. Flo. Aku tidak percaya, aku merindukan ini. Flo..

Pernah suatu senja, saat kami sedang berdua, seorang teman datang menyapa. Temannya, ya, aku sendiri hanya kenal sebatas wajah serta nama. Andri, begitu telingaku menangkapnya. Mungkin, setali tiga uang denganku, ia hanya tahu wajah serta namaku. Mungkin (lagi) itu latarnya memanggilku, Flo..

Kenapa Flo? Karena, ya, memang namaku Flo. Floriana. Floriana Rainy, tepatnya.

Senja itu aku hanya menjadi pendengar. Dan terrekamlah percakapan ini..
"Eh, Han, liat Aminah nggak?"
"Enggak tuh, nggak liat."
Andri tampak memikirkan sesuatu sebelum melempar pandang padaku, "Eng, Flo, liat Aminah?"
Belum sempat aku membuka mulut, Farhan sudah menjawab, "Eh, apaan tadi, coba ulang."
"Apa? Flo, liat Aminah nggak?" ulang Andri gagap, sekaligus bingung.
"Yeuh, lo nggak boleh manggil dia Flo. Yang boleh cuma gue."
"Hah? Emangnya kenapa? Gue kan taunya namanya Floriana, jadi―"
"Lo panggil dia sama kayak temen-temennya aja, Ainy." potong Farhan.
"Lah, emang―"
"Udah, pokoknya nggak boleh. Ainy itu milik semua orang. Tapi Flo, milik gue seorang." potong Farhan lagi.
Aku yang saat itu hanya diam, tak kuasa untuk menahan warna merah merekah di pipiku yang rona. Kini pun, aku masih mendekapnya...

Namun apa yang terjadi kini tak mampu lagi kuluruskan. Pun orang baik yang berusaha membantuku meluruskan, tidak ada. Sama sekali tidak ada.
Terakhir yang kuingat, kau pinta aku ikhlas melepas. Melepas apa?! Satu-satunya yang terlintas dibenakku saat mendengar kata itu adalah sinkron dengan ikatan. Tapi, tunggu dulu! Tunggu dulu..
Memangnya, apa yang mengikat kita? Bisakah kau jelaskan?

Namun badai pasti berlalu..
Aku percaya itu. Maka pertanyaan itu hanya kusimpan dalam kotak sakral berisi semua keping berjudul kenangan..

Aku pernah berniat menjualnya. Tapi ternyata tak kuasa. Maka biarlah aku menyimpannya. Sendiri...

Sudah. Aku menyerah.
Aku mengaku; Aku rindu. Padamu.
Ya, padamu..

18 komentar:

  1. berbuah cinta, berbuah rindu., haha


    elle ya nggak apa2, itu kan artinya dia (perempuan) dalam bahasa perancis

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, kok tau itu bahasa perancis? hebat :D

      Hapus
  2. Ini true story ya? Kirain fiksi. Hehe.

    BalasHapus
  3. Floriana Rainy?
    Unik yah namanya..

    BalasHapus
  4. Aduh galau...
    true story..? wow, jd berasa mkin galau-nya... hehe

    BalasHapus
  5. Balasan
    1. berarti pesannya sampe ya? *jejingkrakkan*

      Hapus
  6. Eh iya kirain semacam cerpen gitu. Wah asik nih. Lanjutkan ceritanya, bikin novel gitu kek ^_^

    BalasHapus
  7. Yuhuuu...
    Menyerah untuk rindu...?
    berari rindu adalah sebuah penyerahan?

    BalasHapus
  8. iya sama, skg orang yang memanggil ku dengan sebutan khusus nya untuk ku juga sudah tidak ada

    BalasHapus
  9. ciiyyeeee
    fiksi bukan nih?
    tapi emang gitu sih, kata orang panggilan berbeda itu utk org istimewa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ini non fiksi yang difiksifiksiin kak :p

      Hapus