Senin, 17 Juni 2013

The Dreamgiver


Teng! Tengg!! Tenggg!!!
Jam di ruang tengah itu berdentang seram, tanda sang malam tengah membuka gerbang. Belum selesai bulu kudukku bergetar, aku sudah mendengar satu lagi suara. Kalau lebah mungkin berdengung, tapi kalau nyamuk? Menguing? Ah, apalah itu namanya, yang jelas dalangnya nyamuk. Tapi ada yang lain kali ini. Suaranya terdengar lebih ngebass, lebih berat, dan lebih menegangkan. Kalian tahu film Jumanji? Ya, nyamuk-nyamuk seperti di film itulah biang keladinya. Besar, terbang, seram, dan menguing!

Seketika hawa dingin merambati kulitku, tidak pelan, tidak juga cekatan. Menyeramkan! Pokoknya menyeramkan!

“ A d a   y a n g   l a i n   d i   h a t i m u
Y a n g   m e m b u a t   j a n t u n g k u ,   g u g u p   t a k   b e r d e t a k
A d a   b e l a t i ,   d i   b o l a   m a t a m u
Y a n g   m e m a k s a   d i r i ,  t u k   b i l a n g ,
A k u   l e l a h   d e n g a n m u . . . “


Dan untuk malam ke sekian kalinya malam, aku masih belum bosan memutar ulang lagu itu. Lawas memang, tapi bagaimanalah jika sudah jatuh cinta?
Pun malam ini, sebelum jam tua itu berderak, sebelum koloni nyamuk itu datang menguing, lagi-lagi aku sedang tersedu mendengarkan lagu itu. Sampai akhirnya Ia bangun.Ia siapa? Yaa, siapa lagi kalau bukan lelaki yang ada dalam cerita sebelumnya. Ah, ya, aku lupa mememberi tahu kalian namanya. Baiklah, walau pun mungkin agak telat, oke, ia menyuruhku memanggilnya, Sam. Entah siapa lengkapnya. Ia memang penuh misteri. Jangan-jangan semua laki-laki sikapnya begitu (?)

Tapi ia bukan bangun karena terganggu nyanyiku, bukan. Setali tiga uang denganku, karena nguing itu. Apa yang kubilang tadi, suaranya lebih ini, lebih itu, lebih bla bla bla... Dan apa lagi tadi yang kubilang tentang nyamuk film Jumanji, nyamuk-nyamuk itu persis terbang berbondong menuju rumahku ini. Eh, maksudku rumah Sam.

Aku tak tahu apa mau mereka, dan dari mana pula datangnya? Apa jangan-jangan Sam baru saja bermain Jumanji? Aku tak sempat memikirkannya. Jangankan memikirkan, berpikir untuk memikirkannya saja aku tak sempat.

Nyamuk itu benar-benar berukuran raksasa! Dengan sayap raksasa, mata raksasa, dan juga sungut raksasa. Begitu mereka berhasil mengepakkan sayapnya di bangunan ini, nampak rupa mereka ternyata benar-benar menyeramkan. Sangat menyeramkan. Aides aegepty yang badannya kecil saja bisa membuat orang kehilangan nyawa dengan DBD yang ditebarnya. Apalagi yang sebesar ini!? Dengan sungut yang juga sebesar ini!? Bisa kalian bayangkan?

Huh! Bagaimana ini bisa lebih buruk lagi? Malam-malamku yang biasanya saja sudah pekat sekali kelabunya. Ditambah majikanku, Sam, yang selalu lupa menyiramku. Ditambah pula dengan lagu lawas yang membuatku seperti cucian basah yang diperas, kemudian dicelupkan lagi ke air dan diperas lagi, dan dicelupkan lagi, dan diperas-peras lagi, dan seterusnya... Dan sekarang, nyamuk-nyamuk ini?

Namun apa yang ia lakukan malam ini sungguh membuatku kaget setengah mati! DEMI TUHAN! Ini sakit sekali..
 Lihatlah! Dengan gagahnya ia menyembunyikan seorang gadis di balik punggungnya. Berlagak pahlawan dengan melindunginya! Siapa gadis itu, mana ku tahu!! Aku sudah terlanjur kalap; berusaha menangkis serangan nyamuk-nyamuk super besar dan super seram itu, mengendalikan emosi demi mendengar lirik lagu yang masih mengalun sendu, cemburu, terbakar cemburu melihat Sam dengan gadis itu! Belum tuntas hasrat ingin menahan air mata bekas mendengar lagu, air mata dengan volume yang lebih besar sudah berebut jatuh dari dua kelereng kembarku.

Aku menangis saat itu. Tapi ia tidak peduli, ia tetap dengan gadisnya. Sibuk melindungi gadis barunya. Apakah gadis sebesar aku ini tak terlihat olehnya? Apa sih, yang dia pikirkan?! Memangnya aku ini, ah! Sudahlah! Sudah terhitung dua ekor nyamuk yang berhasil mencicip sedikit darahku. Urusan Sam belakangan sajalah! Aku lelah! Aku jengah!

Untuk sepersekian detik aku teringat sesuatu, mungkin saja gadis itu sama sepertiku. Mungkin saja ia juga hanya setangkai bunga yang terpercik hujan sihir di hutan ajaib. Semua tangkai bunga yang yang pernah merasakannya, akan menjelma menjadi seorang gadis pada tiap tengah malam di bulan purnama setiap bulannya. Yah, seperti aku.

Tapi, tetap saja ini menyebalkan! Purnama adalah saat yang palin kutunggu. Saat di mana bulan selalu tampak lebih besar, lebih indah. Saat di mana bulan bersinar sepenuh jiwa. Tapi, sepertinya ada pengecualian malam ini. Aku jengkel! Aku benci! Aku benci!!

Dan saat hatiku tak lagi sanggup bertahan, saat aku mulai memberanikan diri berjalan mendekati mereka, saat ternyata aku tak sadar ada seekor nyamuk yang  sudah berada di samping ajahku, dan... Teng! Tengg!! Tenggg!!!

Jam di ruang tengah itu berdentang seram, tanda sang malam tengah membuka gerbang. Belum selesai bulu kudukku bergetar, aku terengah-engah berpeluh di sekujur tubuh. Ternyata, hanya mimpi...
Tapi, rasanya begitu nyata, begitu, sakit, menyesakkan dada, begitu, nyata...
Dan bayang-bayang wajah gadis yang dilindungi Sam itu, aku masih igat benar rupanya. Seperti pernah melihat, tapi.. Hei, sudah keburu pudar... kini ingatanku samar-samar. Tapi biar sajalah, biar ia hidup dalam mimpi saja. Dan ternyata, aku juga tak berubah saat bulan sedang purnama. Hujan sihir dan hutan ajaib itu rupanya tak pernah ada...

Semua yang indah, kenapa hanya terjadi dalam mimpiku, bukan hidupku? Kenapa justeu yang sedih-sedih? Yang duka-duka, yang luka-luka, yang justru nyata adanya. Harapan yang ada, dibuat sekan tinggal selangkah ku di depannya, dibuat musnah, begitu saja musnah... Oleh seseorang, yang menyuruhku memanggilnya Sam.

Ah, mimpi yang menyebalkan! Sama seperti Sam, menyebalkan! Yah, walau pun aku tahu itu hanya bunga tidur, tapi, tetap saja, Sam memang menyebalkan!
Kau menyebalkan, Sam! Menyebalkan!! Menyebalkan!!! Menyebalkaan!!!!

8 komentar:

  1. ceritanya mengalir, mantap nih :)

    BalasHapus
  2. saran yah, tema blog kamu pusingin -__-
    tombol rss fb twit itunya loh

    terus sama postingannya kurang rapih, dan jangan pakai comic sans atuh :))

    -----

    keep posting ya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, he'eh, aku tau,
      aku juga mau singkirin tapi lupa mulu :D hehe

      siap posting mah kakak ;)

      Hapus
  3. bagus, i like your post :-)

    BalasHapus
  4. ceritanya cukup menarik, apalagi pas gak ada bacaan.... thakz,,,

    BalasHapus