Jumat, 24 Mei 2013

Layu



Ia bilang ia jatuh cinta padaku! Ini, sungguh...
Ah! Betapa bahagianya aku. Dijatuhi cinta pria macam dia. Postur tinggi, hidung (nyaris) mancung, kulitnya hitam legam, manis. Ia tampak, berwibawa. Yah, mungkin rambutnya agak berantakkan. Oke, oke, sangat berantakan. Tapi, manis. Sangat manis.

Tunggu dulu, tapi bagaimana bisa? Bukankah, masih banyak yang lebih menggiurkan mata daripada aku? Aku ini bagai itik buruk rupa. Lihatlah sekelilingku, aku redup di antara yang bersinar. Bagaimana...

"Aku tidak peduli," Sanggahnya, "Aku inginnya kamu. Bagiku kau tampak sejuta kali lebih indah. Ikutlah denganku, aku berjanji akan merawatmu." Ia mamaksaku, halus.

"Entahlah, tapi aku... Hei, apa yang kau..." Terlambat. Sepertinya ia tak berminat tawar menawar. Bahkan Sebelum aku berontak, ia sudah menarikku. Membawaku pergi, entah ke mana.

"Hei, Tuan, mau kauke-mana-kan aku? Kau ini sungguh Tuan yang tak cakap bertatakrama." seruku.

Dan lihatlah, ia benar-benar tak punya secuil pun sopan santun. Abai. Sama sekali abai. Menyebalkan.

Tak hanya sekali dua kali aku menegurnya, menyemprot serapah, marah-marah. Tapi ia tetap tak bergeming. tetap dengan tangan yang menggenggamku erat.

Hingga aku memutuskan untuk lelah, barulah ia membuka mulutnya, tertawa, "Aku pikir kau tak akan berhenti, Nona manis." Ia masih tertawa, aku jengkel. Tawanya menyembur lebih keras saat menatapku, aku semakin jengkel. Apa-apaan orang ini, ternyata ia tak semanis wajahnya, batinku.

Pegangan pada perutnya mengendur seiring tawanya yang menyurut. Ia kembali membuka mulut, "Huh, rasanya aku sudah lama sekali aku tidak tertawa. Kau tahu, Nona, aku lupa caranya."

'Sekarang apa? Dia mau curhat?'

"Hidupku sepi sekali. Semua orang tiba-tiba saja pergi meninggalkanku. Ya, sendiri..." garis-garis di wajahnya terlihat semakin nampak, garis-garis yang menceritakan segalanya.


Panjang lebar, ia ceritakan setengah hidupnya, atau mungkin hampir semua? Mungkin, lebih tepat kalau kubilang empat per lima hidupnya. "Menyedihkan, bukan?" tutupnya.

Setelah mendapat lebih dari cukup penjelasan dari bibir hitamnya―ia seorang perokok―salah satu yang kutangkap dari ceritanya, yang sempat membuatku bergidik, berapa lama aku bisa tahan dengannya?―akhirnya aku bisa menghela napas lega. Tapi aku hanya diam. Tepatnya, lebih ingin diam, aku ikut sedih mendengar kisahnya. Tapi sebaiknya tak perlu kuceritakan pada kalian. Ya, bisa jadi sebuah aib.

Itulah cerita hampir dua tahun yang lalu. Ini nyata, hei. Jangan pikir aku hanya mengelabui kalian. Toh, buat apa juga?

Sampai detik ini aku masih?dengan setia?mendampingi hidupnya. Meski tertatih. Bagaimana tidak? Dahulu, ia bilang ia akan berhenti merokok demi aku. Tapi lihat faktanya! Aku bahkan perlu berjuang hebat untuk sekedar bernapas.

Bingung? Mungkin, ya. Baiklah, biar kujelaskan siklusnya.
Pertama, Aku hidup berdua dengannya. Hanya berdua.
Kedua, Setiap hari sudah barang tentu aku bertemu dengannya.
Ketiga, Setiap kali ia stress, ia langsung menghadapku, mengadu.
Keempat, Setiap kali ia stress, ia melanggar janjinya. Ya, ia merokok di depanku.
Kelima, Ia semakin sering stress.
Keenam, Aku rasa aku terjangkit ISPA.

Bagaimanalah ini? Aku pun tak tahu lagi harus melakukan apa? Ia bilang akulah yang membuatnya tak jadi layu. Membuat hatinya tak lagi sendu.

Pernah suatu hari ia berpuisi untukku, "Datanglah kau kekasih, dekap aku erat-erat. Jangan buang peluhku yang tulus, biarkan hujan turun basahi jiwaku yang haus."

Dan entah dari mana datangnya, aku membalasnya, berbisik, "Aku akan selalu di sisi. Seumpama daun pisang yang melayu, namun tetap memeluk batangnya, kubiarkan hatiku memeluk dirimu, selama-lamanya..."

"Tidak, jangan dulu layu," Katamu, "Jangan dulu layu sebelum usiaku benar-benar sayu. Berjanjilah padaku, masayu." Hei siapa itu masayu? "Dekap aku dan jangan pernah layu..."


Sekarang, ada yang bisa menjelaskan? Kenapa pria suka plinplan begitu? Dulu ia yang memintaku untuk tidak layu. Tapi bagaimana aku bisa menghindar dari asap yang mengukungku ini? Ia tak pernah berterus terang padaku tentang masalahnya. Lalu, bagaimana aku bisa membantu? Di depanku ia terus saja menggerutu. Ia hanya menjadikanku objek menggerutu. Dan, apakah aku berhak puas untuk itu?

Mungkin keadaannya akan lebih baik jika saja dia masih ingat untuk menyiramku. Tapi, sebaiknya aku tidak perlu repot-repot berharap, Karena kawanku, Hujan, senantiasa mengingat dan terjun bebas menyelamatkanku. Untungnya tempat aku berdiam adalah di tepi jendela balkon atas, jadi cipratan air dari kawanku itu masih sanggup menggapaiku.

Terakhir kali ia datang, ia bilang aku kurus sekali, keriput pula. Ya ampun, aku sendiri tidak pernah sadar atas perubahan-perubahan yang terjadi padaku. Benarkah aku seburuk itu?

Mungkin faktor kelebihan menghirup gas abu itu, ditambah kepeduliannya yang lupa menyiramku. Aku benar-benar sekarat sekarang. Aku mulai layu. Andai ia tahu...

Sayangnya, makin ke sini ia makin tak terlihat begitu mengingatku. Ia semakin jarang menjengukku. Aku sebenarnya ingin saja mendatanginya. Tapi, hei, yang benar saja, mana bisa aku loncat-loncat menuju kamarnya sambil mengangkut pot tempat berdiangku. Terlalu tidak mungkin. Telalu berat,-

Aku bahkan kini lupa, aku ini spesies apa? Yang jelas sih, bukan mamalia, hanya setangkai bunga. Setangkai bunga buruk rupa. Tapi, apalah artinya jika layu hendak memutus nyawaku. Akankah ia mencari bunga-bunga baru? Entahlah. Kurasa, aku lebih baik tak usah tahu.

Lantas semua ini salah siapa? Salahnyakah? Atau salahku? Atau salah masalah yang menimpanya? Atau siapakah? Atau, bisa jadi bukan salah siapa-siapa. Sepertinya aku menyukai ide yang terakhir.

Tak sepatutnya mencari siapa yang salah. Mungkin ini kehendak Tuhan. Mungkin saja Tuhan bermaksud menggembleng kita supaya menjadi pribadi yang lebih kuat. Mungkin...

Jikalau memang benar begitu adanya, aku rasa aku ingin berdoa saja... Karena, bagaimana pun skenarioNya, Tuhan tahu mana yang terbaik untuk hambaNya. Selalu...


sumber










May 19th 2013

Tepi jendela lantai dua

38 komentar:

  1. ceritanya keren.. dari awal yang tergambar dalam pikiranku adl cerita tentang seorang wanita dan lelaki eh rupanya 'aku' dalam cerita dia atas adalah bunga.. nice story^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, terima kasih :))
      gatau kenapa, aku suka aja pake sudut pandang sebagai tanaman :D

      Hapus
  2. Keren kisahnya...pengin bisa bikin kisah kayak gini, tips-nya gimana sih? Salam kenal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga, Anton :)
      ide ceritanya aku dapet dari sms, terus iseng aja dituang ke wadah yang lebih imajinatif :D maklum, emang suka mengkhayal, hehe..
      Untuk tips, aduh, gimana ya? Ini juga masih belajar, masih coba-coba. Ya, tulis aja apa yang dipikirkan. Urusan ngedit, nanti-nanti :D

      Hapus
  3. hampir aja tertipu, kirain romansa dua remaja, ternyata kisah 'bunga'. Balutan ceritanya keren banget! #ThumbsUp :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebenarnya, kisah romansa tiga remaja, eh, dua maksudnya, yang dikemas dalam bentuk lain, hehe :D iseng aja. terimakasih jempolnya yaa ^^

      Hapus
  4. pepatah mengatakan, pria bukan prokok, tanda tak jantan..wkwkwk

    keren tulisannya, kata2nya bagus, jd pnasaran baca ceritanya sampe habis..hehe

    BalasHapus
  5. Keren nih tulisannya. Mengalir aja gitu, tapi buat penasaran :D

    BalasHapus
  6. kalau baca kayak ginian, jadi pengen nulis nih :)

    BalasHapus
  7. uwaaaaaa... Kereeen! T_T bagus!
    nama blognya juga bagus, ini serba bagusm dari blog sampai postingan

    Salam kenal, perdana main kesini nih ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. yampun, terima kasih banyak, pujiannya ^^
      jadi terharu :'D
      semoga tidak lekas menjadikan saya tinggi :)))

      Hapus
  8. wuidihh... gue kirain tadi cerita lo sama pcar lo, ternyata tnman yak ?
    keren banget dah tlisan kyak gni, bkin org hrus kudu wajib buat baca smpai abis

    BalasHapus
  9. aaaaaaaaaaaak, keren banget deh ni cerpennya. Sukak! coba deh kalau ini dikirim ke majalah gitu siapa tahu bisa tembus dan dipublish...aku suka cerpen ringan, diksi syahdu dan akhiran yang sama sekali tidak terduga. jadi pingin buat jga..enaknya aku jadi apa yaaa...kucing, bunga, dompet, rok, atau uang?? hehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku suka bunga, kak mey :3ah, kalau kirim-kirim gitu nilam kurang pede (-"-)

      Hapus
  10. Hebat !!! (Ʃ⌣ƪ)

    BalasHapus
  11. sama seperti yang lain..
    saya juga tertipu...
    padahal tadi udah baca twit kamu ke @nulisbuku kalau 'tokoh utama cerita ini adalah bunga' -_-" hahaa
    dan ini KEREN!! :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. tapi jangan dilaporin ke polisyih yaaw karena tuduhan [enipuan xD
      terima ksih atas kunjungan dan pujiannya ^^

      Hapus
  12. Salam kenal... :D
    Suka banget ceritanya. Tadi lihat @nulisbuku dan baca tentang pohon angsana di blog sebelah, dan sekarang tokoh utamanya bunga.
    Dua-duanya bagus dan menyentuh. Kerennnn....!
    Ternyata menulis cerita bisa juga pakai karakter selain manusia.
    Pengen juga bisa bikin cerita kayak gini. XD
    Happy writing! :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. waah, senangnya :D
      salam kenal jugaa ^^
      ayo kita nulis ;D

      Hapus
  13. Keren >.<
    Tapi kok aku gak dapet sudut pandang dari sosok cowonya ya?

    BalasHapus
  14. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  15. wow, amazing!
    tulisannya mengalir banget, apa adanya, ga maksa. keren (y)

    BalasHapus
  16. Saya juga ketipu nih kak, saya kira seorang laki-laki yang jadi tokohnya :)
    Salam kenal sebelumnya, boleh minta ajarin
    hehe

    BalasHapus