Senin, 28 Januari 2013

Jangan Dibaca! Nanti Sakit!



Jangan dibaca! Awas, nanti sakit!


Heeei....? Yakin mau baca? Nggak takut sakit? Yaudah. Terserah. Resiko ditanggung pemenang yah!


                Cerita ini bermula ketika..., ah! Bahkan aku tak tahu permulaan cerita ini. Tidak. Tidak. Aku bukan tidak tahu. Hanya lupa. HANYA LUPA. Atau mungkin lebih tepatnya melupakan.. Entah! Aku bahkan ingin segera enyah!
                Sebelumnya aku sendiri bingung cerita ini tentang apa. Kemarahankah? Kekecewaan? Kebencian? Atau, entahlah apapun itu... Oke. Mari mulai!




                Kamu tahu, emosi adalah tindakan yang muncul akibat tak terkendalinya perasaan. Ya, mungkin kamu sudah tahu. Kamu kan, pintar.
                Hemm.. Kamu tahu, apa definisi 'sakit' itu? Ya. Lagi-lagi aku rasa kamu sudah tentu tahu, bukan?  Kamu kan, memang hampir selalu tahu. kamu memang pintar!
                Dalam sebuah Kamus Online dikatakan bahwa sakit adalah persepsi seseorang apabila ia merasa kesehatannya terganggu. Sedang menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), sakit berarti rasa tidak nyaman di tubuh (bagian tubuh) oleh karena menderita sesuatu. Lalu, apakah kiranya definisi sakit menurut pandanganmu, Manis?
                Tunggu, tunggu. Akusedang tidak merayumu. Aku hanya mencoba bicara sesuai fakta. Ya. Kamu memang manis. Jadi, boleh, aku memanggilmu begitu? Boleh yah? (Biasanya) pasti boleh. Kamu kan, baik.


                Nis, aku tahu kamu sayang aku. Pun denganku! Kamu perlu camkan ituAku juga tahu kamu rasa luka, bukan? Ya! Setali tiga uang denganku! Aku rasa kamu perlu tahu itu. Mari kutunjukkan hipotesaku...

                Aku tak begitu paham alasanmu. Aku tak jua mengerti kenapa kamu bisa sesakit itu? Menurutku itu berlebihan, Nis. Tidakkah kau sadari itu? Sedalam itukah kamu sayang  aku, hingga sedalam itu pula kau duga kutancapkan selaksa lara? Nis, kamu sudah besar kan? Kamu seharusnya bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk buatmu. Tenang, aku bukan bermaksud untuk kembali masuk dan merusak hidupmu, seperti katamu itu. Aku, hanya ingin mengingatkan. Itu saja..




                Nis, aku bingung. Aku tak tahu harus dengan frasa apa mengungkapkannya. Aku hanya tahu kamu rasa sakit karena aku. Tapi aku, tak tahu apa dan di mana salahku...
                Kemarin, kamu kirimkan sebait pesan indah padaku. Ingatkah? Iya, indah. Indah di mata para jin penggoda. Aku yakin mereka saat ini sedang tertawa bahagia melihat hubungan kita. Nis, aku minta maaf. Maaf telah menyakiti dan mengecewakanmu. Maaf, telah lancang masuk dan mengganggu hidupmu. Seperti katamu.....

                Dan maaf, untuk luka tertanam yang aku sendiri bahkan tidak tahu kapan dan bagaimana aku bisa tega melakukannya....







                Kamu mungkin sedang tersenyum sinis membaca ini. Atau bisa jadi malah menagis, lagi (?) Tentunya jika kamu sedang berbaik hati dengan urusan ini.. Ku tahu, diam-diam di hatimu telah turun berkubik-kubik hujat dan sindiran. Namun aku tetap berharap aku salah. Karena aku masih ingat, Nis, tentang si Kembar tapi beda yang pernah kamu ceritakan itu.. Iya, tentang si Kembar Husnudzan dan Su'udzan..
                Kamu itu gadis baik, Nis. Gadis kuat yang kukenal ramah, sabar dan selalu berpikir positif. Itulah sebabnya aku bingung dengan sikapmu yang sekarang ini... Seperti bukan kamu, Nis... Atau mungkinkah aku yang selama ini telah salah menilaimu? Aku tidak yakin..
                Kamu bukan si Manis yang ramah dan murah senyum lagi. Kamu bukan lagi si Manis yang selalu optimis. Kamu yang sekarang adalah kamu yang seakan penuh benci. Kamu yang sekarang, adalah kamu yang tetap manis meski telah tercoreng sinis. Kamu kenapa sih, Manis?

                Begitu jahatkah aku, di matamu? Sudah begitu jauhkah aku meninggalkanmu? Sudah tidak peduli padamu, itukah tuduhanmu? Jika memang iya, maka kumohon, maafkanlah, Nis.. Bukankah kita mempunyai dunia dan kesibukan masing-masing?
                Kau tahu, ini semua mengingatkanku pada sepenggal kisah milik relasiku. Hampir mirip, Nis. Untung hanya sampai di kata hampir. Aku senagng kamu tidak sampai berniat untuk melukai dirimu sendiri. Setidaknya, kamu masih sayang pada diri..
                Nis, jika kamu memang ingin dimengerti, cobalah untuk mengerti orang lain terlebih dahulu. Jika tidak begitu, maka.. Ah, sudahlah. Aku tidak ingin menghakimimu, -lagi.

                Nis, sepertinya kamu sangat menyesal ya, mengenalku? Tapi aku rasa, aku patut bersyukur atas itu. Karena rasanya, apakah mungkin penyesalan itu ada jika hanya kepada secuil hal sepele? Bukan begitu? Aku pernah berati, kan? Ya. Kamu juga. Sayangnya kamu sudah memantapkan hati untuk ketuk palu dan tutup semua indra, jika ada yang bersangkut-sangkut denganku. Tak apa. Aku tidak marah. Aku hanya, pasrah..
                Tapi tolong jangan sangkal dulu! Tolong pindahkan sudut pandangmu dahulu! Pindahkan dengan menjadi aku. Rasanya sakit, Nis...

                Padahal aku sudah sisihkan uang untuk menyiapkan hadiah paling spesial untukmu. Februari nanti usiamu bertambah, bukan? Yah, sepertinya aku tidak akan mungkin akan sempat mengucapkannya.. Jadi aku duluan saja ya.. "Selamat Ulang Tahun, Manis.. Ya barakallahu fi umrik..."


                Nis, aku rasa ini sudah lebih dari cukup. Draft surat ini, aku sudahi saja yaa.. Aku takut kamu malah semakin benci. Lagi pula, peduli apa kamu dengan penjelasanku... Kebencian hanya akan menyakiti dirimu sendiri. Maka Nis, berdamailah...

                Nis, kalau kamu jadi pergi, hati-hati yah, Nis...
                Byee......








Tertanda,
Aku yang sama lukanya.

18 komentar:

  1. aku pikir tadi untuk yang bukan muhrim, ternyata untuk sahabat mu ya?? uhmm...masalahnya berat amat kayak nya Aini..semoga suatu saat bisa tuntas dan bersahabat lagi yaaa...because friends are worth-fighting for :)

    betewe backgroundnya ganti nggak sih? kok kayaknya terakhir keesini nggak kayak gini. kalo ganti, punyaku juga sekarang baru lhooo...:3

    BalasHapus
  2. ya ampun, nyentuh amat *ngilap ingus*

    BalasHapus
  3. :( semoga ada jalan ya buat kalian berdua.. sedih bacanya

    BalasHapus
  4. nice post :D salam kenal yaa

    BalasHapus
  5. hahaha
    kok jadi ngakak ya baca postingan ini??
    tapi ya sedih juga sih, karena kan sahabat adalah teman yang apling baik, semoga ntar bisa balkan lagi ya mbak :)

    BalasHapus
  6. Kok bisa gitu?
    Sedih banget bacanya, semoga cepet damai yaa :/

    BalasHapus
    Balasan
    1. amin. terima kasih :)
      sudah damai kok ^^

      Hapus
  7. Allah SWT. berfirman:
    Fa-inna ma'a l'usri yusraa
    Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan
    Surely with difficulty is ease.

    Inna ma'a l'usri yusraa
    sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan
    With difficulty is surely ease.
    (QS. Al-Insyirah 5-6)

    Yang sabar aja mungkin ini ujian untuk kalian, dan Allah tak akan menguji hambanya melebihi kemampuan hambanya!

    #Periksa tulisan di bagian: "Kau tahu, ini semua mengingatkanku pada sepenggal kisah milik relasiku. Hampir mirip, ....."
    ada yang salah tuh....

    NR_Ali_Asy-Syarif

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku nggak ngerti masa kaka, periksa gimana :D hehe

      Hapus
  8. i like this post

    BalasHapus