Minggu, 16 Desember 2012

Kurang Lebih

       “Radhit berlalu pergi, ia tersenyum. Senyum bahagia. Radhit merasa telah menemukan kembali harapan yang dulu ia kubur dalam-dalam. Harapan indah itu sekarang datang kembali, seperti munculnya bunga-bunga musim semi setelah tidur panjang pada musim dingin.
       Lea, bisik Radhit saat mengingat wajah Lea. Ia senyum-senyum sendiri. Seperti anak kecil yang sedang merasakan manisnya kembang gula. Bahkan, tatapan Lea berhasil membuat indra-indra tubuhnya sesaat seperti tak berfungsi. Terhipnotis wajah Lea yang cantik dan suaranya yang lembut.
       Pertemuan itu membuat Radhit melupakan apa yang sebenarnya ingin ia tanyakan sejak dulu. Kenapa kamu nggak datang waktu itu? Atau pertanyaan lain yang sama pentingnya, Selama ini, kamu ke mana Lea? Kenapa nggak pernah kasih kabar? Atau pertanyaan-pertanyaan lainnya yang sangat ingin Radhit ketahui. Namun, ia lebih memilih untuk diam dan tak bertanya apa pun. Ia tahu, mungkin Lea tak ingin siapa pun mengetahui masa lalunya.”*

       Kurang lebih, seperti itulah yang kemarin kurasa. Banyak hari yang telah kita lewati sendiri-sendiri. Dan itu berbanding lurus dengan banyaknya kuantitas kisah yang ingin diceritakan hati.
       Kurang lebih, seperti Radhit jugalah aku kemarin. Pertanyaan-pertanyaan yang sudah kusiapakan sebelumnya sama sekali buyar. Sama sekali pudar, bubar.
      Padahal aku senyam-senyum loh. Tapi kamu, yah, sibuk sendiri. Membuatku ingat akan sebuah pepatah -entah dari mana- yang mengatakan, bahwa kebanyakan anak laki-laki cenderung suka ‘memamerkan mainannya’. Memamerkan sesuatu yang menjadi kesibukannya. Seperti halnya kamu. Sibuk otak-atik buka-tutup bongkar-pasang mainanmu. Tapi tenang. Itu tak menggangguku, kok. Aku justru menyukainya. Amat suka. Kamu terlihat menggemaskan di mataku. Iya, menggemaskan..

       Dan, yah, seperti Radhit, aku lebih memilih diam, dan hanya menikmati guratan-guratan wajahmu. Polesan-polesan ceriamu. Sinar mata dan lengkung bibirmu.
       Aku hanya bisa, tidak! Aku tidak bisa! Aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku bisu. Aku diam, terpaku. Aku, aku, aku rindu! Aku rindu kamu! Sudah, itu saja. Itu saja yang kutahu. Itu saja..

       Lalu apa yang kamu pikirkan? Tentang diamku? Tentang bisuku? Apa aku boleh tahu? Bisakah kudengar ceritamu? Bisakah, aku?

       Entah. Aku kini malah resah. Resah memikirkan desah-desah penyulut gundah.
       Dan kamu. Ya, kamu. Bisakah kauramu, opinimu sendiri? Dapatkah kauterka makna air mukaku ini? Mampukah kaureka?

Jawabnya mudah saja..
Aku Rindu Kamu...
Itu saja..
Tidak kurang..
Tidak lebih..
Aku Rindu Kamu, kurang lebih..


sumber








__________________________________________________________________
*INGINKU - Sienta Sasika Novel

34 komentar:

  1. Ketika Aziz Azizah Galau

    Aku hanya punya satu hati
    dan itu hanya untukmu.
    Aku hanya punya satu cinta
    dan itu hanya untukmu.
    Aku hanya punya satu kehidupan
    dan itupun hanya untukmu pula..
    Ketika Aziz Azizah Galau
    Waktu yang terus berputar tak kan mampu menghapusnya,
    hingga takdir sekalipun tak kan bisa merubahnya.
    Karena setiap asa yang kurasa,
    telah ku ukir di atas langit,
    dan ku tanam di dalam bumi.
    Agar kau tau
    bahwa cinta ini abadi selamanya.

    BalasHapus
  2. rindu yang pas yah, gak kurang gak lebih :)

    BalasHapus
  3. @kitab kejawen: itu azizah siapa lagi XD hehe
    nice poetry :))

    @kak oges: kakak nyanyi buat aku? Ouhh, cocwit :3 ckck

    @diniehz: begitulah :) hehe, makasih

    BalasHapus
  4. bahasa keren, mengungkapinnya lewat analogi pendeskripsian radhit.

    kurang lebih seperti radhit gue diam-diam menikmatinya saripati senyumnya :D

    BalasHapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  6. Yuhuuu *ngefly* makasih qaqa :3
    ciee senyum sapatu ;>

    BalasHapus
  7. bahasanya..nyess dihati... :)
    baru bw keblog mu nihh.. :)

    BalasHapus
  8. waw keren kali gaya bahasanya dengan penggunaan deskripsi gitu, wah elu bakat nih kayaknya

    BalasHapus
  9. Makasih kak rita dan kak rinem (yang ternyata cowok :P hehe) :))
    kebetulan emang hobi nulis juga :D hehe

    cihuy, kak ahmad kaan ~(^O^)~

    BalasHapus
  10. pengalaman pribadi? dikutip dari hati? oh sweet :)
    salam kenal ya, ini muti hehe :)

    BalasHapus
  11. Ini malah belum dituang semua :D hehe
    makasih kak muti a.k.a kak arai kunjungannya :))

    BalasHapus
  12. @nur aini : eh aku cowok yo hahaha, jan nguece tenan iki

    BalasHapus
  13. @rinem: habis yang kebayang inem inem gitu muku sih :D hehe maap maap ^^v

    BalasHapus
  14. aku seperti radhit, saat pertama kali ekor matamu tertangkap sedang menikmati guratan-guratan wajahku.
    kini, lebih dari apapun, aku kangen kamu Mas (Z)

    BalasHapus
  15. hahahaha... to nur aini, emang sih.. tuh jomblo yg namanya rinem mirip cewek hahahha

    BalasHapus
  16. kata-katanya nrecep dihati kak :') kalo kangen sama aku hubungin aja jangan gitu :p

    BalasHapus
  17. @kak nisa: tinggi tinggi hati membumbung. Mendesak dada ingin melesak, meledak. Menahan gejolak..

    @bang ahmad: wkwk nama yg mengecoh emang :p

    @aseh: hou hou tengkiyuu kamuu :3
    lagian kamunya gak muncul muncul sih, kan kangennya gak sembuh sembuh :P *eaa

    BalasHapus
  18. panas2 gini kamu ke mana si? q kangen nih | lah kok nanya lagi? kan aku lagi ngadem dihatimu #eeeaak

    BalasHapus
  19. kalau kata ariel ini tulisan "anda luar biasa" :D

    salam #BE

    BalasHapus
  20. susahnya kalo nama gua udah jadi branded pembantu

    BalasHapus
  21. lha gaplek, aq ra paham critane. maklum nggak baca kok :p

    BalasHapus
  22. kak, mana lagi nih postingannya? :)

    BalasHapus
  23. Ada kok kak. Tunggu aja deh :D hehe
    liburan aku kayak gak libur u,u
    udah ada bahan sih, cuma belum diketik aja hehe

    BalasHapus
  24. cuman saran aja, kalo bisa nih tulisan di edit dikit aja, terus di lanjutin ceritanya, copy semua, masukin ke penerbit.
    itu saran saya.
    moga aja bisa ya mbak :)

    BalasHapus
  25. RICOOOOOOOO tengs :D hehehe
    doain aja yah :)

    BalasHapus