Minggu, 28 Oktober 2012

Terbungkam Bahagia

Pranggg...
Tirai-tirai bersusun kerang itu pun berbenturan saat kusibak. Meramu seni nada abstrak tak beraturan. Kubeli dahulu saat berkunjung ke Parang Tritis, pantai -yang dulu- indah dan tenar akan besar volume ombaknya. Sayang, 2 tahun bergelayut di pintu kamarku membuat mereka kian rapuh. Pecah atas-bawah. Bolong sana-sini. Yaa, begitulah..

Penatku semingguan, tak kunjung terpangkas digerogoti waktu. Aku lelah. Namun, dengan sisa kepayahan, aku tidak lemah. Aku belum menyerah..

Kutepis kenur-kenur tipis bertusukkan cangkang tadi. Air! Satu-satunya jalan ringan penyalur keresahanku. Kutuju keran dapurku, kunyalakan, kemudian kubasuh rata Senyawa H2O itu di mukaku.

Dan air! Aku menginginkannya mengaliri kerontangnya kerongkonganku. Melayari alirannya menuju organ tempat penyaringan toksin-toksin dalam makanan yang kumakan..

Krincing krincing.. Sekarang suara besi bertubrukan. Besi kunci-kunci motor yang bertetanggaan. Seperti biasa -tak mau menunggu omelan- segera, kulangkahkan kaki menuju halaman samping, tempat tergoleknya saksi bisu perjalanan SMAku. Sahabat yang baik. Menemaniku, ke sana ke mari..

Sesaat aku merenung. Menatap gemintang di wajah langit. Bertebaran tak rapi, di sana sini. Selesai. Kucari Sang Dewi. Sahabat baikku juga. Kata temanku, "Bulan kan jelek, bopeng-bopeng gimana gitu.." sebentar, aku ingat buku yang baru sepersekian kubaca. Padang Bulan, kupinjam dari salah satu TBM faforitku. Tapi masa bodoh. Bulan, toh, juga ciptaan Tuhan. Tak baik mencela sesama ciptaan.
Dan aku tak menemukannya. Bukan, bukan karena ia berada di perigea bumi. Hanya saja, aku malas mengintipnya dibalik tembok-tembok gagah itu. Ya, aku malas. Aku sedang hilang semangat menyapanya. Aku takut ia melihat keruh air mukaku. Aku lantas masuk.

Aku menemui cermin, dan mencoba meminta sarannya. Macam lagu Michael Jackson saja, Man In The Mirror. Aku berdiri dan menatapnya. Aku melihat sayu matanya, dan menemukan kecapaian dalam pencapaian yang belum sepenuhnya tercapai..

Aku menggirisi manusia di cermin itu. Seperti bunga layu, kusam sekali. Lalu air asin itu membuat parit -lagi. Aku tak kuasa menahannya. Setetes. Dua tetes. Dan stop, berhenti di situ. Secarik garis melengkung di sudut bibir. Menyungging perih dalam senyum getir.
"Lemahnya kamu...!?"
Namun salah satu diriku mengelak, "No, I'm not!"
Dustakah? Entah..
Aku menangisi diri yang sedang menguatkan hatinya.. Bodoh? Entah..

Aku. Aku, amat, sangat, membutuhkan, tempat cerita. Aku ingin sekali, menumpahkan segala gulana ini. Aku ingin didengarkan!


Dan letak kejahiliyahanku itu, ada pada 'waktu yang kusiakan'. Saat di mana aku menunggu untuk berjumpa dengannya. Waktu itu terasa amat menyiksa. Aku ingin ia mengetahuinya! Aku ingin ia mendengarkannya, mendengarku! Aku ingin, tetapi bahagiaku membungkamnya..

Di kala saat-yang-ku-tunggu itu datang, entah sihir apa yang ia gunakan, membuat desak hatiku tertahan. Aku tak ingin hari itu terkacaukan! Oleh sebuah keluhan, yang tertanam..

DAN! Saat tiba waktunya bagiku 'tuk berpisah lagi, rasa itu, dengan nistanya, KEMBALI! Rasa membutuhkannya, menginginkan untuk didengarnya, dan selalu dekat dengannya..

Sepekan lebih memendam pedih. Menahan risih. Namun ketika waktunya tiba, lidahku hanya tertatih, mengeja letih. Tidak! Aku tidak ingin mengumbar sedih. Tidak! Yang kubutuhkan kini adalah kadar bahagia yang lebih! Seperti saat bersamanya..
Seperti saat di dekatnya..

Cukup sudah kuhabiskan uang sakunya untuk membayar tebusan pembebasan sahabat bisuku. Cukup sudah kugagalkan rencana yang biru itu. Kini semua kelabu..
Kelabu sebab aku!


Ah, sudahlah!
Mungkin lain kali..
Lebih baik aku kembali berkutat dengan fisika yang menuntut ini. Atau, list penatku bertambah..
Argh, lelah! (~.~")

Tidak ada komentar:

Posting Komentar