Minggu, 09 September 2012

ஐஐ Kisah Lebah& 2 Bunga ஐஐ

Hei, lihat! Bunga itu rapuh sekali. Rupanya ia sekarat. Ia mulai layu. Beberapa rantingnya pun telah lapuk dan membusuk.

Bandingkan dengan bunga yang ada di sana. Iya, yang berwarna oranye itu. Ia tampak bahagia. Secerah senja menyorotinya. Di atasnya, seekor lebah madu terbang menggoda. Mendengungkan sayap-sayap mungil di punggungnya. Bercanda-canda. Bersulam mesra dengan sang bunga. Bunga oranye.

Melihatnya, si bunga layu tadi ternyata iri. Kenapa tak ada lebah lain di padang ini? Kenapa hanya lebah itu sendiri? Kenapa?! Kenapa!?


Matanya nanar. Ingin menangis. Tapi, hei bukankah bunga tak memiliki kelenjar air mata? Oh, mungkin itu sebabnya ia layu. Sedikit demi sedikit, air dalam tubuhnya menguap. Hingga -nyaris- habis. Dan mati.

Tapi entah? Sebenarnya ia terlalu rapuh atau terlalu tangguh? Terlalu rapuh saat duka mengecupnya. Dan terlampau tangguh saat ia mencoba untuk 'berani' bertahan. Padahal hatinya sendiri..., penuh dengan luka..

Atauu, itu hanya perasaanku saja? Atau perasaannya? Aku tak mengerti. Aku hanya pengamat di sini. Wajar jika susunan kataku objektif. Namun opini itu berdasar penglihatan subjektif.

Kini dengarlah! Angin mengirim jeritan sukmanya. Mengisi celah-celah udara. Mememuhinya dengan sumbang tangisnya. Ia pun ingin lebah itu. Lebah itu dulu selalu terbang di sisinya bercanda dan membalut lukanya. Luka yang tercipta akibat ulah lebahnya dahulu...

Kini bunga itu sendirian. Kini bunga itu kesepian. Bunga oranye tumbuh di padang yang sama tempatnya berpijak. Bunga oranye yang -mungkin- dirasanya sebagai pelaku pembunuh semangatnya. Bunga oranye yang merenggut perhatian si lebah. Lebah yang selalu menjadi kawannya. Yang selalu menjadi temannya. Yang selalu menemaninya. Namun sayang, konteksnya berbeda. Lebah itu hanya akan terus dan terus menjadi temannya. Hanya temannya. Tapi kenapa? Bukankah lebah itu menyukainya? Bukankah lebah itu selalu ada di sisinya? Bukankah mereka telah lama bersama-sama? Kenapa tega meninggalkannya? Membiarkannya sendiri dengan pergi ke taman di seberang? Ke tempat di mana bunga oranye itu tumbuh dan bermekar. Apa bunga itu lebih menarik? Lebih maniskah madunya? Lebih harumkah wanginya? Apa yang membuatnya migrasi? Sekilas tak nampak kulihat beda kedua bunga? Tak ada yang lebih indah, lebih cantik atau lebih wangi. Keduanya sama saja bagiku. Lantas apa alasannya?

Itulah yang sampai saat ini tak kumengerti. Dan -sekali lagi- aku hanya bisa menyaksikan. Hingga konflik dalam cerita ini padam.

Tapi rupanya narator berkata lain. Argh! Seperti sinetron saja! Tak ada habisnya!
Aku mulai muak,-

Hei Tuan Lebah! Kulihat kau tinggalkan bunga itu. Kenapa?! Apa kau membencinya? Tidak? Lalu kenapa? Kau bosan? Kupikir kau menyukainya. Tapi ternyata tidak. Baiklah, biar hatimu yang bicara. Jika memang seperti itu ucapnya. Aku bisa apa?

Jadi, bunga oranye itu yang kau suka? Apa kiranya yang istimewa darinya? Tidakkah ia sama saja? Hei kau, Tuan Lebah? Kenapa kau diam saja!? Jawab aku! Atau..
Ah, lupakan saja. Tak ada yang berhak kulakukan. Ini kisahmu. Kisah milikmu. Yaps.. Lanjutkan saja celotehmu. Aku akan simak. Aku akan dengarkan..

Kini kulihat kau semakin bahagia. Pancaran sinar terang dari wajahmu ceritakan semua. Tentang berakhirnya pencarian akan bunga-bunga pengisi dahaga. Kini kulihat kau telah temukan ia. Bunga yang kau damba. Kuharap kalian bahagia seterusnya. Dan memang, saat kucoba sesap madunya, lidahku meronta-ronta. Ia mengaju pinta. Ingin lagi. Lagi. Dan lagi. Aku jadi bingung sendiri. Bunga apakah gerangan namanya? Hening. Tak ada suara. Yaa, mungkin Tuan Lebah telah menjawabnya. Namun tentu saja, aku tak paham bahasanya. Maka, kutinggal saja mereka. Biar berdua. Menjamu ceria.


Satu pekan kemudian. Kulihat bunga oranye itu tak secerah hari-hari sebelumnya. Ia tampak lesu. Kelopaknya kusam. Warnanya seakan memudar. Ternyata, aku melewatkan banyak hal..
Aku sungguh menyesal..

Kuhampiri si bunga oranye dan mencoba pecahkan sendiri teka-teki. Apa yang sebenarnya terjadi?!

Teliti, kuamati. Apa yang kurang di taman ini. Aku gundah. Memang, kurasa ada yang hilang, tapi tak tahu apa?! Aku pun mulai menyerah.
Aku berjalan ke ujung pagar, tempat dimana tersedia keran dan selang. Kunyalakan, lalu kugantung di atas puncak sang bunga.
Biar.. Biar ia segar lagi..

Aku masih tak habis pikir. Ia kini menyentuh putih. Sang Surya pun tak banyak membantu. Ia mulai mengenal layu!
Oh God!

Aku mengais asa dengan tetap mendatanginya. Setiap hari. Menyiraminya. Bercerita tentang Cinderella dan Ibu Tirinya. Shrek dan Viona. Juga Aurora.

Hingga suatu hari kudapati Tuan Lebah sedang hinggap di taman sebelah. Ia mendarat menghisap madu di bunga yang dulu layu itu. Kakinya tegap dipijakkan agar serbuk-serbuk sari kuat menempel disana. Untuk dibawanya terbang ke angkasa. Melemparnya, ke bunga kecil di sisi kanan..
Oh, aku mengerti. Ia sedang membantu bunga itu agar kelak tak pernah mati! Ya! Begitu! Tak salah lagi!

Sejenak kupikir, itu memang perbuatan mulia. Tapi lantas tak jadi! Bagaimana bisa dikatakan mulia jika ia sampai melupakan bunga tambatannya?! Tanpa kabar sama sekali! Jelas saja, sekadar kembali pun ia tak pernah! Lupakah ia?

Tanpa ba-bi-bu kusemprot air ke arahnya. Untung saja, selangnya cukup panjang menjangkaunya. Huhh! Maaf ya, Tuan Lebah. Tapi kurasa kau -mungkin- memang pantas mendapatkannya.

Lihatkan? Keesokan harinya ia kembali ke pelukan bunga oranye. Aku lega, untung saja sang bunga masih menyimpan tegar di dadanya. Meskipun aku tahu, bukan tak mungkin, madunya kini mulai masam?!

Dan mereka berdua kembali seperti dulu. Sang bunga yang tadinya sudah menyentuh putih, kini kembali pancarkan asanya. Kian marun bahkan, jingganya. Aku turut bahagia..


Keesokan harinya, di serambi rumahku. Sepotong waffle hangat, baru saja diguyur saus coklat oleh ibuku. Berteman secangkir susu panas, aku dipeluk sweater. Memandang langit yang mengumpat senja. Menggantinya dengam kumulus gulita. Membuang rintik titik air, buas. Seketika, aku merasa ada yang terantuk di hatiku. Untuk se-per-sekian detik, yaa memang, cukup mengganggu. Tapi sudahlah. Kutepis saja.

Keesokan paginya, kulihat si bunga oranye melemah lagi. Tangkai hijaunya menghitam. Dan membungkuk. Mungkin ia terlalu lelah menopang sang bunga. Tapi ini sungguh aneh. Kelopaknya masih segar. Seperti biasa. Oranye dan ceria. Kenapa bisa? Berbanding terbalik dengan tangkainya? Entahlah. Yang penting ia tetap hidup dan pondasinya baik saja..

Dan. Hei! Tiba-tiba, hujan datang lagi menghantam ubun-ubunku. Dan pada detik selanjutnya, aku mendengar isakan, “Ia pergi lagi.. Ia pergi lagi.. Hiks.. Hiks.. Hiks..”. Rupanya bunga itu bicara padaku. Parau. Penuh siksa dan derita. Aku langsung tahu apa maksudnya? Si Lebah sedang di taman sebelah! Ya, begitulah kira-kira.

Jadi, selama ini hujan lebat yang mengguyur desaku adalah sarana penyalur derita Nona Bunga? Ia selalu terlihat bahagia di muka. Padahal, jauh di dalam tangkainya ia terkikis rapuh dan terluka. Ia sejatinya sangat tersiksa. Dan -lagi- aku tak tahu apa yang harus kulakukan?! Hujan pun rupanya tak mempan disuguhkan padanya. Ia hanya bisa menangis di dalamnya..
Sedih aku dibuatnya..


Dan begitulah, rupa siklusnya. Tuan Lebah, akan tetap kembali pada bunga oranye pujaannya. Juga kembali..., kepada bunga layu di seberang sana. Menjaganya agar tetap hidup dan membagi secercah ceria.

Beruntung, bunga oranye itu melebarkan daun pengertiannya. Ia melatih kekuatan demi kekuatan yang terpendam dalam serabutnya. Agar tetap gagah berdiri, meski badai menghampiri. Ia mengerti, kebutuhan bunga di seberang sana. Tentunya pukulan besar akan mendarat di lubuknya jika bunga itu mati sia-sia. Sedih pun pasti menyapanya. Maka ia putuskan untuk 'rela' meminjamkan lebahnya, demi kelangsungan hidup bunga yang layu tadi.. (sekalipun ia tahu, bunga itu sangat menyukai dan menginginkan lebahnya..)



~ b e r s a m b u n g ~



Aku masih belum tahu, seperti apa dan bagaimanakah akhir dari cerita ini nantinya? Karena, memang, ceritanya belum berakhir. Hanya panjatan doa yang senantiasa kulafalkan. Berharap kutemukan akhir yang bahagia. Untuk semua. Baik kepada Si Bunga Layu, dan tentunya pada Bunga Oranye dan Tuan Lebah..

s e m o g a . . .









Gunung Sindur,
Sabtu, 23 Juni 2012
12:12 p.m

Tidak ada komentar:

Posting Komentar