Selasa, 07 Agustus 2012

Ikhtisar Rindu

di gelap malam
relung yang kesepian ini rasakan pedih
lama jiwa tak bersua
sudah lebih dari rindu mungkin kastanya
lebih dari parah
lebih dari perih

aku mencari-cari
sebuah tiang penopang diri
yang selama ini selalu setia menjadi sandaranku
menjadi panutan bijak wibawa penuntun rapuhku

dan
tepat ketika lonceng berdentang tengah malam
aku masih berjaga,
menanti
‘siapa tahu’ kau nekat kemari?

entahlah
mungkin harapanku terlalu tinggitapi benar saja
sesuatu datang padaku
aku terus dan terus menerka genusnya
namun ternyata,
ia bahkan tak memilikinya
lalu harus disebut apa,
makhluk ini?

sementara kegundahan menertawai risauku
tiba-tiba ia datang dan mendekat
apa reaksiku?
tentu saja gemetaran!
percayakah?
roma-romaku serentak bergetar!
m e r i n d i n g
takut? ya!
tak dapat kusangsikan lagi bahwa memang,
aku takut

namun layaknya ibu peri di negeri dongeng
kulihat wajahnya teduh dalam diam
aah, tetap saja tak pasti
sehelai kain tipis menutupi sebagian kepala serta wajah
aku semakin penasaran

lalu,“aku adalah utusan dari pria yang merindukanmu, nona
ia bilang, maaf tak bisa selalu hadir dan menemani nona
ia juga punya hidup dan kehidupan yang harus dijalankan
pikiran serta hatinya tidak bisa selalu tertaut pada nona
ia pun punya keluarga, sahabat juga cita-cita
pun ia rindu dengan nona,” serunya panjang lebar
aku tersentak, terenyuh
kemudian mengambil jurus diam seribu bahasa
aku..    m a t i . r a s a !

hening.
tak ada yang lain
tahu-tahu pipiku basah
hei, sejak kapan parit itu disini?!

dengan gerakan yang bisa disebut, refleks
makhluk misterius tadi mulai bergerak
mengangkat tangannya perlahan
mendarat di hanggar tepi paritku
menghapusnyaa...

“aku tahu nona
maaf bila tutur kataku menyakitimu
jangan bersedih nona
ini bukan perpisahan
ia hanya ingin bersikap arif dalam pertempurannya membagi waktu
percayalah, tak lama lagi ia akan berlari kesini mendekap dan menenangkan nona,” hiburnya

sejurus kemudian aura lembutnya memelukku
ini.. ini seperti aura kekasihku

~ dan tangisku semakin menjadi ~

dadaku terasa sesak!
t e r a m a t . s e s a k !
remuk seluruh iga dan tengkorakku
aku menjerit
sakit sekali rasanya
kalian tahu
ternyata di balik sayap-sayapnya yang mendekapku
terdapat ribuan pisau-pisau tajam yang baru diasah
dann
jangan tanya bagaimana rasanya!

entah bagaimana caranya
seketika semilir angin sejuk mengusap lukaku
memang sulit untuk segera sembuh
namun setidaknya
ia membuatku-sedikit-lebih tenang

membuatku merasa `nyaman` dipeluk malaikat rindu utusannya
sekalipun pisau dan belati itu hadir di balik sayapnya

setidaknya kini aku mulai paham
dekapan itu juga diperuntukkan sebagai pesan atas kehampaan rindunya padaku
serta makna di balik pisau dan belati tadi
adalah sebagai sinyal betapa ia nyaris kelantih akan seonggok rindu
rindunya padaku
maka biar kunikmati hangat ragamu
sekalipun harus kurasa deraan derita
sekalipun sebatas dekap fana malaikat pembawa pesan cinta

maafkan aku
yang telah lancang
membuat jarum rindu bersemayam di sukmamu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar