Minggu, 13 Mei 2012

Hujan Punya Cerita Tentang Kita-Part III

Siapa tahu aku lupa, namamu kutulis di langit senja. Siapa tahu aku lupa, langit senja yang penuh goresan namamu kulipat, kusimpan erat-erat. Tidak disini, tidak! Namamu kusembunyikan dalam-dalam, dalam hatiku. Siapa tahu aku lupa, namamu ada di hatiku. 

Kau bilang suatu hari, “Terima kasih telah menyimpan namaku, tapi boleh tidak kuambil kembali namaku dari hatimu?” 


Kubilang di suatu hari yang sama, “Kau pikir hatiku tempat penitipan barang?”


Kau pikir demi hati siapa hatiku menyisakan ruang selama bertahun-tahun? Yang kulakukan hanyalah menyimpan sebuah nama dalam langit senja, apakah itu masih terlalu banyak untukmu?

Aku tak pernah meminta, bahkan sedikit saja dari hatimu. Tak pernah! Dan tak akan pernah! Masih selalu tinggi. Hati yang sangat tinggi! Terlalu tinggi!?
 

“Hatiku tak pernah bisa menyamai tingginya hatimu…” katamu kemudian. Mungkin!?
Kau tak tahu saja, hati yang sekian lama menyimpan langit senja dengan sebuah nama, bukanlah hati yang luas. Sulit untuk bernapas!
 

“Karena itu, biarkan aku bawa saja langit senja itu ya?!”
Langit senja yang penuh nama. Satu nama yang sama. Yang kulipat, kusimpan erat-erat. Hanya jika aku lupa, baru akan kubuka. Itu saja yang kupunya. Akankah itu juga kau bawa?
 

Jiwa ini pernah jatuh cinta, cinta sepenuh jiwa. Tapi akhirnya malah sakit jiwa. Yang tersisa tinggal hati. Maka jangan biarkan aku sakit hati!
 

Rasanya tak ada yang bisa kau lakukan selain membiarkanku menyimpan langit senja di sudut hati yang semakin rapat tersekat.
 

Kubilang, “Aku yang menggoresi langit senja ini dengan sebuah nama, maka aku juga yang akan menghapus nama itu dari langit senja yang sama.”

***

Hari-hari selanjutnya, aku terlalu giat menghapus cepat-cepat langit senja yang penuh nama.
Siapa tahu aku lupa, langit senja tak selalu perlu sebuah nama.
“Apa yang kau lakukan?” ujar senja.
“Menghapus nama. Tak bisa kau lihat?” jawabku.
“Tapi kenapa?” ujar senja lagi. Aku tak menjawab.
Langit senja tampak muram, lalu katanya, “Tahukah kau, aku merasa nyaman kau sapa dengan nama itu.”
“Kau hanya perlu pembiasaan,” jawabku.
Dan dalam dua hari saja langit senjaku tak lagi penuh dengan namamu. Tapi, ada yang tak biasa. Ada yang tak ada!


***

Tak butuh waktu lama bagiku. Menyadari ada yang hilang dari senjaku. Sesuatu yang tak ada. Sesuatu yang penting. Namun ia tak ada! Layaknya burung yang kehilangan sayapnya, ikan kehilangan insangnya. Dan senjaku, kehilangan jingganya!

~ semua kelabu kini ~


***


Selama beberapa hari kemudian, aku berdiam. Menyendiri. Mencoba mencari dimanakah jingga itu?!
Hingga akhirnya aku paham, jingga milik senjaku hilang terhapus bersama nama itu. Nama indah itu.
Dengan menggenggam pena, kubentak penghuni langit, “Minggir! Minggir! Enyahlah kalian sebentar wahai burung. Aku ingin menulisnya kembali. Aku ingin jinggaku kembali!”
“Kenapa gadis ini?” bisik salah seekor. Ah! Persetan dengannya, aku hanya sebentar, pikirku.
Dan begitu selesai, tiba-tiba hujan pun turun. Mengguyur debu sukmaku. Nyesss..
“Moi je t'offrirai
Des perles du pluie
Venues de pays
Ou il ne pleut pas
Je creuserai la terre
Jusqu'apres ma mort
Pour couvir ton corps
D'or et de lumiere
Je ferai un domaine
Ou l'amour sera reine
Ou l'amour sera loi
Ou tu seras roi
Ne me quitte pas...

I will give you
Pearls of rain
Coming from countries
Where it doesn't rain
I will dig the earth
Until I die
To cover your body
With gold and light
I will make a realm
Where love would be queen
Where love would be law
Where you would be king
Don't leave me...”
Suara apa barusan? Merdu sekali, batinku.
“Hai Nona! Bagaimana kabarmu? Kudengar kau merindukanku. Benarkah itu?” suara itu menyapaku. Ramah.
“Senja? Kaukah itu? Kemana saja kau selama ini? Aku merindukanmu, kau tahu?!”
“Aku? Aku tidak kemana-mana, manis. Aku masih tetap disini. Aku hanya istirahat sebentar, dan mega-mega kelabu berbaik hati menggantikanku sementara. Sudahlah, tak apa. Aku mengerti.”
Nada bicaranya lembut sekali. Melenakan. Menghanyutkan. Lantas kulihat ia perlahan tersenyum. Warna-warni. Mejikuhibiniu. Berlapis-lapis saling bertumpukan, melengkung. Mengulum rinduku. Menggantinya dengan deru-deru haru. Dengan isyarat yang tak terbaca gerak bibir, aku menangis dalam hati. Menyesali perbuatanku yang bodoh itu!
“Maafkan aku, senja” ucapku lirih.
“Tak apa, aku mengerti.”

Seketika aku merasa hal yang hilang itu, kini kembali. Dan hal itu, akan kujauhkan sejauh-jauhnya dari karet penghapusku!

14 komentar:

  1. woooo...ga ada yang versi indonesia?heheheeee

    BalasHapus
  2. hujan. satu kata penuh makna...memang

    BalasHapus
  3. untung aja ya di dunia semua orang sepakat bahwa senja itu berwarna jingga, dan gua nggak pernah ngebayangin gimana jadinya ketika senja itu diamatin sama orang buta warna, pasti postingan ini begitu aneh baginya hehehe, tapi keren kok namanya sampek kecantol di langit gitu

    BalasHapus
  4. mba diikutkan lomba cerita hujannya gradien aja...

    BalasHapus
  5. Hmmm setuju ama mbak rahmi. Diikutin lomba cerpen hujan aja.. Searching di google gt utk infonya. Cerita hujan gradien..gitu.
    Deadline februari klo gak salah :-)

    BalasHapus
  6. Saya punya banyak cerita tentang rinainya hujan. Tapi juga, hujan punya banyak cara untuk membingkainya, hanya, sebagai figuran, kenangan.

    BalasHapus
  7. itu openingnya keren mbak kata2nya, pengalaman atau ngarang ?

    BalasHapus
  8. bagus nih ..
    novel jingga dan senja juga ada ..
    karya esti kinasih .. :D

    semoga bisa dibikin novel nih cerita :)
    sesukses esti kinasih ...

    BalasHapus
  9. di artikan dong mbak hoho nggak ngerti artinya yg atasnya basa inggris

    BalasHapus
  10. tulisannya super sekali, saya menyukai ini karena saya penikmat hujan .

    BalasHapus