Jumat, 21 Juni 2019

Ukhtifillah

Harusnya kemarinnya kemarin saya bisa liat pengumuman kelolosan sesuatu. Qadarullah diundur sampai waktu yang belum ditentukan. Tapi coba tebak siapa yang degdegan? Jelas bukan saya, haha.

Orang ini, dengan terang-benderang bilang kalau dia sedih sampai becek-becek tapi saya nga peka. Dia tanya, jadi gimana? Cuek-bebek saya bales, "Lah iya, belum ngecek, ampe lupa. Aduh, degdegan," Wk.

Lalu ia lempar pertanyaan yang (sekarang) saya yakin, baginya terasa pedih, "Kalau lolos, berarti ga jadi bisa nemenin ke sana, ya?" Terus saya disuru buru-buru ngecek.

Selasa, 05 Februari 2019

Prioritas Siapa?

Lelahmu jadi lelahku jugaBahagiamu bahagiaku pastiBerbagi; takdir kita selaluKecuali tiap kau jatuh hati–Malaikat Juga Tahu, Dee 🍃

Prioritasmu bukan prioritasnya. Lalu mengapa? Bukankah berlaku pula demikian? Lantas mengapa?

Jangan sedih, jangan kecewa. Mari insyafi bahwa dengan mengingat-Nya, hati jadi tenang dan sahaja. Mari tegaskan bahwa dengan yakini-Nya, semua akan baik-baik saja.

Jumat, 01 Februari 2019

Kalau Tak Terbalas Jangan Terhempas

"Kalau tidak terbalas jangan terhempas," pesan kakakku. Dulu aku memaknainya sebagai tulisan yang keren saja. Penuh hikmah dan ibrah. Kata-katanya bernas membuat tulisan seakan bernafas.

Dulu.

Kamis, 31 Januari 2019

Ditinggal


Dintinggal tuh rasanya gimana, menurutmu? Biasa aja? Sedih sebentar? Atau sakit banget?

Kalau saya . . .

Pernah ditinggal siapa aja? Keluarga pulang duluan? Temen lulus duluan? Mantan move on [hijr] duluan? Cemceman nikah duluan? Hiya, hahaha.

Kalau saya . . .

Sayonara, Ayah 🍃


Kamu pergi, ke tempat di mana tidak ada saya. Tak apa, luka semacam yang kamu buat ini ringan saja. Sebab saya telah kamu ajarkan kuat sejak tangis pertama. Pun saya tak menyalahkanmu, tepatnya tak mampu. Lagipula, memang bukan salahmu.

Kamu tak perlu khawatir, saya akan belajar tegar dan mandiri setiap hari. Saya akan mendoakanmu setiap menjelang pagi, menyapa Ilahi supaya hanya sebaik-baik tempat untukmu kembali. Saya akan terus memasak dan membuat kue dan menghiasnya dengan hati, untuk setelahnya dibagi-bagi. Saya akan kerjakan tugas dengan segera supaya hasilnya seperti yang kamu kehendaki. Kepada kawan, saya tidak akan lagi-lagi memaki. Kepada bunda, saya tak akan membuatnya berperih-pedih. Kepadamu, dengan dan demi ridho-Nya, saya berjanji jadi yang berbakti.