Rabu, 26 April 2017

Berjuang Masa Gitu

"Udah di TKP,"
"Di Kantin F?"
"Y,"
"Temen-temen kelompoknya?"
"Nggak ada, belum ngomong,"
"Ish, ngomonglaah,"
"Nggak ah,"
"Nggak berangkat-berangkat dong,"
"Pulang ah,"
"Makanya hubungi anggotanya, suruh cepetan,"
"Nggak bisa dihubungi,"
"Yap, dia hpnya mati. Yang lain?"
"Udah, nih,"
"Udah komplit? Coba kirim ke grup,"
"Aduh masa foto akhwat, sih,"
"Ah, iyaa, zzz. Yodah, bukti lainnya deh,"
"Lama. Kalo nggak kita balik, nih,"
"Buktinya dulu, pak,"
"Ane balik duluan, yaa,"
"Berjuang gitu banget. Yang bikin lama kan kalian kalian juga,"
---missed voice call---
---missed video call---
"Dimana?"
---missed voice call---
---missed video call---





***

"Baru bangun lagi masaa wkwk,"
"Ihhh, awaannn,"
"Masih lama, kan, acaranya? Baru mau mandi, nih?"
"Haih, haih. Lamaa, sih, tapi ngzln, hhh,"
"Wkwkwk, baru beres mandi sekarang,"
"Hadeeh, tiati, dah. Naik apa?"
"Naik motor. Kalian pada di mana? Di mananya?"
"Titik kumpulnya kampus timur, wan,"
"Iya, kampus timur di mananya? Awan nggak pernah ke kampus timur soalnya,"
"Dih, dulu pas ospek itu, opening,"
"Di velo? Taunya velo doang, wkwk,"
"..."

Senin, 24 April 2017

Dari Topeng ke Topeng

Bukan aku
yang kau elu-elu itu
Itu bukan aku
Kau hanya tertipu elok topengku

Sampai di sini yang harusnya paling pertama dan kurapal berulang adalah hamdallah. Syukur alhamdulillah, Allah Maha Baik, masih tutup aibku. 

Usiaku akhinya menginjak angka 21 pada akhir bulan ini. Dan aku sering mengingat bagaimana masa-masa muda madu di kampus kujalani hingga sampai di titik ini. Ada begitu banyak (perih)hal yang kusyukuri, dan tentu saja kusesali. Tapi setidaknya aku kini punya pandangan bahwa; apapun yang sudah terjadi, tidak perlu lagi disesali sepanjang sudah mengikhtiarkannya semaksimal mungkin sampai batas yang kubisa.

Kenyataannya memang demikian. Tidak segala hal yang kita inginkan pada masa-masa life crisis akan terwujud. Dan itu jangan menjadi sesal, caranya tentu dengan memperjuangkannya terlebih dulu sampai di titik batas; mastatho'tum, katanya. Bagaimana kita tahu batasnya? Ya dengan memperjuangkannya! Karena itu tidak bisa diterka, juga tidak ada panduannya. Yang bisa merasakan batas itu adalah diri kita sendiri!

Hari ini, kita berjuang tertatih sambil dipertontonkan kenyataan paling memilukan menurut sebagian besar orang hari ini: feeds instagram. Satu hal yang perlu kita pahami benar, bahwa ukuran kita tidak akan pernah sama dengan ukuran orang lain. Masa lalu, perjuangan, dan tujuan kita pun begitu. 

Perjuangan kita semakin rusak kemurniannya karena terpukau dengan apa yang tertampil di sana. Perjuangan kita semakin meresahkan karena seolah-olah tak pernah sampai, seperti apa yang kita lihat di orang lain. Tujuan kita menjadi tidak lagi murni, karena sejatinya perjuangan itu tidak perlu ditampilkan, apalagi diberitakan ke seluruh penjuru dunia. Hidup kita semakin tidak tenang karena rasa syukur kita semakin hilang, kita sibuk membandingkan dan memercik kagum dengan apa yang dicapai orang lain. Padahal...

Minggu, 22 Januari 2017

Aku Suka Caramu 💕

“Yang nggak siap itu, bertahan demi kamu,” katamu.

Aku ingin sekali tetap di sisi tanpa menyulitkanmu. Tapi itu barangkali membingungkan-Nya. Kerap aku minta untuk diberi kesempatan lagi atau mungkin perpanjangan hari, agar yang lalu-lalu bisa kuperbaiki. Sambil menimbun serpihan hikmah dan memanen manisnya ukhuwah, bisa jadi.

Jumat, 20 Januari 2017

Mari Lakukan Lagi!

Lihat, aku berhasil mendapatkan stok terakhir note yang mirip punyamu, Kak! Tapi belum sempat pamer.

Foto Nur Aini Nilam Sari.

Terima kasih telah menyapa, meskipun belum benar-benar jumpa. Terima kasih telah menguatkan, meskipun belum benar-benar bersuara. Hadir dalam bentuk lain sua. Mampir dengan wajah lain cinta. Mengecup rindu yang menganga. Tapi skenario ini, aku suka 💕

Senin, 02 Januari 2017

[1/...] Hai, Apa Kabar?

Ada banyak warna baru yang memejikuhibiniukan hidup, atau setidaknya diri ini belakangan. Aku harap kita bisa lebih banyak bercerita –kalau memang akan ada pertemuan selanjutnya. Kamu akan tahu mengapa aku kelihatan lebih kurus, lebih hitam, lebih suka kopi, tapi lebih suka tidur juga. Kamu akan tahu mengapa aku tidak lagi terlalu suka laut yang dulu kuanggap penawar keributan di dada, tidak lagi terlalu suka ngutak-ngatik tools di photoshop atau sedulur-sedulurnya, tidak lagi terlalu suka dengan apapun yang kalau dibahas kesannya jadi sendu. Kamu juga akan tahu kalau sekarang aku punya bekas luka di muka.

Aku juga berharap kamu kembali punya lebih banyak waktu untuk akhirnya membiarkanku jadi pendengar setiamu bertutur. Atau sekadar meladeniku melantur. Mengetahui apa-apa saja yang telah berubah darimu, dari hidupmu, dari sesuatu yang entah apa dan bagaimana bisa begitu ajaibnya membuatmu wush ~ dissappear